PERISAI HIDUP NABI

Di antara semua keistimewaan Ali AS yang jarang terekspos adalah kesetiaannya menjadi tameng risiko dalam membela tuannya, Muhammad SAW.

Dalam segala situasi genting dan misi penuh risiko, terutama dalam pertempuran juga duel, suami Fatimah Zahra AS ini tak pernah absen dan selalu di garis terdepan. Sejak dakwah rahasia hingga akhir hidupnya Ali menjadi perisai hidup gurunya, Muhammad SAW.

Dia yang masih belia mengacungkan tangannya saat Nabi meminta suara dukungan saat berkumpul dengan para pemuka Quraisy. Dia yang masih remaja mengacungkan tangan kala Muhammad SAW akan berhijrah secara diam-diam meminta seseorang menggantikan dirinya di atas ranjangnya. Dia yang masih muda mengacungkan tangan saat Muhammad SAW meminta tiga orang dari pasukannya melayani tantangan duel tiga warior dari pasukan musuh jelang genderang laga Badr ditabuh. Dia mengacungkan tangan saat Muhammad meminta seseorang dari para rekannya tampil meladeni tantangan Amr bin Abdi Wud dalam arena berkeliling parit dalam perang Khandaq. Ali tak pernah letih mengacungkan tangan setiap kali master-nya meminta nyawa dan apapun yang ada padanya. Khaibar, Hunain dan semua aksi perlawanan Nabi adalah prasasti epos putra Abu Talib ini.

Dengan loyalitas fantastik itu, nyaris tak ada rumah musuh Nabi di Mekah yang bebas sabetan pedangnya, tewas atau cedera, ayah atau anak atau saudara. Kekalahan dalam tempur, apalagi duel, dipandang sebagai hancurnya kehormatan dalam tradisi tribalisme.

Demi mengamankan misi suci penyebaran agama suci yang dipikul Nabi SAW, Ali AS rela mengambil peran terberat dan membiarkan dirinya menjadi gawang segala macam dendam kesumat para musuh Nabi dan para mantan musyrikin sejak hijrah ke Madinah hingga saat mereguk kesyahidan di mihrab masjid Kufah.

Dendam kesumat kepada Ali AS tak pupus, bahkan kian meningkat seusai wafat Nabi SAW. Dendam kesumat ini diekspresikan dalam ragam konspirasi, intrik dan siasat

Ali menerima ratusan risiko itu tanpa “tapi” atau sedetikpun pertimbangan masa depan, posisi sosial, nasib karir dan napasnya. Ali menghadapi situasi dilematis antara kehormatan keluarganya dan jejak kelam sejarah Islam beberapa pekan sepeninggal Nabi SAW. Ali dikucilkan dan tak diajak rembukan suksesi di Balai Saqifah. Ali difitnah dan disudutkan hingga harus berhadapan dengan mertua perempuannya. Ali dituduh mendalangi pembunuhan Utsman. Ali dirongrong oleh geng oligarki Bani Umayah. Ali diusir dari Madinah. Ali dikafirkan selama puluhan tahun di atas mimbar Jumat di seantero Semenanjung. Nama baik serta jasa agung ayahnya dilumuri hoax hadis palsu tentang kelafirannya. Ali dikhianati oleh para oprtunis. Ali mengalami taktik pembunuhan karakter dan penghapusan jejak harumnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed