‘Pendatang Makruh’

Mungkin hanya kebetulan. Hampir semua teman saya yang pernah berkunjung atau singgah di negara jiran itu membawa oleh-oleh kesan negatif. Biasanya bermula dari pengalaman pertama memasuki pintu imigrasi.

Sebelum memasukinya, Anda harus menikmati sebuah view menjemukan, yaitu wajah petugas yang sengaja dipasang angkuh dan angker.

Berikutnya sejumlah pertanyaan (dengan ejaan non EYD, tentunya) akan memberondong Anda:

“Dari Indonesia ke?”

 

Tidak disarankan menimpalinya dengan “Sudah tahu, koq nanya…”

“Awak, bawa return ticket ta?”

“You na’ kerja disini ya?”

“Apa pasal?”

“Berapa uang awak bawa?”

“Berapa hari nak tinggal ka’ Malaysia?”

“Bawa rokok kretek ta?” Ini sebuah pertanyaan yang bisa dianggap sebagai pertanda baik, semacam apologi yang ditampilkan layaknya orang sok akrab. Anda bisa diamsukkan dalam kategori ‘pendatang makruh’

Bila jawaban-jawaban Anda dianggap kurang meyakinkan, maka Anda akan digelandang ke kantor. Di situ Anda diinterogasi secara bergantian oleh wan-wan yang berseragam dan, tentu saja, tas bawaan Anda juga dibongkar seenaknya. Bila keberuntungan belum berpihak, Anda hanya perlu duduk tenang untuk menunggu pesawat yang mendeportasi Anda. Pada situasi demikian, menunjukkan semangat kerserumpunan tidak akan berguna. So, welcome to Truly Asing!

Pada masa pemerintahan Soekarno, hubungan kedua negara satu rumpun ini pernah terguncang, bahkan mencapai klimaks, ketika Soekarno memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Parahnya, hubungan Indonesia-Malaysia pada 1960-an itu bisa dilihat dari sejumlah slogan politik yang marak saat itu. “Ganyang Malaysia” menjadi suatu kalimat yang populer pada masa itu.

Indonesia saat itu melihat Malaysia sebagai antek kolonialisme, yang mendukung penjajahan di atas muka bumi. Politik luar negeri Indonesia saat itu memang lebih pro-Timur, yang cenderung membenci segala hal yang berbau Barat. Karena kolonialisme adalah produk Barat, maka Indonesia pun menunjukkan ketidaksukaannya ketika Malaysia memilih bergabung dengan Inggris. Sampai saat ini pun, Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya, merupakan anggota Negara-negara Persemakmuran.

Untunglah, perseteruan antara saudara serumpun itu pulih kembali setelah Soeharto menjadi Presiden.

Saat rezim Soeharto berkuasa, Malaysia sangat respek terhadap Indonesia karena negeri ini dikenal negara yang besar, baik dalam pembangunan ekonomi, politik, maupun dalam kekuatan pertahanan. Malaysia dan Singapura keder. Dulu Malasyia juga sering mengirim warganya belajar apa saja dari sukses Indonesia.

Namun sekarang keadaan berbalik 180 derajat. Hubungan kakak beradik ini sering tegang. Ada dua faktor penyebab ketegangan itu. Pertama, kegemaran klaim wilayah Indonesia, seperti Blok Ambalat di Laut Sulawesi. Kedua, kemajuan pesat ekonomi Malaysia yang mengakibatkan munculnya arogansi. Malaysia memandang rendah Indonesia. Akhir-akhir ini TKI ilegal ke negeri itu sangat banyak jumlahnya sehingga dianggap membuat masalah. Akhirnya warga Malaysia menganggap warga Indonesia yang sangat banyak di sana sebagai ‘kelas babu’. Warga Malaysia menganggap Indonesia tak mampu lagi memberi makan warganya sehingga mereka harus hijrah ke negeri orang. Lebih ironis lagi, proses migrasi itu tanpa bisa dikelola dengan baik sehingga jumlah TKI illegal sama dengan TKI legal atau bahkan lebih banyak. Ini masalah yang membuat citra Indonesia hancur di mata negara tetangga.

Di tengah maraknya penganiayaan terhadap TKI di Malaysia, kita dikejutkan oleh brutalisme aparat Malaysia yang melakukan pengeroyokan terhadap wasit karate Indonesia hingga terluka parah. Aksi itu tentu saja menyulut kemarahan rakyat Indonesia.

Kemajuan dalam bidang keduniaan belum tentu membuahkan kebebasan, kecerdasan dan kemandirian. Rakyat Indonesia lebih cerdas menangkap substansi agama ketimbang menguung formalisme agama, tapi sarat arogansi.

Syukurlah, meski agak terlambat, Pemerintah Malaysia telah mengucapkan permohonan maaf kepada Indonesia. Semoga di usia 50 tahun, Malaysia, pemimpin dan rakyatnya, lebih rendah hati sehingga layak menyandang predikat ‘Truly Asia’.

“Jangan perlakukan orang dengan cara yang Anda sendiri tidak rela diperlakukan begitu,” kata Imam Jakfar Shadiq. (www.adilnews.com)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 comments

  1. Kenyataan memang kenyataan, yang harus diterima apa adannya. Adakalanya kenyataan itu menyakitkan dan kadang pula menyenangkan. Dan begitu pula perlakuan “Malaysia” terhadap orang-orang Indonesia, yang terlanjur memiliki label kelas teri, merupakan kenyataan yang memang terasa pahit bagi kita. Tapi toh sepahit-pahitnya itu, ada hikmah yang dapat diambil dari apa yang terjadi.
    Perlakuan kasar malaysia terhadap orang-orang indonesia seharusnya dapatlah menjadi cambuk yang menggugah kesadaran dan kewarasan manusia indonesia.
    Sudah saatnya manusia-manusia indonesia menyadari siapa dirinya. Sudah tak ada lagi yang patut disombongkan dari “negeri orang-orang sial ini”-pejabatnya maksudnya. Kalau oleh Malaysia yang notabene masih saudara serumpun, kita sudah dipandang seperti itu. lalu bagaimana pandangan negara lain terhadap kita.

    Tapi melihat tingkah aparat malaysia, saya jadi teringat dengan mereka yang ada di negeri sendiri. tak perlu jauh-jauh ke Malaysia, hanya untuk melihat dan merasakan kejamnya para aparat sialan itu. Di sini, di negeri kita sendiri, para aparat sialan itupun bebas berkeliaran. Termasuk tokoh yang baru-baru ini menjadi sorotan publik karena kasus korupsi minyak goreng.

  2. kalau saya singgah di malaysia sering ditanya : You asli Indonesia tapi kenapa bisa jadi Iranian ? You kerja apa di Indonesia dulu? You di Iran kerja apa sekarang ?

  3. Hubungan antara negara-negara di dunia, menurut Thomas Hobbes, adalah bagaikan interaksi antar-individu dalam masyarakat anarki. Ini menandakan kalau tidak ada entitas yang mengepalai negara-negara ini. Dalam masyarakat yang anarkis, dinamikanya diwarnai bukan dengan logika hukum dan keteraturan, melainkan kekuatan dan intimidasi.
    Indonesia secara de facto adalah negara yang lemah, bahkan diejek oleh banyak ahli asing sebagai negara yang gagal (failed state). Dalam masyarakat anarkis, individu lemah biasanya menghuni kasta terbawah dan strata sosial paling rendah. Analoginya dapat diaplikasikan pada Indonesia. Kalau negara dari “kasta” lebih tinggi mengekspor tenaga kerja-nya dengan label elit “Ekspatriat”, maka negara “kasta” rendah mengekspornya dengan label “buruh migran”.
    Sepanjang belum ada pemerintahan dunia yang mengatur interaksi antar-negara secara ketat, maka satu-satunya cara melakukan migrasi kasta ini adalah dengan cara menjadikan diri kuat dan ditakuti (eufisme: disegani). Tidak ada jalan lain kecuali memperkuat imej negara ini di mata asing, bisa dengan cara meningkatkan postur militer (dengan keuntungan jangka pendek dan superfisial), membentuk pemerintahan totaliter untuk menyokong postur militer yang kuat. Namun perlu dicermati bagaimana dampak yang akan dialami oleh warga negaranya, yang sekarang terbiasa dalam alam demokratis, lagipula keuntungannya hanya superfisial dan sesaat, mitos militer adalah mitos yang tak pernah terbukti dalam sejarah namun masih disukai banyak orang karena instan dan penampakan lahiriahnya.
    Cara yang lebih baik dan langgeng adalah dengan meningkatkan kesejahteraan diri, independensi, kekuatan industrial dan ekonomi yang tangguh dan mandiri. Sesuai kata pepatah, Orang yang kuat adalah orang yang tidak (banyak) membutuhkan orang lain. Maka, negara yang independen dan sejahtera adalah negara yang kuat. Sejahtera menjadi perlu karena mustahil independensi bisa dipertahankan tanpanya.
    Yang paling langgeng dalam menguatkan negara adalah dengan memperkokoh landasan spiritualnya. Dominasi alam spiritual atas alam materi menjadi bukti bagaimana bangsa-bangsa bisa mempertahankan diri dari serangan luar dan menjaga identitas dirinya.
    Di dunia yang anarkis ini, pilihan kita satu-satunya adalah menjadi bangsa yang kuat.
    Wallahu’alam

  4. MALAYSIA… DAN INDONESIA SERUMPUNKARENA SAMA PAKE AKHIRAN ‘SIA’ ARTHINYA ORANG MALAYSIA DAN INDONESIA BISA DAMAI OLEH FIGUR MAZHAB SIA……OK DEH

  5. BISMILLAHIRRAHMANIRAHIM.
    KIta serumpun.

    Assalamu alaikum buat saudara semuslim saya di Indonesia. Semoga kalian sentiasa diberkati Allah swt. Setelah saya membaca posting ini yang menceritakan pengalaman teman-teman, ketika mereka pergi ke negeri jiran serumpun (Malaysia). Saya Kesal membacanya kerana bagi saya satu hal yang buang waktu, kerana itu-itu saja masalahnya, orang Malaysia sombong, orang Malayasia jahat, zalim dan sebagainya. Seolah-olah Masyarakat dan Kerajaan Malaysia sangat berlaku tidak adil terhadap warga asing khususnya warga Indonesia. Bukan sahaja teman-teman penulis malahan warga Indonesia yang pernah datang ke Malaysia, baik sebagai wisata atau bekerja disana mereka punya pengalaman tersendiri malah bukan hanya di Malaysia di negara-negara yang mereka kunjungi pasti juga akan melalui pengalaman pahit atau manis.

    Jadi saya berfikir, dengan cerita penulis tadi, timbul pertanyaan dalam diri saya; Apakah memang benar warga Indonesia sering dilayani buruk oleh warga dan petugas kerajaan Malaysia?. Sepertinya memang warga Indonesia membayangkan warga Malaysia sangat tidak baik.

    OK memang benar, saya setuju dengan penulis, bahawa pengalaman berada di negara orang, banyak asam garamnya, kerana saya juga seperti teman-teman penulis mengalami pahit maupun manis di negara tetangga serumpun.

    Ini pengalaman saya sendiri (bukan pengalaman teman-teman ye), ketika saya datang ke negeri ‘Syurga dunia’ ini yang terkenal masyarakatnya ‘sopan santun’. Saya pernah datang bersama isteri ke Indonesia menaiki pesawat, ketika saya sampai di bandara Indonesia saya menuju pintu imigrasi untuk beratur menunggu giliran, sesampai gilirin saya, saya langsung menunjukan passport Malaysia saya, pegawai disitu ketika melihat passport saya dengan muka yang sombong dia minta tiket pp atau ia tanya visa saya, saya katakan tidak ada, lalu saya diarahkan ke kantor interogasi, ketika saya ingin menjelaskan masalah saya dia menengkingi saya, sana! dan dia mencampakan jauh secara biadab passport saya, dengan mengarahkan saya untuk menuju kantor kepala imegrasi disitu. Saya dan Isteri kaget sambil memungut kembali passport yang jauh terlempar disudut lantai oleh aparat biadab tadi, lalu kami pergi menuju ke kantor yang ditunjukannya, setelah bertemu dengan bapak kepala kantor yang sopan dan baik tuturnya, beliau mengatakan kepada saya, kamu harus ada visa atau tiket pulang-pergi, saya katakan:”pak maaf, saya tidak pengalaman dalam soal ini”, setelah berbicara panjang, akhirnya bapak itu menberikan saya izin masuk ke Indonesia (oya masa itu saya baru balik dari luar negara, selepas transit di Malaysia, esoknya langsung ke Indonesia). Baru saya faham gara-gara visa atau tiket pp saja pegawai bertugas tadi begitu biadab hingga mencampakan passport saya.

