Nasib Ilmu-ilmu Rasional…

Lihatlah di Gramedia dan toko buku lainnya. Hadirilah majelis taklim. Tema-tema yang disuguhkan dan digemari, umumnya cenderung ‘menghibur’ (bukan mengejutkan), lembut (bukan bergelora), dan mudah dicerna (baca: tidak didasarkan pada spekulasi rasional apalagi yang diperkaya dengan wacana filosofis). Agama dan Ilmu harus tunduk pada rezim pasar. Menyedihkan, tapi itulah fakta.

Alhasil, seiring dengan trend gaya hidup yang mengutamakan instan dan terpaket, tema ‘agar-agar’ menyingkirkan tema-tema berat, seperti pandangan dunia, teologi dan lainnya. Karya-karya pemikiran mendalam Muthahhari dan Muhammad Taqi Mishbah Yazdi kurang laku, bahkan kalah oleh buku-buku ‘asal nulis’ dan oplosan, yang mengedepankan kegenitan kata, warna-warna funky dan ‘toleransi’. Inikah kematian kedua filsafat sejak dekrit Ghazali?

Bukan hanya karya-karya filosof dan pemikir yang numpuk di gudang penerbit, para pelajar yang jungkir balik selama beberapa tahun menelaah karya-karya filsafat dan ilmu-ilmu rasional menjadi terpinggirkan, dan jobless. Tragisnya, itu terjadi dalam komunitas yang semestinya memperlakukan filsafat dan pemikiran logis sebagai infrastruktur keyakinan. Apa mau dikata? Jangan berharap ada undangan pengajian buat mereka yang mendalami wordview atau mengoleksi polemik para pemikir seputar ilmu hudhuri dan ittihad al-aqil wa al-ma’qul.

Tidak hanya kehilangan kesempatan untuk berbagi ilmu, mereka juga kehilangan percaya diri karena tidak mendapatkan apresiasi, bahkan kadang harus rela dicemooh dan dicibir, karena dianggap ‘sok filosof’. Apa mau dikata? Inilah realitas compang camping. Retorika lebih diminati ketimbang silogisme… keteduhan dan kelembutan tutur tentang metode praktis “meraih cinta Ilahi” , tips-tips “mengenal ayat-ayat cinta” dan sederet aksara yang adem lebih mempesona ketimbang epistemologi, ontologi dan teologi yang dibangun di atas postulat-postulat swabukti.

Targedi telah berjalan dan mencapai titik terendah sekarang. Apa mau dikata? Tak kenal, maka tak sayang… Filsafat itu susah.. Filsafat itu melelahkan… Itu kata mereka.

Selamat tinggal…….!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 comments

  1. kalau di China, di pameran buku, justru buku2 sains yang laku lho pak. kalo disini memang buku2 cerita yang santai yang laku. menurut saya mending pemikiran filsafatnya dikemas dalam novel atau bacaan segar aja, kan banyak novel yang seperti itu. Bahkan penulis2 Indonesia sekarang sudah mulai berkembang. Dengan membacanya kita mendapat banyak wacana.

  2. Sebenarnya harus berimbang antara yang meresahkan pikiran dan yg ngademin hati. Memang zaman sdh berubah, yang sunni dan yg syi’i sama2 gemar yg adem2. Pada cari penyejuk mungkin sudah banyak kepanasan.

    Apa ini tanda kemunduran dlm segala aspek: hilangnya kebahagian RT, keresahan ekonomi, hilangnya semangat juang, dll.

    Kl ini yg sedang terjadi, maka akan seperti kata orang Madura:
    “Anekah padeh ban nyaba’ tolor neng batton”, gurunah ban mureddah padeh ja’genjil.

    Tapi biarlah, mungkin mereka sedang kepusingan, yang kaya pusing dengan kekayaannya, yang miskin pusing dg kemiskinannya, dan ustadznya kehabisan energi utk memotivasi murid2nya.

    Wahai sdr2ku sebnrnya Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa) telah berpesan pada kita semua utk menggerakkan perjuangan harus “Berbagi rasa dlm persaudaraan”, antara yg kaya dan yang miskin, antara pejuang dan penyandang dana. ini tersurat dan tersirat dalam “Rahasia Infak dan Sedekah”, yg ditulis oleh Allamah Muhammad Taqi Al-Mudarrisi.

    Jika sdr2ku ingin tahu detailnya, silahkan berkunjung ke:
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://shalatdoa.blogspot.com

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

  3. Makanya kalau saya berkesempatan menulis buku dan ada yang sudi menerbitkan, maka saya akan malu dan menggap gagal karya saya kalau sempat jadi buku best seller di Indonesia. Tau sendiri kan, buku yang gimana bisa best seller di Indonesia?

  4. apakah ini salah satu bukti bahwa bangsa kita Indonesia tidak suka dengan sesauatu yang sifatnya pemikiran yah, sehingga lebih suka yang ringan ringan saja

  5. sebuah kewajaran dalam ketidakwajaran. wajar jika kebanyakan orang berpendapat spt itu situasi yg tidak wajar. ini tantangan bagi para pemikir dan filsofof di indonesia utk bagaimana caranya membumikan ilmu-ilmu tadi agar menjadi ringan untuk di cerna. sekedar saran….

  6. Ust, saya sering merenung melihat suasana kampus, majlis pengajian, sunni atau syi’i. Mereka mulai jenuh pada pemikiran2 Islami yang dpt menggerakkan generasi muda utk tampil ke gelanggang perjuangan. Sementara As dan Zionis sdg gigih2nya persiapkan utk nerkam kepala umat Islam. Sedang Umat Islam, sunni atau syi’i, sdg asyik dengan air mata dingin yg hanya menangisi dirinya, egois dalam beragama. Tak pernah memikirkan missi ke depan, apalagi mau mikirin sdrnya dan para pejuang.

    Mana para pejuang syi’i Indonesia? yang katanya ingin menteladani Imam Husein (as) dan Imam Khumaini (RA). Mana semangatmu? Mana hartamu? mana darahmu? yg akan disumbangkan dlm perjuangan utk menjemput hadirnya Yang Mulia Al-Mahdi (as)

    Maaf Ustadz dan sdr2ku sy sering tanya pada aba sy kebetulan aba sy profesinya juga ust: Mengapa mental kebanyakan org syi’i tdk seperti ajarannya yang sy baca dari buku2 terjemahan. Mengapa para ustadznya tdk menciptakan pasar tersendiri, kok membuat produk sesuai dg permintaan pasar dan konsumen? yang menyenangkan jema’ahnya. Tidak menciptakan jema’ah seperti Hizbullah yang di Libanon.

    Ini blog aba saya:
    http://syamsuri149.wordpress.com
    http://shalatdoa.blogspot.com

    Wassalam
    Ifadah Amalia
    Mahasiswi TI Univ. Gunadarma

  7. Para Ahli Pemikiran harus punya terobosan dong….JANGAN MENGELUH… Coz kalo para ahli pemikiran mengeluh , bagi saya sama saja menutup kreatifitas pemikiran dari para ahli pemikiran….

    Para AHLI PEMIKIRAN jangan juga hanya sebatas di wacana dan teoritis saja tapi berusahalah MENGEJAWANTAHKAN hasil pemikiran ke dalam kehidupan bermasyarakat…

    Dan Hasil dari PEMIKIRAN para AHLI PEMIKIRAN tidak selalu harus diapresiasikan masyarakat luas kan? dan para ahli pemikiran pun mengharapkan panggilan taklim bedah pemikiran.

    COBA dong buat Terobosan buat menembuh pasar “Adem Adem” dan Nyalakan Semangat Kompetisi dong…. INGAT JANGAN BANYAK MENGELUH

  8. Tenang Ust dan para pejuang pemikiran Islam, ada saatnya insya Allah kita akan berkibar di Indonesia. Saya bersemangat menimba ilmu utk masa depan perjuangan. Sy sedang buat tim dan mendalami ilmu TI, khususnya ilmu ttg hecking. Doakan Ust, smg semangat sy tetap berkobar, Sy mau hecking website2 musuh2 Islam termasuk yang berdagang produk yg adem2 itu, yg merusak semangat perjuangan pemikiran Islam.

    Maaf Ust, ngomang2 boleh gak hukumnya hecking itu? Sy nanya pd aba sy, disuruh nanya ke Ustdz. Kl boleh, skrg pun sdh bisa sedikit2 hecking walau blm sempurna. Tp tdk terlalu insya Allah ilmu itu sdh bisa sy raih. Doakan ya Ustdz, dg doa yg khusus, agar Ifa tetap tegar dan bersemangat menimba ilmu.

    Wassalam
    Ifadah Amalia
    Mahasiswi TI Univ. Gunadarma

  9. Maaf ya Ust dan para komentator, kl komentar sy kurang berkenan: saya seorang ibu yg suka menjelajah ke majlis2 pengajian. Kl dulu sy menyaksikan awal2 revolusi Iran, nampak semangat dan semarak kajian2 pemikiran khususnya di kampus2. Mengapa sekarang melempem. Sy ingin menyumbangkan alasan sederhana:
    Mungkin dulu kajian2 itu krn didominasi oleh masyarakat kampus dan aktivis, shg kajian2 pemikiran itu hidup dan semarak. maaf, tapi skrg aktivisnya pada banyak keluar kampus cari yg instan2 misalnya demo yg ada uangnya, broker politik, yah cari peluang2 politik. Beda dg dulu samangat ideologisnya diwarnai oleh pemikiran Imam Khumaini, Murtadha Muthahhari, Ali syariati, dan lainnya. Skrg buku2 itu mungkin pada disimpan di laci.
    Kemungkinan yang kedua: Sekarang ini majlis2 pengajian lebih banyak didominasi oleh ibu2, coba saja lihat buktinya. Maklum, namanya ibu2 lebih suka yg adem2 dan ringan2, yg ngadem2in hati; yg kaya cari doa dan zikir pengampunan dosa, malah ada yg cari doa utk nundukkan suaminya spy tdk kawin lagi. Makanya tdk salah kl sekarang banyak suami takut dan tunduk pd istrinya. Mungkin akibat doa2 itu. Tapi gak apa2lah spy suami2 tdk suka keluyuran, betah di rumah. Juga begitu ibu2 yang miskin, pada sibuk cari doa2 kemudahan rizki. Itu sih tdk salah. Yg naif, na’uzubillah, Ya Allah ya Rasulullah Ya Mahdi, ada yg menunggu belas kasihan org2 kaya sekedar ongkos transport, apalagi diberikan di depan org banyak. Sungguh suasana ini memilukan hati, tdkkah Rasulullah saw melihat pamandangan ini. Lebih parah lagi suasana ini telah menutup semangat juang.
    Bukankah ini tugas para Ustadz, baik yg ustadznya org2 kaya atau ustadz calon pemikir. Mengapa para ustadz susah duduk bersama? membahas nasib umat dan masa depannya: ideologi, pemikiran, ekonomi, dan lainnya. Bukankah skrg sdh ada pusatnya di “Mampang” utk membahas hal itu. Untuk apa pusat aktivitas itu didirikan? Bukankah yg harus diutamakan program cemerlang para ustadz? karena mereka merupakan urat nadi perjuangan.

    Maaf, mungkin pengamatan sy ini salah. Jika ada yg keberatan gak apa2, bagus itu. Utk diskusi mengkritisi keadaan. Mdh2an ada manfaatnya.

  10. Saya setuju dengan para komentar yg masih bersemangat dlm suasana yg sdh loyo. Kita harus memulai buat tim khusus di alam maya, karena biayanya relatif murah, untuk mengembangkan dan mencari trobosan baru. Kita bisa buat opini, secara bertahap, insya Allah akan berkembang, bahkan saatnya akan meledak. Buktinya di Cina, sepetri yg dikatakan komentar pertama. Saya teringat kisah tukang pande besi di Madura, awalnya tdk laku tapi saat terjadi kributan carok antara Bangkalan dan Sampang, maka tukang besi itu kebanjiran pesanan, kwalahan. Sy tdk bermaksud harus terjadi perang dulu br laku produk pemikiran. Maksud saya, ada saatnya produk pemikiran digemari banyak orang, nunggu waktu. Sambil menunggu, wahai sdr2ku mari kita bahu-membahu merespon semangat Ustdz Labib.

    Doakan Ustadz dan para Ikhwan, skrg sy sedang mengkader anak sy dan timnya dlm TI, kebetulan mereka ini IPnya termasuk kelas teratas (3,7-4) di jurasannya. Sy berharap mereka dpt mempersiapkan hal2 penting menyongsong era derasnya informasi. Di Indonesia memang krg-lebih msh 1 persen yg menjamah alam maya. Ada saatnya media alam maya akan boming, ada yg memprediksi 5 tahun lagi. Maka teman2 mari kita rintis dari sekarang.

    Wassalam
    Syamsuri Rifai

  11. Mungkin saluran distribusi untuk buku-buku pemikiran yang perlu difikirkan ulang. Saya yakin setiap buku (apa pun temanya) punya peminat. Sayangnya sekarang saluran distribusi hanya toko buku, dan toko buku juga berjuang agar mereka tetap eksis, selalu ada profit. Jadi mereka hanya memajang buku yang cepat terjual. Penulis-penulis buku pemikiran mungkin bisa mencoba untruk menerbitkan bukunya sendiri (sekarang mudah sekali mendirikan penerbitan buku), mempublikasikan via internet, posting informasi bukunya via milis-milis, dan melayani penjualan langsung tanpa melalui toko buku.

News Feed