NIKAH DAN KEKECEWAAN

Nikah bukanlah peleburan 2 pribadi dan pemusnahan karakteristiknya, karena Allah menciptakan setiap pribadi dengan kepribadian khasnya.

Kedua pihak dalam nikah wajib mempertahankan ikatan dengan saling menerima cirikhas masing-masing, bukan berlomba menduplikasi dirinya.

Nikah adalah ikatan kesepakan membangun negara mini antar dua manusia, bukan sintesa dari konflik.

“Tak sesuai ekspektasi” adalah kesimpulan umum setiap pasangan setelah menikah, bukan salah satu pihak. Itu karena ekspektasi selalu menabrak garis realitas.

Kecewa karena tak sesuai bayangan adalah fakta umum setiap pribadi dalam ikatan karena harapan selalu mengambil batas maksimum dari probabilitas.

Umumnya perceraian terjadi karena salah satu atau kedua pihak ingin melanjutkan ekspektasi dan pengejaran harapan yang diyakininya nyata.

Sudah cukup dewasa untuk melakukan interaksi dalam reproduksi belum tentu cukup dewasa untuk berbagi tanggungjawab.

Segala sesuatu tentang hubungan terlihat indah saat belum dirasakan. Rayuan yang sudah jelas dusta pun terasa gurih. Itulah candu fantasi dan nikotin ekspektasi.

Dia di bawah ekspektasimu? Dia juga merasa begitu tentang kamu. Karenanya, kedua pihak perlu bersama-sama berpandangan realistis dan berdamai dengan realitas yang tak sesuai dengan keinginan masing-masing.

Bila memang kedua pihak tak bersedia melanjutkan kontrak sosial karena beragam faktor yang tak dapat dihindari, maka perceraian menjadi pilihan logis.

Manusia beradab membangun kontrak dengan komitmen (imsakun bi ma’ruf) dan menghentikan kontrak dengan kebaikan (tasrihun bi ihsan).

News Feed