Skip to main content

Penanti “Mukjizat Terakhir” Muhammad saw

By August 4, 20098 Comments

Sungguh benar qaul-Mu, “bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba yang saleh”. Setiap hari kesusuhan, keteraniayaan, kemsikinan dan keterasingan orang-orang yang saleh terus meningkat. Masjid-masjid diledakkan. Pasar-pasar dihanguskan. Para pecinta Nabi dan keluargamu terus bergelimpangan. Jiwa-jiwa para pendamba kebenaran diteror. Kebaikan dan kasih dicampakkan. Suara-suara merdu dilenyapkan oleh bising kesombongan. Gelisah menyergap dada kami. Sedih merundung hati kami. Kami semua berada dalam duka panjang.

Tuhan, isyarat-Mu telah datang, tapi mungkin tirai hati kami menghalanginya. kami yakin Kau pasti membaca dan menangkap makna-makna di balik aksara terbata-bata ini. Mereka yang membacanya tentu turut menggumamkannya, meski dada mereka sesak oleh derita demi derita lain.

Tuhan, sampai kapan kami harus mengarungi samudera kesabaran tak bertepi ini? Mestikah kami menerimanya sebagai pertanda tawakkal dan kepasrahan, atau mengidamkan daratan sebagai pertanda pengharapan?

Tuhan, banyak orang yang amat menanti ijabah-Mu, keajaiban-Mu, anugerah-Mu melalui doa hamba-Mu yang dipandang dengan sangka baik. Mereka terlanjur yakin bahwa ‘peristiwa luar biasa” adalah ‘peristiwa biasa’, dan memang perbedaan itu tidak berlaku bagiMu. Derita dan duka mereka masing-masing terlalu besar untuk kami dan mereka, dan karena itu, keajabian-keajaiban itu menjadi jalan pintas.

Tuhan, raih tangan kami dari jurang ‘putus asa’. Hadapkan wajah kami pada diri-Mu. Nayalakan api semangat dalam relung jiwa kami. Perintahkan jiwa-jiwa suci membantu kami dengan lantunan doa mereka.

Ya Allah, kepada siapa lagi selainMu, kami mesti mamerkan butir-butir hangat yang membasahi pipi sembari mengemis pertolongan.

Ya Allah, kami memang kurang bersyukur dan sangat lemah karena tak tahan memikirkan duka yang merundung mereka. tapi, kami yakin Engkau sangat memakluminya.

Ya Allah, sengaja kami pampangkan lantunan doa ini di lembar umum ini agar hati para pembacanya tersentuh untuk turut merayuMu, mendambaMu dan memohon pertolonganMu..

Ya Allah, semula kami khawatir Engkau menganggap kami putus asa, tapi kami abaikan karena kami tahu Kau menyuruh kami untuk selalu mengetuk pintu rahmat dan maafMu.

Ya Allah, sekiranya Engkau memang berencana untuk mendidik kami dengan ‘cubitan-cubitan sayang’, maka kami menerimanya. Namun, kiranya Engkau berkenan untuk memberi kami isyarat dan melepaskan mereka dari derita-derita itu.

Ya Allah, maafkanlah kelancangan dan sikap kurang ajar kami. Pandanglah kami dengan mata maafMu dan cantumkanlah nama kami dalam daftar orang-orang yang berlabuh di dermagaMu dengan perahu Nuh yang dinahkodai Muhammad.

Ya Allah, dengan bekal mungkin “hasrat berwilayah” , kami yakin Engkau pasti akan membentangkan jalan keluar yang luas dan lurus. Maafkanlah bila kami terkesan memaksaMu untuk menyegerakan turunnya mukjizat terakhir Muhammad-Mu.

Ya Allah, segerakanlah kehadiran “bukti cintaMu”… Kami menanti isyaratMu, menggelar permadani merah menyongongnya…berbaris dengan cucuran mata keharuan dan suka cita…