Netanyahu PM Israel, Timur Tengah Kian Membara

Pemimpin sayap kanan Benjamin Netanyahu, Jumat, menerima mandat untuk membentuk pemerintahan baru Israel dan segera menyerukan koalisi persatuan nasional yang menyeluruh dengan mitra-mitra tengah dan kiri.

Koalisi menyeluruh seperti ini akan menciptakan sebuah pemerintahan yang stabil dan kuat yang kebal dari tekanan dari parpol-parpol pinggiran yang melumpuhkan pemerintahan-pemerintahan Israel sebelumnya.

Namun belum ada isyarat bahwa para pesaing Netanyahu menerimanya sehingga tidak ada pilihan bagi Netanyahu selain membentuk aliansi dengan kelompok-kelompok ekstrem kanan dan fundamentalis Yahudi yang membuatnya mengekang untuk berdamai dengan Palestina dan memperkuat disiplin fiskal.

Palestina dan Arab sepertinya melihat pencalonan Netanyahu sebagai Perdana Menteri Israel ini sebagai pemastian bahwa sebagian besar orang Israel tidak mau terburu-buru membuat perdamaian dengan Arab.

Netanyahu (59) memimpin partai sayap kanan yang konservatif, Partai Likud. Dia pernah menjadi Perdana Menteri Israel sebelum akhir 1990an dan kini memiliki waktu enam minggu untuk membangun sebuah koalisi guna memerintah lagi Israel untuk keduakalinya.

Partai Likud berhasil melipatgandakan perolehan kursinya pada pemilu sepuluh hari lalu dimana keamanan negara Yahudi menjadi isu utama kampanye setelah konflik 2006 dengan Hizbullah di Lebanon dan perang melawan Hamas di Gaza bulan lalu. Namun, belum ada pemenang sesungguhnya dalam pemilu 10 Februari kemarin itu.

Dengan 27 kursi dari total 120 kursi Knesset (parlemen Israel), kubu Netanyahu hanya kalah satu kursi terhadap partai tengah Kadima pimpinan Tzipi Livni, mitra dominan dalam koalisi yang kini sedang memerintah Israel.

Namun demikian perbedaan suara yang tipis dengan Partai Kadima membuat Netanyahu memiliki peluang yang lebih baik dalam membangun mayoritas di parlemen lewat koaliasi dengan sesama sayap kanan.

Namun pencalonannya sebagai PM Israel oleh Presiden Shimon Peres, Jumat, telah memecah tradisi politik Israel yang sebelumnya selalu memberikan mandat pemerintahan kepada pemimpin partai yang meraih suara terbanyak.

Netanyahu telah mendesak para penentangnya untuk mengurangi perbedaan demi negara dengan bergabung dalam pemerintahannya.

“Saya menyeru ketua Partai Kadima Tzipi Livni dan Ketua Partai Buruh Ehud Barak, marilah kita bersatu demi keselamatan masa depan Negara Israel,” katanya.

Dengan mengulang pesan kampanyenya, Netanyahu menyatakan Iran tengah berupaya menguasai senjata nuklir yang akan mengancam eksistensi Israel, sekaligus menantang Israel melalui kelompok-kelompok binaannya, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Sebaliknya di Jalur Gaza, seorang juru bicara pada pemerintahan Hamas Palestina memprediksi bakal timbulnya konflik dan ketidakstabilan di Palestina.

“Ini artinya bahwa kebijakan zionis sedang berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi. Pencalonan Netanyahu tidak merujuk keamanan, perdamaian atau stabilitas untuk hari-hari mendatang,” kata sang juru bicara bernama Fawzi Barhoum. (antara)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. itu artinya perang akan terus berlanjut entah sampai kapan..
    dan anak-anak palestina tak kan pernah menatap masa depan mereka dg senyum jumlah para janda dan duda akan semakin bertambah kalo sudah begitu anak2 yatim pun semakin mudah ditemui di mana mana.kasian palestina nasibmu tak seindah sejarah mu……

News Feed