    Setelah keluar dari kantor, saya pergi kebagasi untuk mengambil barang-barang kami, saya melihat barang-barang kami bertaburan, dan ada petugas di situ sedang mengumpulkan dan mengikat balik barang-barang itu, tetapi sayangnya petugas itu, dengan kasar berkata: ” Ini ngak paki terimah kasi aje lo, kena bayar” . Saya marah, tapi bukan kerana harus membayar wangnya, setakat bayar wang bagi saya biasalah upah orang yang bantu kita, tapi cara kasar dan sikap premanisnya itu yg saya marahkan, tetapi ketika saja saya kasi wang Malaysia dia langsung berlari ke penukaran wang.

    Pengalaman saya lagi ketika saya menguruskan akte kelahiran anak di Indonesia kerana lahir disana disebabkan kelewatan melapor beberapa hari, itu pun sebab surat dari rumah bersalin lambat dikeluarkan. Petugas disitu mengatakan masalahnya susah harus kemahkamah alasannya lewat waktu tapi akhirnya dibantu oleh teman, dengan menghulurkan beberapa cicip wang pelancar (yang sebenarnya saya nggak senang cara ini) akhirnya jadi mudah semua urusan.

    Pengalaman lain lagi ketika saya ingin memanjangkan tinggal di Indonesia, saya kekantor imigrasi dengan teman, ibu yang bertugas disitu mengatakan terang-terangan tanpa malu kalau mau proses biasa harganya sekian tapi lambat tapi kalau mahu cepat harganya sekian.

    Pengalaman yang lain saya dengan TKI yang bekerja di Malayisa. Saya kenal dengannya ketika saya membantu dia pulang ke Indonesia, dia menceritakan pengalamannya pada saya, demikian ia bercerita: “Ada agen TKI Indonesia menawarkan bekerja di Malaysia dengan janji yang lumayan bagus, akhirnya saya setuju dengan mengahabiskan wang yang agak lumayan banyak untuk prosesi, pengurusan dokumen dan lain-lain, setelah dokumen dan syarat lain lengkap saya dijemput dan beberapa orang lain sebagai TKI dihantar ke kota Medan, disana ramai TKI, baik lelaki dan wanita kami ditempatkan disuatu tempat seperti penjara, passport kami dipegang dan layanan agen itu sangat buruk kepada kami. Beberapa hari saya dan TKI lain disitu kemudian kami diberangkatkan menuju Malaysia dengan menggunakan transport feri, sampai di Malaysia saya dihantar ke rumah orang Cina untuk bekerja disana, setelah satu bulan bekerja, saya kabur kerana susah mahu solat dan gangguan sex”. Demikian kisah TKI itu.

    Saya membawa dia ke konselar Indonesia di satu daerah di Malaysia, malangnya mereka tidak menangani dengan serius masalah ibu tadi, saya mengambil keputusan untuk menghantar dia melalui jalan tidak resmi dan Alhamdulillah selamat, dia sampai dipangkuan ibu dan keluarga tercintanya.

    Banyak lagi pengalaman yang belum saya ceritakan mengenai rekan-rekan yang saya kenal atau pun tidak saya kenal tentang pengalaman mereka ketika di Indonesia atau dengan warga Indonesia di Malaysia.

    Masalah TKI khususnya ( wanita) di Malaysia sering dikatakan dizalimi oleh majikannya seperti cerita dalam posting di atas, saya tidak meniadakannya, memang ada berlaku sedemikian dan kami juga tidak setuju dengan perlakuan majikan yang demikian dan kami marah dengan majikan seperti itu, tapi apakah semua majikan di Malaysia begitu?! dan bagaimana dengan TKI yang melakukan kejahatan terhadap majikannya?!, setelah dilayani dengan baik malah anak majikan disandra!, barang kemas majikan dicuri!!, kan tidak benar pekerja biadab dengan majikannya!!?, mengasari dan sebagainya!.

    Bagaimana dengan TKI yang hidup mewah bahagia di Malaysia, warga Indonesia yg datang ke sana mengumpulkan kekayaan dan bawa pulang ke kampungnya, malahan di Malaysia di sebagian tempat ada perkampungan Indonesia, mereka hidup senang damai, dilayani dengan baik tampa diganggu-gugat dengan soalan-soalan interogasi, anak-anak mereka belajar dengan bebas tiada diganggu Kerajaan atau warga Malaysia malahan menghormati dan membantu mereka dengan baik????.

    Bagaimana dengan majikan yang sopan santun????, menganggap pembantu rumah sebagai keluarga sendiri, dan gajinya dibayar secara tepat, setelah selesai kontrakan malah dihantar pulang kekampung sampai didepan rumah, ada yang dihantar majikan (tanpa harus keluar wang ongkos pesawat), walaupun bukan syarat dalam perjanjian dengan majikan????.

    Bagaimana dengan warga Indonesia yang merusak budaya di Malaysia??!, mereka mengadakan tempat maksiat, pergaduhan dan perampokan dan perkosaan disana?. Ratusan warga Indonesia yang datang secara tidak resmi tapi hidup bertahun-tahun disana, mewah tidak ditangkap, ini kenapa tidak di ceritakan?!!.

    Apakah tidak ada majikan di Indonesia yang melakukan tidak benar terhadap pembantu rumah disana, atau sebaliknya pembantu RT berlaku curang kepada majikannya?.

    Apakah kerana Warga Indonesia banyak yang datang bekerja ke Malaysia, jadi yang sering terdengar warga Indonesia dikasari, di ini-di itukan ceritanya??!, padahal banyak juga warga Malaysia yg dikasari, kalaulah banyak warga Malaysia yg datang bekerja ke Indonesia, saya rasa lebih buruk lagi layanan yang akan diberikan?!.

    Bagi saya memang kalau sudah satu rumpun sama saja perlakuannya !, orang Malaysia kata: “dua kali 5″= sama saja, sanggup menjual bangsa sendiri dan marwah diri demi wang dan pangkat, kata-kata sopan santun sebenarnya hanya basa-basi saja, tapi bukan di perbuatan, inilah dia orang Nusantara, saling hasud saling mengata-ngatain sombong, saling menindas, hati banyakkotornya, hilang sudah jiwa -jiwa santun dan budi-pekerti luhur itu sebagai watak bangsa.

    Kalau memang Kami benci atau memandang rendah kepada kalian, ada apa kami adakan suatu majlis mengundang sebagian warga Indonesia dengan membayarkan tiket pesawat pulang-pergi, atau menikahkan anak-anak kami dengan warga Indonesia.

    Jadi, saya melihat yang sebenarnya ini adalah satu pengalaman hidup manusia dimana saja, sebagai perantau pasti dia akan merasakan pahit manis diperantauannya.

    Wahai! Bangsa Indonesia khususnya Muslim, kami sependapat dengan anda bahwa “Tamu mana sukakan tuan rumah yang sombong, begitu juga Tuan rumah mana sukakan tamu yang biadab??!!”, lebih-lebih lagi yg serumpun. Janganlah pahit sahaja yang diceritakan ketika diperantauan manis yang diteguk pun cerita dong!!.

    Wahai Bangsa yang serumpun, wahai umat Islam yang sebenarnya kita ini sama sama ditindas, kita benci pemerintah yang zalim kita juga membenci orang-orang yang zalim, tidak semua orang (punya pengalaman sama), tidak bisa kita harapkan orang akan sentiasa melayani kita dengan baik, bagi saya itu satu hal yang lumrah dimana saja pasti ada orang-orang berperangai malaikat dan ada juga orang-orang berperangai iblis.

    Tidak perlulah dibesar-besarkan masalah ini hingga akhirnya kita jadi benci antara kita, saling bersangka buruk dan bermusuhan, sekarang ini kita sedang menghadapi musuh yang sama, musuh Islam musuh umat Islam dan kemanusiaan dan mereka memang punya tujuan untuk mengadu-domba sesama kita bukan masanya kita menyalahka sana sini. Problem memang sentiasa ada, tapi janganlah problem itu kita bikin menjadi lebih problem lagi.

    Sepatutnya sekarang ini kita yg serumpun khususnya Bangsa Islam mencari solusi menyelesaikan problem yang ada, lihatlah yang lebih penting dari yang penting, ketika bangsa Palestina, Iraq, Afganistan dan Libanon dibantai oleh Zionis dan Amerika serta kroni-kroni zalimnya, apakah kita layak bertelagah sesama kita juga dengan hal-hal yang tidak begitu penting ini, yang malah akan menguntungkan musuh bersama kita.

    Sampai kapan kita terus begini, sampai kapan kita terus dibodoh-bodohkan, sampai kapan kita harus dibutakan oleh musuh-musuh Islam dan kemanusiaan.

    Hati-hatilah dengan provokator-provokator yang sentiasa menuggu-nuggu peluang ketika ada ruang yang bisa mereka masuk, mereka akan gunakan cara paling tepat untuk memprovokasi sehingga menyebabkaan bangsa serumpun ini khususnya Umat Besar Islam hancur dan binasa lalu mereka merampas semua yang kita miliki, ketahuilah mereka sedang menjaring kita kaum muslimin dimanapun berada sebagai umpan yang akan diluluh lantakan dan merampas hak-hak umat Islam Nusantara, Waspadalah mereka sedang melakukannya!!!.

    Wahai! Bangsa seagamaku orang-orang zalim ini sedang duduk semeja berbincang mengatur strategi yang tepat untuk menghancurkan Islam dan umat Islam.

    Bagaimana kita?, apakah kita enggak bisa duduk bersama membincangkan masalah kita, kemajuan, kekuatan, kemulian dan kebersatuan kita sebagai umat Islam?!!, kalau ngga bisa , ya paling tidak tutup mulut dan jangan menulis hal-hal yang bersifat membangkitkan emosional antara satu Umat, kan Di Indonesia dan di Malaysia itu banyak orang Islamnya, janganlah berbicara atau menulis perkara yang menggembirakan musuh!!!.

    ML: Selamanya generalisasi itu invalid. Tidak semua TKI terzalimin, dan tidak semua majikan menzalimi. Tidak semua tuan rumah itu sombong, dan tidak semua pendatang itu biadab. Apa yang Anda tulis tidak bertentangan dengan harapan kami, rakyat Indonesia. Semoga Malaysia makin jaya. Semoga sebutan sinis ‘indon’ makin sedikit… he he …

  6. Saya,warga singapura yg sering dan suka sangat k Jakarta atau k-Batam,saya juga kurang senang dengan pertanyaan2 pegawai imegrasi indonesia,pertanyaan pertamanya pasti ada apa sering k Indonesia,kerja disini,bisnis. Dan saandainya saya menjawab ya bisnis kecil2an pasti petugas itu meminta uang dan klo saya ga menberikannya,pasti saya dpersulit atau di ancam ga tidak dbenarkan ke Indonesi.

  7. Aparat dimana-mana sama saja arogan dan senang uang, namun apabila perlakuan mereka tersebut sudah menyinggung daerah sensitif suatu bangsa maka situasi seperti sekarang merupakan suatu konsekwensi yang wajar, oleh sebab itu sebaiknya kita sama-sama bercermin pada perilaku kita masing-masing agar permasalahan ini tidak memanas dan dapat dijadikan pemicu konflik oleh pihak ketiga yang mendapat keuntungan besar dari konflik kedua negara..

  8. sebagai org beragama, berpendidikan pula. saya senang menyimak pandangan2, sikap2 dan ungkapan2 yg jauh dari menyakiti harga diri pihak lain. Kita pernah dijajah oleh bangsa lain, pun begitu sampai dengan hari ini dgn kebesaran hati kita masih bisa menjalin hubungan baik dgn warga dari negara yg pernah menghancurkan harga diri bangsa ini.

    saya memiliki bbrp org teman baik yg sngt baik dan amat baik dari negri malaysia. bahkan ketika apapun perseteruan yg berlaku antara dua negara ini…kami tetap tidak perduli dan masih berkomunikasi sangat baik.

    saya mmg belum pernah singgah malaysia. tapi kebetulan suami ada rencana untuk dipindahkan ke sana dalam tahun ini. Jujur saja ada sedikit kegalauan apakah ia akan diterima dengan baik oleh lingkungannya bekerja nanti?. karena alasan itulah saya sampai di blog ini.membaca kesan2 dan pengalaman yg mgkn saja bisa membesarkan hati saya melepasnya di malaysia.

    mmg benar pengalaman pahit di manapun bisa saja terjadi. tak heran bila di negeri org pula, justru yg paling menyakitkan kadang bila terjadi di negri sendiri. dan itupun bbrp kali kami alami cukup pahit. dan karena alasan itu juga salah satunya yg membuat suami saya enggan bekerja di negerinya sendiri.

    rasanya mmg hanya sikap bijaksana yg bisa menghadapi kepahitan apapun yg menimpa kita di manapun kita memijak. Sadar dan empati bahwa setiap manusia punya harga diri yg harus dihormati. semoga kelak image2 negatif yg menjadi label masing2 negara dapat luntur seiring waktu dgn optimisme dan mgkn juga dgn saling berbagi pengalaman manis ketika saling berkunjung.

News Feed