PERSONALITAS DAN IMPERSONALITAS DIRI

Setiap individu manusia mempunyai diri personal dan impersonal. Ia ambruk dan dianggap gagal sebagai manusia bila tidak menyeimbangkan keduanya.
Kehidupan impersonal seseorang tak selalu merefleksikan kehidupan personalnya, dalam suka dan dukanya, positif dan negatifnya.
Kadang kehidupan impersonal seseorang terkesan teguh, namun kehidupan personalnya rapuh, dan sebaliknya. Manusia adalah misteri. Dirinya adalah teka teki.
Lazimnya diri personal hidup dalam keheningan dengan keluh kesahnya. Sedangkan galibnya diri impersonal hidup dalam keriuhan dengan kisah2 hebohnya.
Hati yang lapang membentang dan akal yang tinggi menjulang menahan seseorang agar tidak menilai orang lain tanpa mempertimbangkan dimensi personal dan impersonalnya.
Dengan hati yang luas dan akal yang bebas, seseorang berusaha menjelajahi semua sudut probabilitas dan kemungkinan peristiwa2 determinan yang mempengaruhi karakter seseorang lalu memasuki dirinya dengan empati, peduli, toleransi dan cinta.
Seseorang yang tak menanggung beban kemanusiaan, kebertuhanan, keberagamaan dan kebermazhaban mungkin tidak menyadari diri impersonalnya sehingga ia hanya “saya” tanpa “kita”.
Tak perlu semedi atau uzlah dengan ritual yang menyandera diri impersonal hanya untuk melejitkan empati dan toleransi. Ia hanya perlu melihat dirinya sebesar kosmos yang tak berhingga. Saat itu apapun yang terjadi adalah bagian dari dirinya yang mengalir dan memasuki semua zona eksistensi.
Sebaliknya, seseorang yang mengabaikan diri personalnya dan hanya sibuk dengan diri impersonalnya adalah orang yang hanya bisa terbang tapi tak bisa berpijak. Ia kehabisan napas dan kedua sayapnya lelah.
Tak perlu terbang bila tak bisa mendarat. Tak perlu menyelam bila tak mampu berlabuh. Kesuksesan terbang dipastikan saat berhasil mendarat. Keberhasilan menyelam dipastikan kala menepi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed