PAHLAWAN

Bocah bersarung dan tak beralas kaki itu selalu membawa payung. Tak dipakainya untuk melindungi dirinya dari hujan air dan hujan cahaya, tapi dipakainya untuk memayungi dua kepala dua balita imut yang menjadi objek pengawalannya ke sekolah dan tempat ngaji atau tempat bermain.

Dia menjadi pengawal bukan sebagai buah kesadaran intelektual atau kecerdasan emosional, karena dia terlalu kecil untuk menikmatinya, tapi karena “takdir” yang memaksanya.

Diksi “takdir” bukanlah frasa teologis yang lazim diperbincangkan dalam ruang disikusi tapi merupakan sebuah celoteh awam yang bermakna “sesuatu yang menimpa” karena determinasi hukum alam. Dia juga belum paham tentang Tuhan meski sering mendengarnya saat itu.

Banyak peristiwa yang tak menanti persetujuan untuk terjadi pada manusia, termasuk bocah berwajah lusuh yang fokus menangkal hujan atau matahari dengan payung dan tubuhnya itu. Dia bahkan tak sempat meratapi profesinya karena terlanjur menganggapnya sebagai kemestian. Karena itu, meski dekil, sendirian tanpa teman dan tak punya cukup alasan untuk ceria, dia tetap senyum-senyum atau meringis bila dicemooh. “Ndablek” adalah sebutan yang pas untuk itu.

Daur waktu yang mengikuti goyang pendulum adalah saksi bisu yang jujur bagi peristiwa dan moment terpenting juga terpahit dalam lanskap hidup setiap manusia. Bocah itu dan dua balita itu pun beranjak melewati etape-etape dengan arah hidup masing-masing. Tak ada lagi payung, tak ada lagi sarung, kaki melepuh, wajah melegam atau basah tubuh. Semua berlalu tanpa tawa atau elusan kepala.

Kepahlawanan adalah pengorbanan tanpa tapi, tanpa pengingatan, ucapan terimakasih apalagi permohonan maaf. Kepahlawanan adalah jejak-jejak yang terjuntai ke kayangan dalam kesenyapan. Ia tak hilang meski tak diukir dalam prasasti dan tak dikenang dalam seremoni.

Ada banyak bocah seperti itu dulu, kini dan mendatang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed