PEMILIK GELAR HABIB

Hubb adalah kata bahasa Arab yang bermakna cinta. Secara ontologis cinta hanyalah bermakna hubungan vertikal. Cinta dengan makna hubungan horisontal bersifat metafora dan tak sejati.

Cinta vertikal bermakna kebergantungan akibat (makhluk, hamba) kepada Tuhan dan hamba-hamba suci pilihanNya. Cinta horisontal bermakna saling membutuhkan antar sesama makhluk. Cinta horisontal bermakna saling membutuhkan antar sesama makhluk.

Cinta vertikal dari sisi Tuhan sebagai Kausa Prima, dan entitas termulia di bawahNya, berupa pelimpahan cahaya dalam kewenangan mutlakm Dari sisi hamba, cinta vertikal berupa pencerapan cahaya dalam kepatuhan mutlak karena cahaya Allah hanya dipancarkan oleh cahaya terdekat.

Habib adalah kata Arab semakna dengan mahbub yang berarti dicintai. Pada makna primer, Tuhan adalah Yang Dicintai. Dialah Pemilik Tunggal sifat Habib. Inilah makna Tauhid fil Mahabbah.

Nabi SAW adalah entitas ternulia setelah Allah SWT. Sebagai pribadi yang memperoleh kewenangan dari Allah, ia wajib dicintai. Dialah habib kedua (dalam makna vertikal) setelah Allah SWT sekaligus habib pertama di antara semua hambaNya.

Pemilik berikutnya hak dipatuhi dan dicintai adalah manusia-manusia suci yang ditetapkan sebagai pengawal ajarannya. Ali bin Abi Talib yang ditetapkan sebagai pintu kota ilmu Nabi (yang hanya bermakna wahyu) adalah cahaya terdekat dengan Nabi SAW lalu habib Hasan dan Habib Husain kemudian habib demi habib hingga habib Muhammad Al-Hujjah.

Dengan kata lain, Habib adalah predikat dzati(li nafsihi) bagi Allah, dan predikat arazhi (li ghairihi) bagi Nabi SAW kemudian bagi orang-orang suci secara gradual yang ditetapkan oleh Nabi sebagai pemegang kewenangan vertikal. Pemegang wewenang adalah panutan yang dicintai karena wajib dipatuhi.

Nab SAWi, sang habib utama adalah album semua budi pekerti. Dia bukan hanya tak suka disanjung tapi selalu tenggang rasa dan rendah hati. “Hai orang-orang beriman, jika kau diundang (Nabi), masuklah. Dan setelah makan, pulanglah tanpa asyik memperpanjang obrolan. (Karena) sesungguhnya itu merepotkan Nabi, tapi ia malu (menyuruhmu pulang)…” (QS 33:53).

Sedangkan orang-orang yang secara determinan terlahir dalam garis biologis yang bersambung dengan Habib Muhammad SAW bukanlah habib sejati. Mereka adalah habib i’tibari, yang dipanggil habib bukan karena kewenangan,.tapi karena “diharapkan” mengikuti jejak Nabi dan para manusia suci yang terhubung secara nasab dengannya.

Semula predikat habib hanya disematkan pada sebagian dzuriyat Nabi yang dinilai berperan penting di tengah masyarakat alim, guru agama, pendakwah, pesuluk dan tokoh masyarakat. Artinya tak semua dzuriyyat atau orang-orang yang dikenal sebagai cucu Nabi SAW dipanggil habib.

Dalam sejarah Indonesia sebelum dan setelah kemerdekaan banyak tokoh dzuriyah yang sukses menjaga kehormatan gelar habib dalam pandangan dan tindakan. Masyarakat mencintai mereka karena keteladanan mereka.

Namun kini gelar mulia itu seolah menjadi sarana kampanye politik dan alat mengais harta bagi segelintir orang yang tak memenuhi syarat keteladanan dan tak punya kiprah positif di tengah masyarakat. Beberapa pemajang gelar habib bukan hanya tak layak menyandangnya tapi tak layak disebut sayyid bahkan dzuriyyah karena gagal menjaga kehormatan gelar dan atribut Habib, sayyid dan dzuriyah Nabi. Meski demikian, banyak orang berhak dipanggil sayyid dan habib mamun menyembunyikannya karena menganggapnya sebagai beban moral yang berat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed