PENDETA PECINTA KEBENARAN

Dan gelap pun telah menyelimuti. Pasukan Khuli menancapkan tombak yang berujung kepala al-Husain di atas sebuah tanah lapang. Dari situlah seberkas cahaya memancar ke segenap penjuru merobek angkasa dan suara tasbih bergema. Seorang pendeta Nasrani menghampiri sumber suara dan cahaya itu.

Sungguh terperangah lelaki tua itu tatkala melihat kepala dilingkari cahaya yang tertancap di ujung tombak. Sepanjang malam rasa kantuk tak menghinggapinya. Ia sangat terkesan oleh peristiwa itu.

Esoknya, ketika pasukan Syimr nyaris beranjak, pendeta itu datang menghampiri mereka.
“Siapakah panglima kalian?” tanyanya dengan nafat tersengal-sengal.
“Khuli bin Yazid al-Ashbahi.”
“Kepala siapakah yang kalian bawa itu?”
“Kepala seorang khariji yang memberontak di Irak dan dibunuh oleh Ubaidillah bin Ziyad.”
“Siapakah namanya?”
“Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib,” jawab mereka tanpa beban.
“Oh, sungguh lancang kalian! Bukankah itu cucu Nabi kalian, yang telah disebutkan, dalam kitab kami? Kami, umat Nasrani, tidak berani mengusik onta atau kuda yang pernah ditunggangi oleh murid Isa. Bagaimana dengan kalian yang dengan darah dingin memenggal cucu Nabi kalian sendiri dan menawan para wanita keluarganya! Panglima, bersediakah Anda meminjamkan kepala ini pada saya barang satu jam?”
“Aku tidak akan menyerahkannya kepada siapapun kecuali Yazid yang akan memberiku hadiah,” jawabnya.
“Berapa jumlah uang yang kau inginkan?”
“Sepuluh ribu keping dirham.”
“Baiklah, aku bersedia memberikannya kepadamu,” timpal sang pendeta dengan mata berbinar.

Setelah menyerahkan beberapa pundi berisi sepuluh ribu dirham, Khuli meminjamkan kepala cucunda kesayangan Nabi itu padanya. Tak mampu lelaki non-Muslim berhati mulia itu menahan derai tangisnya. Ia pergi meninggalkan pasukan Khuli menuju rumahnya dengan langkah-langkah cepat.

Sesampainya di rumah, ia letakkan kepala al-Husain di sebuah tempat yang bersih. Dengan lembut ia membersihkannya dari debu, menaburinya dengan minyak wangi dan menyisir cambangnya. Usai melakukan itu semua, pendeta itu memandangi kepala al-Husain.

“Wahai Abu Abdillahh, betapa sedikit yang mematuhi kakekmu! Sungguh aku tak tega melihat penderitaan wanita-wanita yang digiring laksana domba itu! Kini aku datang menyambut panggilan keadilanmu. Kasus yang kau alami, aku yakin bahwa agama kakekmu benar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad kakekmu adalah utusan Allah dan bahwa Ali ayahmu adalah penggantinya,” rintih lelaki tua itu di rumahnya.

Setelah menerima kembali kepala al-Husain yang dipinjamkannya, Khuli memerintahkan para wanita untuk bangkit dari istirahat mengikuti gerak langkah kaki kuda pasukannya.

Dusun demi dusun dan setiap kota telah dijelajahi. Hanya Syam yang belum dimasuki. Kini ibu kota pemerintahan Yazid di ambang pintu. Bayang-bayang penderitaan Sukainah dan Ali Awsath terlintas di benak Zainab. Kesedihan meremas-remas sukmanya. Dari kejauhan terbayang betapa Yazid tengah menyeringai.

(Disadur dari Buku HUSAIN SANG KSATRIA LANGIT).

News Feed