PERCAYA DIRI

Kelebihan percaya diri menimbulkan lupa diri. Kekurangan percaya diri menimbulkan puja diri. Percaya diri lalu percaya Tuhan atau percaya Tuhan lalu percaya diri?
“Sesiapa mengenal (percaya) dirinya, akan mengenal (percaya) Tuhannya” atau “sesiapa mengenal dirinya, telah (lebih dulu) mengenal Tuhannya.”?
Hasil gambar untuk iman percaya allahPercaya adalah sikap epistemik yang muncul berupa premis (dalam benak) yang dianggap koheren dengan realitas.
“Percaya kepada Allah lalu “percaya tentang Allah” atau “percaya tentang Allah” lalu “percaya kepada Allah”?
Believe, faith dan trust memilki makna yang agak mirip dg آمن, ايقن dan وثق dalam bahasa Arab, yang mungkin disebut dalam kata non serapan dengan percaya.
Kepercayaan selalu subjektif karena ia tumbuh dan bersemayam dalam subjek (diri). Ia juga relatif karena berelasi dengan subjek-subjek lain dan objek.
Baca Juga: Restrukturisasi Rukun Iman?
Banyak orang mengira kepercayaan dan kebenaran mengandung 1 makna. Kepercayaan berada dalam subjek, sedangkan kebenaran berada di luar subjek.
Karena tidak mampu (tak mau) membedakan arti “kepercayaan” dan arti “kebenaran”, sebagian orang yang dikenal pintar koprol jatuh ke liang kejumudan.
Sebagian konflik antar individu/kelompok bersumber dari kepercayaan dan kebenaran yang tidak didasarkan pada logika tapi persepsi personal/sektarian.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed