PNN (‘Partai Pamrih Nasional’)

Banjir menggenangi hampir 70 persen Jakarta. Banyak warga, terutama yang tidak terkena banjir, berpartisipasi memberikan bantuan tenaga sampai makanan dan obat-obatan. Tentu itu bukan sesuatu yang menarik untuk diulas.

Selain menjadi berkah bagi para pemulung dan pengusaha jasa angkutan gerobak (untuk melintasi genangan air), partai-partai politik, baik yang mengusung jargon agama maupun yang nir-jargon agama, terkesan “mensyukuri” dan memanfaatkan musibah ini seraya mengais dukungan politik dengan memamerkan aksi kepedulian sosial dalam ragam taktik dan strategi. Ada yang sibuk memasang bendera partai di setiap sudut jalan. Sebagian kader partai mengganti plastik sumbangan dermawan dengan plastik berlogo partai. Ada yang memasang poster pemimpin partainya di posko. Ada yang berteriak-teriak dengan toa (pengeras suara) sambil memamerkan sumbangan-sumbangan dari atas trailer. Bahkan ada yang membagi-bagikan kaos dan nasi bungkus berlambang partai. Ironis, banjir ternyata dijadikan sebagai ajang mengais dukungan politik dan popularitas. Inilah fenomena PPN (‘Partai Pamrih Nasional’).

Secara umum, menurut teks-teks agama, riya’ atau pamrih adalah penyakit psikologis yang bersumber dari penolakan terhadap Tuhan sebagai Sang Pemilik Tunggal. Ia adalah ekspresi penolakan terhadap keesaan Allah sebagai Tujuan Utama di balik setiap amal kebajikan. Rasulullah saw pernah bersabda, “’Takutlah kamu kepada syirik kecil.”’ Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apa syirik kecil itu?”’ Beliau menjawab, “Itulah riya’ (pamrih)”. Ia melanjutkan, “Kelak di hari pembalasan, Allah berkata kepada orang-orang pamrih, ‘pergilah kalian kepada orang-orang yang menjadi penonton pameran amal kebajikan kalian di dunia. Lihatlah apakah kalian memperoleh imbalan pahala dari mereka’?”


Ada dua sumber tendensi pamrih di balik perbuatan baik yang berdimensi ritual maupun sosial, yaitu takut dan cinta diri. Tendensi pertama riya’ adalah rasa takut kepada selain Allah. Seseorang yang nyawa, harta, atau keamanannya terusik, akan berbuat baik demi mengendurkan kebencian orang terhadap dirinya atau menghilangkan kecemburuan sosial yang dapat mengganggu dirinya. Perbuatan baik demikian hanya mendatangkan manfaat duniawi, yaitu keamanan sosial. Menyumbang panti asuhan yang dilakukan oleh seorang koruptor bisa masuk dalam kategori riya’ dengan tendensi takut tadi.

Tendensi kedua riya’ adalah cinta diri. Hati siapa pun pasti akan merasa terusik dan tak nyaman (tentu selama ia tidak mengalami disfungsi psikologis) ketika melihat seorang perempuan tua peminta-minta menggendong bayi seraya mengulurkan tangan di perempatan jalan. Ada yang reflek berusaha (menenteramkan hatinya dengan) memberikan sedikit uang (meski, biasanya, dipilih jumlah terkecil) sehingga pemandangan tak sedap itu segera tersenyum, dan ia bisa pulang ke rumah tanpa membawa perasaan bersalah. Ada yang reflek berusaha menghindarinya sambil berharap lampu merah segera berganti hijau agar pemandangan yang mengiris sukmanya itu segera lenyap. Alasan kemanusiaan semata di balik perbuatan bajik pun bisa dianggap sebagai tendensi cinta diri. Dengan dasar ini, para relawan yang membantu sesama manusia, bila tidak menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama, bisa dianggap sebagai orang-orang yang cinta diri, bahkan menuhankan dirinya. Karena itulah, agama menganggapnya sebagai perilaku politeistik, atau syirik sebutannya.

Pandangan dunia ketuhanan dan kebangkitan, yang melahirkan cinta kepada Allah, harus selalu dijadikan sebagai dasar perbuatan baik. Dengan dasar ketuhanan ini, pelaku kebaikan tidak akan menanti balasan jasa atau imbalan apa pun dari pihak yang menerima bantuan. Allah memperingatkan kita untuk tidak menyia-nyiakan nilai perbuatan baik kita, terutama saat membantu orang lain yang mengalami musibah, dengan memamerkan jasa baik, mengintimidasi, atau memeras. Gila pujian dan gemar sanjungan juga merupakan salah satu bentuk cinta dan penuhanan diri. Allah berfirman, “Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. al-Baqarah: 264).

Selain cinta diri, riya’ juga dibangun di atas cinta akan tahta dan kekuasaan. Fenomena riya’ demi kekuasaan ini mudah ditemukan terutama saat terjadi musibah. Memanfaatkan musibah sebagai ajang kampanye adalah sebuah kejahatan politik yang bukan hanya nista tetapi cenderung ‘menghalalkan segala cara’, karena mengekspolitasi derita dan mempengaruhi alam bawah sadar publik yang sedang membutuhkan uluran tangan. Karena itulah, Allah sangat memurkainya. “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).

Bagaimanapun, membantu sesama manusia yang membutuhkan sungguhlah mulia. Ia bahkan tetap bermanfaat meskipun dilatari oleh tendensi pribadi dan kelompok. Hanya saja, nilai kegunaannya bersifat temporal dan duniawi. (copyright majalah dwimingguan ADIL) Muhsin Labib

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed