Skip to main content

mughniSuhu udara di Libanon memang sejuk, namun nampaknya suhu politik makin panas. Kemarin di Beirut ada dua peristiwa besar.

Telivisi Aljazeera melaporkan, ribuan pendukung Pemerintah Libanon sedang berkumpul dalam peringatan tiga tahun tewasnya Rafiq Hariri. Para peserta mengibar-ibarkan bendera Libanon.

Namun, sebagaimana diberitakan oleh Al-Alam, pertemuan tersebut seakan lenyap oleh pertemuan dalam jumlah yang lebih besar dan emosional di tempat lain, yaitu saat dilakukan upacara menjelang pemakaman Emad Mughinyah, salah satu tokoh utama Hizbullah.

Dalam hadapan puluhan ribu pendukung Hizbullah dan opisisi, Sekjen Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrullah, menyampaikan pesan penting sekaligus jawaban pedas atas pernyataan provokatif, kacung Zionis, Walid Jumblat. “Bila Israel menginginkan perang terbuka, maka biarlah itu terjadi.”

Tentang pembunuhan Mughniyah, Nasrullah berjanji akan melakukan sebuah perlawanan yang lebih sengit. “Dalam barisan Hizbullah, ada ribuan Mughniyah yang telah telah menandatangi kontrak kesyahidan,” tegasnya berapi-api disambut riuh para pelayat.

Dalam upacara penghormatan terakhir itu, Menteri Luar Negeri Iran, manucehr Muttaki, mewakili Ahamdinejad, menyampaikan belasungkawa rakyat Iran dan Ayatullah Khamenei kepada rakyat Libanon, Hizbullah dan seluruh pejuang anti Zionis.

Banyak kalangan terkejut atas kehadiran pejabat tinggi Iran dalam pertemuan itu. Namun, menurut telivisi Aljazeera, kehadiran pejabat tinggi Iran merupakan bukti nyata kedudukan penting Mughniyah dan penegasan Iran atas dukungannya untuk Hizbullah dan faksi oposisi Libanon.

Upacara shalat jenazah atas Martir Emad Mughniyah dipimpin oleh wakil sekjen Hizbullah, Naim Qasim.

Sementara itu, Pemerintah Suriah mengeluarkan pernyataan resmi yang berisikan kecaman atas aksi pembunuhan Mughinyah seraya menganggapnya sebagai upaya merongrong kedaulatan negaranya. Menteri Penerangan Suriah, mengatakan bahwa infestigasi dan penyelidikan atas aksi pembunuhan Emad Mughniyah sudah dimulai, dan telah mengidentifikasi sejumlah orang yang dianggap sebagai tersangka.

Di Irak, pemimpin perlawanan atas pendukukan asing, Sayyid Muqtada Sadr, mengecam aksi pembunuhan Mughniyah dan mengumumkan tiga hari sebagai sebagai masa berkabung di wilayah kekuasaannya.

Di Isael, tiga pejuang Hizbullah yang didakwa melakukan aksi kriminal, yang ditawan di Libanon dalam melawan agresi Isarel, menolak pengadilan seraya menyatakan tekad untuk terus berjuang dan mengikuti jejak Emad Mughinyah. Yang menarik, pembelanya, menolak pengadilan itu dengan alasan bahwa ketifa kleinnya itu bukanlah pelaku kriminal dan bukan pula tawanan, karena mereka ditawan di negaranya, Libanon.