NASIB ONTA DALAM MEDIA SOSIAL

Onta yang disebut juga dengan unta adalah dua spesies hewan berkuku genap dari genus Camelus yang hidup ditemukan di wilayah kering dan gurun di Asia dan Afrika Utara. Rata-rata umur harapan hidup unta adalah antara 30 sampai 50 tahun. Domestikasi unta oleh manusia telah dimulai sejak kurang lebih 5.000 tahun yang lalu.

Unta telah membantu manusia yang hidup di gurun pasir sepanjang sejarah, dan telah menjadi simbul bagi kehidupan di gurun pasir. Panas gurun pasir sungguh mematikan bagi makhluk lain. Selain sejumlah kecil serangga, reptil dan beberapa binatang kecil lainnya, tak ada binatang yang mampu hidup di sana. Allah mengarahkan perhatian kita pada penciptaan unta,’ “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan.” (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17).

Serumpun dengan unta adalah jerapah Nama spesiesnya camelopardalis diambil dari nama dalam latin, karena dianggap sebagai bastar unta (camel) dan macan tutul (leopard). Nama “jerapah” sendiri dipinjam dari nama hewan ini dalam bahasa Arab (الزرافة, zirafah).

Apa relevansi hewan herbivora yang tangguh dan penyabar ini dengan politik? Tentu tidak berkaitan filsafat politik dan ilmu politik yang dirancang oleh para pemikir yang beradab. Tapi dalam dunia politik niradab, onta adalah simbol kebencian politik yang dilengkapi dengan penghinaan rasial seolah onta adalah binatang yang lebih ganas dari heyna dan lebih bodoh dari keledai. Dibanding onta, babi dan anjing juga monyet relatif lebih aman karena tidak identik dengan Arab dan Timur Tengah. Belakangan ini kadang lebih populer sejak disandingkan dengan gurun. Para pemberi stigma ini bisa dipastikan sebagai orang-orang beradab atau paling tidak, merasa beradab. Perilaku ini sama dengan perilaku para supporter rasis di Eropa yang kerap meneriaki para pesepakbola kulit hitam dengan kata monyet. Takkan pernah baik apapun alasannya.

Setiap orang berhak memilih sikap mendukung atau menentang. Tapi secara moral tak ada yang berhak mengkritik seseorang dengan sebutan rasial dan mengemas klaim supremasi dalam sebutan unta.

Siapapun tak layak disebut babi, onta, sapi dan spesies binatang lainnya. Cacian tidak akan pernah menjadi bagian dari perbendaharaan kata dalam tradisi kritik dan polemik.

Bila dasar sikap yang dipilih adalah keperpihakan kepada yang dianggap benar dan adil, maka ekspresi dan diksi kritik harus senada dengan spirit kebenaran dan keadilan.

Bila tokoh atau pihak yang ditentang dianggap rasial, maka sikap dan kritik terhadapnya harus bebas sentimen rasial. Penggunaan kata kasar tidak akan pernah mulia meski tujuan kritik diyakini mulia.

Penolakan terhadap ekstremisme dan intoleransi mestilah mencerminkan sikap moderat dan toleran.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed