Nejad Disambut Hangat di Irak

nejad_talabani.jpg

Berikut ini adalah laporan dan komentar reporter Globe and Mail, Mark MacKinnon, perihal kunjungan besejarah Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, ke Irak.

Ini adalah sebuah indikasi negatif betapa buruknya segala sesuatu berlangsung bagi Amerika Serikat selama lima tahun petualangan malangnya di Irak sehingga seorang Mahmoud Ahmadinejad bisa datang di siang hari bolong ke negeri yang hancur karena perang itu dan menghabiskan malamnya di istana kepresidenan, sementara George W. Bush tidak bisa.

Mr. Ahmadinejad disambut dengan sebuah upacara meriah kemarin (02/03) sebagai presiden Iran pertama yang berkunjung ke Baghdad, sebuah kunjungan yang sebagian analis katakan merefleksikan pengaruh besar Iran di Irak, dan betapa upaya keras AS untuk mendesain ulang Irak menjadi negara demokrasi yang bersahabat dengan Barat semakin tampak menyesatkan.

Hampir 4000 personel militer AS telah tewas di Irak sejak perang bermula pada 2003, tetapi pemerintah Irak yang didukung AS begitu hangatnya menyambut musuh nomor 1 Washington dengan bungan dan sebuah band.

Tampaknya seraya mengabaikan berulang kali tuduhan AS bahwa Iran mendestabilisasi negerinya, Presiden Irak Jalal Talabani tersenyum lebar ketika menyambut Mr. Ahmadinejad di halaman istananya. Menyambut sebuah era baru bagi hubungan kedua negara, dua pria itu saling berjabat tangan dan melakukan ciuman tradisional di pipi mereka sebelum berjalan bersama meninjau pasukan kehormatan ketika band militer memainkan lagu kebangsaan kedua negara.

Terlepas dari keberadaan sekitar 157.000 pasukan AS di Irak, kunjungan itu meninggalkan kesan bahwa Presiden Iran sekarang merasa lebih nyaman berada di Baghdad ketimbang koleganya dari AS.

Tidak seperti kunjungan-kunjungan Mr. Bush yang penuh dengan melodrama gaya spionase—kunjungan beberapa kali ke negara yang dijaga ketat oleh pangkalan militer AS itu hanya berlangsung beberapa jam, bahkan seringkali tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemerintah Irak—jadwal Mr. Ahmadinejad telah diumumkan beberapa hari sebelumnya. Dia menginap di istana Mr. Talabani, seberang Sungai Tigris dari arah “benteng” Zona Hijau yang menjadi rumah bagi kedutaan AS yang luas.

Pemimpin Iran itu memang harus datang ke Zona Hijau untuk menemui Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki. Dan perjalanan itu mengharuskannya melalui serangkaian pos pemeriksaan pasukan AS. Kunjungan itu dilihat sebagai sebuah upaya untuk memperkuat pemerintahan Maliki. Suratkabar pan-Arab as-Sharq al-Awsat melaporkan bahwa Iran berencana untuk membantu pemerintah Irak dengan pinjaman bebas bunga senilai 1 milyar dolar AS yang diperuntukkan bagi proyek-proyek rekonstruksi yang akan dikerjakan kontraktor-kontraktor Iran.

Ahmadinejad menolak tuduhan-tuduhan AS bahwa Iran, yang mayoritas Syiah, telah mendukung milisi-milisi Syiah Irak dalam konflik sektarian melawan minoritas Sunni. Pemimpin Iran itu mengatakan adalah menggelikan bagi Presiden Bush untuk menuduh pihak lain telah melakukan intervensi di Irak ketika AS yang menginvasi negeri itu pada 2003 justru terus memicu kekerasan yang telah merenggut puluhan ribu, jika bukan ratusan ribu, nyawa.

“Kami mengatakan kepada Mr. Bush bahwa menuduh orang lain tanpa bukti hanya akan memperbesar persoalan di kawasan dan tidak akan menyelesaikannya,” kata Ahmadinejad dalam konferensi pers bersama Maliki. “Orang-orang Amerika harus memahami fakta-fakta tentang kawasan ini. Masyarakat Irak tidak menyukai Amerika.”

Kunjungan Ahmadinejad bahkan jauh lebih signifikan mengingat sejarah pahit antara Iran dan Irak, yang bertempur dalam peperangan yang panjang dan berdarah dari 1980 hingga 1988, dan meninggalkan korban jutaan manusia serta menjadi ajang perang pertama dimana senjata kimia digunakan setelah Perang Dunia I. AS mendukung Irak yang pada saat itu dipimpin oleh Saddam Hussein, dengan suplai senjata dan uang selama perang.

Joss Hiltermann, analis kawasan pada Internasional Crisis Group yang berbasis di Belgia, menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang kini berkuasa di Irak, termasuk faksi-faksi politik kunci Syiah dan Kurdi, adalah kelompok-kelompok yang sama yang menjalin persekutuan dengan Tehran selama perang dimana AS mendukung Saddam. Banyak pemimpin Syiah Irak yang tinggal di Iran selama perang itu, sedangkan Talabani, seorang Sunni Kurdi, mampu berbicara Farsi dengan fasih.

“Selalu ada kontradiksi dalam kebijakan Amerika di Irak,” katanya. “Jika anda ingin mengubah Irak menjadi negara demokrasi, maka anda sedang menaikkan sahabat-sahabat Iran ke kursi kekuasaan.

“Jika orang-orang di Washington terkejut (dengan penerimaan hangat bagi Ahmadinejad), itu karena mereka tidak memahami sedang terlibat apa mereka itu.” (icc-jakarta, terjemahan irman)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments

  1. Walaupun AS telah “berhasil” meloloskan resolusi tambahan DK-PBB bagi Iran, Mr. Bush tetap tidak bisa ‘tidur nyenyak’ di akhir jabatannya, saat melihat hangatnya hubungan Iran – Irak.

  2. presiden Talabani—yang orang kurdi itu— dulu waktu jaman saddam pernah lama— bertahun-tahun— tinggal di Iran, tepatnya di kota Karaj (sekitar 50 km dari Tehran). makanya Talabani fasih berbahasa farsi.
    Karaj=Bogor, Tehran=Jakarta.
    Kalau Talabani kunjung ke Iran lagi, selalu menyempatkan diri singgah di rumahnya sendiri di Karaj.

News Feed