NGAJI MANIFESTO

Ketika organisasi masyarakat Ahlulbait Indonesia menerbitkan sebuah buku berjudul Manifesto ABI, mungkin beberapa orang mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya tentang makna manifesto karena identik dengan partai politk bahkan yang berhaluan kiri.

Manifesto adalah pernyataan sikap sebuah kelompok yang diumumkan kepada publik. Ia semacam etalase visi dan pandangan dasar yang siap dipertanggungjswabkan dan disampaikan secara terbuka kepada publik dan semua pihak agar diketahui secara resmi, tidak disalahami dan tidak dikaitkan dengan apapun di luar keyakinan dan pandangan yang telah dituangkan di dalamnya.

Sebagai lembaga resmi dan payung legal individu-individu warga negara penganut mazhab yang hingga kini menjadi korban disinformasii pihak-pihak penolak fakta kemajemukan perspesi terhadap Islam dan kerap diabaikan oleh pihak-pihak pemegang otoritas formal karena pertimbangan pragmatis, ABI merasa perlu bersikap proaktif dalam upaya edukasi internal anggota dan ekstrnal organisasi dengan melakukan inisiasi yang jarang dilakukan bahkan oleh ormas-ormas besar dan cukup tua sejak kelahirannya, yaitu menerbitkan sebuah manifesto.

Karena kontennya sangat singkat dan minat baca yang sangat rendah juga merespon animo besar dalam beberapa kali event kajian seputar manifesto ini, ABI melakukan sebuah ikhtiar edukasi terutama para pengurus, aktivis dan seluruh anggotanya dengan menggelar kelas online bertajuk “Ngaji Manifesto” yang akan disiarkan secara rutin.

Pada sesi pertama Ust. Zahir Yahya, Ketum ABI, akan memberikan presentasi pengantar seputar latarbelakang konsep dan fakta serta tujuan penerbitan Manifesto.

Kita mungkin selalu meratapi hari wafatnya dengan menyampaikan berita duka kepada banyak orang karena mengira itulah cara benar hormat kepadanya.

Kita mungkin merayakan hari kelahirannya dengan mengirimkan ucapan selamat karena menganggap itulah hakikat cinta kepadanya.

Kita mungkin menyebarkan hadis-hadis tentang keagungannya karena menyangka itulah esensi patuh kepadanya.

Kita mungkin memujinya karena merasa itulah arti sejati menjadi pengikutnya.

Kita mungkin melakukan itu semua karena tak benar-benar ingin meneladaninya dalam pandangan dan tindakan demi menghindari risikonya.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed