NABI YANG MEMBUMI

NABI YANG MEMBUMI

Bila menjabat tangan seseorang, Nabi SAW tidak pernah melepaskan tangannya lebih dahulu.
(Imam Shadiq).

Bila berjalan, Nabi SAW tak pernah menyeret kakinya.

Bila berbincang dengan seseorang, Nabi SAW menanggapinya sepenuh hati hingga setiap orang merasa mendapat perlakuan khusus.

Bila sedang duduk bersama seseorang, Nabi SAW tidak bangkit lebih dulu.

Bila dihampiri sesesorang, Nabi SAW tidak duduk tapi bangkit dan menyambut.

Bila dipanggil seseorang, Nabi SAW tak menoleh tapi membalikkan seutuh tubuh menghadapnya.

Bila tamunya hendak pulang, Nabi SAW mengantarkannya hingga ujung lorong kampung.

Bila diundang jamuan, ia mengambil makanan yg terjangkau oleh tangannya.

Bila akan bepergian, Nabi SAW mengundang orang-orang miskin, janda-janda dan anak-anak yatim lalu meminta doa kepada mereka.

Saat makan sendirian dan bersama orang lain, Nabi SAW tak bersendawa dan tak bersuara bila mengunyah.

Nabi SAW tidak pernah memanggil seseorang dengan julukan jelek yang diberikan orang lain kepadanya.

Bila sahabatnya sakit, Nabi SAW menjenguknya meski tinggal di ujung Madinah.

Bila mengahidiri sebuah acara atau undangan, Nabi SAW tidak memilih/meminta tempat khusus, tapi duduk di barisan yang kosong.

Bila jadi tuan rumah, Nabi adalah yang terakhir selesai makan (agar tamu tak sungkan). Bila jadi tamu, pertama yang selesai makan.

Bila tiba waktu makan, Nabi SAW selalu mengajak siapapun yang melintas depan rumahnya untuk menjadi teman makannya.

Bila terdengar tangisan bocah saat shalat, Nabi SAW memilih surah pendek dan usai shalat bergegas merangkulnya.

Bila terhibur, Nabi SAW senyum dan tak pernah berbahak.

Nabi SAW tidur tanpa lelap.

Bila berbicara dengan banyak orang, mata Nabi SAW tak tertuju pada satu orang.

Bila menunggang kuda dan onta, Nabi SAW tak mencambuknya.

Bila orang miskin bertanya, Nabi SAW menjawab dengan cepat.

Di hadapan anak yatim (sekarang juga termasuk anak terlantar), Nabi bercerita jenaka.

News Feed