Pemilu Panas Iran: MAN vs Rafsanjani, Khatami dan Mousavi

A0638584

Bunyi gemeretak singgasana Rafsanjani mulai terdengar. Itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini di Negeri Mullah. Siapa yang tidak mengenal sosok Rafsanjani yang cukup populer ini.

Dia saat ini menjabat posisi penting sebagai   Ketua Dewan Ahli Kepemimpinan Iran, sebuah majelis tertinggi penentu kelayakan dan pemantau kinerja Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar yang juga dikenal dengan  Wali Faqih. Selain itu Rafsanjani juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penentu Kemaslahatan Pemerintah, yang presiden sendiri termasuk di dalam anggota Dewan ini. Lebih dari itu, Rafsanjani adalah mantan presiden dua periode berturut-turut dan juga pernah menjadi ketua parlemen negara ini. Jam terbang tinggi Rafsanjani  ditunjang dengan latar belakang panjang dalam perjalanan revolusi Islam Iran. Rafsanjani disebut-sebut sebagai tokoh revolusi Islam Iran yang masih hidup hingga kini.

Tapi ketokohan Rafsanjani di dalam negeri tiba-tiba redup dengan  pernyataan Ahmadinejad dalam debat pilpres beberapa waktu lalu yang mempertanyakan keluarga Rafsanjani dan kekayaannya

Kemarin (Selasa, 9/6), Rafsanjani menulis surat terbuka ke Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei dan mengeluhkan kondisi yang sedang dialaminya.

Rafsanjani dalam suratnya menyebut tudingan Presiden Ahmadinejad atas dirinya dan tokoh-tokoh revolusi lainnya sebagai tindakan buruk dan perbuatan dosa besar. Dalam suratnya, ia meminta Rahbar supaya mencegah fenomena yang ada sehingga tidak terjadi fitnah yang lebih lanjut. Rafsanjani menulis surat terbuka tersebut kepada Rahbar, satu hari setelah berakhirnya perdebatan pilpres Iran.

Revolusi ketiga yang pernah diserukan Ahmadinejad ternyata harus mengorbankan tokoh besar seperti Rafsanjani. Rafsanjani selaku Imam Sholat Jumat di Tehran pun mulai dipertanyakan jika kondisi seperti ini terus berlanjut.  Di tengah suasana keruh seperti ini, peran Rahbar sangatlah menentukan. Surat terbuka Rafsanjani itu  bisa dikatakan sebagai tekanan tersendiri bagi Rahbar.

Sementara itu, Ahmadinejad hingga saat ini masih percaya diri akan dukungan rakyat yang terus mengalir. Dukungan puncak rakyat Iran pun ketara dalam kampanyenya ke berbagai daerah.

Kemarin di Tehran, pendukung Ahmadinejad memadati bagian dalam dan luar Mushalla Besar Imam Khomeini. Disebutkan sekitar satu juta pendukung Ahmadinejad berkumpul di Mushalla tersebut. Ahmadinejad  sebelumnya dijadwalkan berpidato di tempat itu, tapi karena membludaknya masyarakat, Ahmadinejad tidak dapat mendekat ke mimbar yang sudah disediakan.

Keberanian Ahmadinejad yang mempermasalahkan kekayaan keluarga Rafsanjani membuat masyarakat tergugah untuk terus mendorong Ahmadinejad. Di Isfahan, para pendukuang Ahmadinejad menyuarakan transparansi bagi keluarga Rafsanjani. Di Mashad, sejumlah warga mendekati Ahmadinejad dengan menyuarakan, “Khaili Mardi!”. Artinya, “Anda benar-benar seorang laki.”

Kekayaan keluarga Rafsanjani sudah lama menjadi bahan guncingan masyarakat, Bahkan dikatakan pula, kemenangan Ahmadinejad terhadap Rafsanjani dalam pilpres sebelumnya disebabkan masyarakat yang tidak suka dengan Rafsanjani.

Kemenangan Ahmadinejad dalam pilpres sebelumnya benar-benar mengejutkan yang bisa mengalahkan tokoh sebesar Rafsanjani.

Setelah terpilih sebagai Presiden, Ahmadinejad tetap menunjukkan pribadi yang sahaja seperti yang digambarkan dalam potret hidupnya selama ini. Empat tahun menjabat presiden, tidak ada yang berubah pada diri Ahmadinejad. Bahkan Ahmadinejad yang kian mengenal medan, semakin merakyat. Itu juga bisa dilihat dari pendukung Ahmadinejad, yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Fenomena di Tehran dapat dilihat bahwa pendukung Mousavi, rival Ahmadinejad, adalah orang-orang yang bermobil mewah. Kalaupun ada pendukung Ahmadinejad bermobil mewah, itu sangat sedikit sekali.

Sementara itu, pendukung Ahmadinejad identik dengan  kelas bawah. Bahkan ada yang menyebut Ahmadinejad sebagai presiden kelompok miskin. Inilah pemimpin sejati! Semoga Tuhan menjaganya. Amin  (Alireza Alatas, wartawan irib)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 comments

  1. Pelajaran penting bagi para pemerhati (ijtihad) pollitik dalam Islam, khususnya Iran, dalam konteks relasi posisi serta distribusi kekuasaan. Betapa kekuasaan di Iran memang sedemikian terdistribusi, serta yang diterapkan haruslah selaras dengan hukum dan tidak ada yang boleh bertindak ‘above the law’.

News Feed