NIKAH LAGI
Hari ini beredar di media sosial banyak tulisan dengan foto seorang politisi relijius atau politikus dari sebuah partai relijius yang "nikah lagi".

NIKAH LAGI

Hari ini beredar di media sosial banyak tulisan dengan foto seorang politisi relijius atau politikus dari sebuah partai relijius yang “nikah lagi”.

“Nikah lagi” jelang musim panen suara bukan hanya isu sosial tapi juga menjadi isu politik. Viralisme pun menyambarnya.

Pada prinsip yurisprudensial agama, menikah adalah aktivitas yang mulia. Pada dasarnya pula “nikah lagi” dalam fikih bukanlah kejahatan Banyak alasan bagi seseorang untuk “berani” nikah lagi. Tak selalu negatif dan tak melulu positif.

 

“Nikah lagi” bukan hanya persoalan fikih dan administrasi KUA. Ada sebuah aspek yang mungkin terlewat dari sorotan banyak orang, yaitu tentang sebuah mindset dan doktrin yang tercangkok dalam benak sebagian kalangan tentang nikah dan posisi perempuan.

Mungkin buat sebagian orang-orang yang merasa relijius, kawin adalah satu-satunya hiburan.

Karena hanya itu yang jadi cara berhibur, maka boleh jadi area keinginannya terus meluas mengikuti kemampuan finansial dan aksesnya.

Bila kawin menjadi sarana hiburan, sangat mungkin yang menjadi istri tak diperlakukan sebagai mitra, tapi sebagai sarana.

Bila pasangan dipandang sebagai sarana, maka hak otonomnya sebagai manusia dan hak biologisnya sebagai perempuan tak menjadi dasar pertimbangannya.

Cara pandang demikian ini dipilih oleh sebagian orang demi menghemat dosa karena tak mencicil maksiat melalui aktivitas lain. Boleh jadi memang demikian.

Tapi bila urutan epistemologinya diperhatikan, maka dapat disimpulkan bahwa sumber pandangan ini adalah mekanisasi atau mindset atau doktrin bahwa perempuan adalah alat pemuasan.

 

Apa di balik cara pandang mekanistik demikian? Coba perhatikan isi ceramah dan tausiyah para pendakwah takfirisme tentang perempuan. Perhatikan pula bagaimana gerombolan takfiris di Suriah memperlakukan perempuan. Bacalah teks-teks yang dihadiskan oleh mereka tentang sorga dan kenikmatannya.

Apakah pandangan semacam ini adalah satu-satunya yang mewakili Islam? Seagama belum tentu sepandangan. Semua info seputar agama harus discan dengan akal sehat. Carilah Islam yang menempatkan perempuan sebagai manusia independen. Carilah Islam yang menjadikan Fatimah sebagai proototipe Muslimah.

Enjoy your faith!

loading...