Nasib “Epistemologi”-ku

Sekitar tujuh tahun lalu saya diminta oleh seseorang menyusun sebuah buku modul yang merangkum tema-tema mayor infrasturktur pandangan dunia. Alhamdulillah, setelah melewati kira-kira empat bulan, buku yang cukup tebal itu sudah selesai ditulis. Pada bab pertama ada pembahasan seputar pengetahuan, mulai dari definisi dan macam-macamnya hingga polemik seputarnya, yang disebut dengan epistemologi.

Rupanya, saat dipresentasikan, teman kami, yang memang tidak akrab dengan filsafat, sangat tertarik. Selanjutnya dia mengcopy dan terus membahasnya.

Waktu berjalan, dan saya pun berpisah dengannya karena masing-masing sibuk dengan urusannya. Ternyata, epistemologi yang saya susun itu telah dimodofikasi dan disebarkan bahkan “diakuisisi” secara “diam-diam” lalu dijadikan sebagai “modal” training dan kajian-kajian di sejumlah orang yang konon telah dididik oleh teman saya itu sebagai trainer. Konon “demam epistemologi” mulai mewabah dan menjangkiti banyak kalangan yang terkesima dengan sistematika pembahasannya.

Melihat fenomena diatas, saya senang sekaligus sedih. Saya senang karena hasil kerja keras saya membuahkan manfaat bagi pencerahan sekaligus “rezeki” buat sekelompok orang yang menjadi pengajarnya. Saya sedih, karena saya merasa tidak diberitahu tentang nasib epistemologi yang saya tulis dengan susah payah itu.

Saya khawatir ada penambahan dan perluasan terhadap konten tulisa tersebut yang sangat mungkin mendistorsi atau bahkan mengeluarkannya dari anatomi epistemologi. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena saya mulai mendengar hal-hal yang menggelikan seperti, dimasukkannya pembahasan non epistemologi dalam arena epistemologi. Memang tidak diharamkan oleh agama, tapi saya khawatir itu dianggap sebagai bid’ah intetelktual yang dinisbatkan kepada saya, apalagi tidak dapat manfaat profitnya… he he….

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 comments

  1. Salam yaa Ustad , kok yo0oo tego-tegoneee konco ikhwan lagi ?
    mungkin di dalam hatinya teman antum , bilang ..ah semua ilmu adalah milik Allah SWT , jadi syah2x saja ……., gimana Hukum Fiqihnya Ustad ?

    Sebab afwan ana juga kadang-kadang lupa kasih source website antum , saat mengcopy ilmu samudra antum di sini ?

    Afwan 3x hehehehe

    Gimana kakinya Ustad , sudah sembuh ? kalo masih kurang Oyeee , ke totok sayaf langganan ana , dijamin ..langsung tokcek Insya ALlah Ustad ? di cijantung ?

  2. SALAM BAGI SANG FILOSOF…
    BOLEHLAH FISIK MURIDMU DI ALASTENGAH BERSAMA SAPEH, AJEM, EMBIK BAHKAN OLAR….TAPI IJINKAN AKU JUGA MENIKMATI “NASIB EPISTIMOLOGIMU”! HOW CAN I GET IT?TELL ME IN THIS NUMBER 085258223679, BECAUSE MY E-MAIL WAS KLENGNGER…..

  3. Salam ‘alaykum. Apakah tulisan Pak Muhsin ttg epistemologi di atas sudah diterbitkan sbg buku? Apakah saya juga bisa mendapatkan softcopy dari naskah buku tsb utk pribadi saya? Jangan khawatir, Pak: tidak akan saya komersialkan; lagi pula, saya bukan seorang trainer, cuman seorang pertapa yg suka merenung 😀 Terima kasih bila saya bisa dapat softcopy-nya. Salam ‘alaykum.

  4. Hal biasa seorang guru/sumber yang salah dipahami, karena mainset2 yang beragam tidak sepenuhnya mendapat panduang dan bimbingan. anggap saja itu suatu pengembangan dari sisi lain…hehe..

    Mendingan antum masih hidup… dan punya kesempatan klarifikasi langsung atas karya anda yang salah dipahami… bayangin para pemikir yang sudah mangkat dan karya-karya mereka hampir tidak bisa dikenali lagi orisinalitasnya. bukan karena sudah jauh berkembang, tapi sudah jauh dari prinsip-pinsip esensial dari ide-ide yang dibentuk….

  5. Kayaknya sy tahu deh siapa orangnya……..Sabar ustadz, InsyaAllah dapat ganjarannya di dunia dan akherat atas jerih payah antum

  6. sebenarnya kalo kita mengharapkan penghasilan besar dari paten (hasil kerja keras kita sunguhan bukannya hasil membaca DNA yang merupakan karya Allah Swt) dan copyright itu halal apa nggak ya Ustadz? Kalo di Islam ada hukum yang mengatur ini nggak?

News Feed