CINTA ANTARA KEPATUHAN DAN KOMITMEN

Bila seorang istri di hadapan suaminya berkata, “aku mencintai Nabi”, apakah suaminya cemburu? Marahkah wanita saat suami yang dicintainya mengaku mencintai Fatimah Zahra puteri Nabi,? Tentu tidak cemburu karena cinta istrinya kepada Nabi dan cinta suaminya kepada puteri Nabi itu adalah cinta vertikal.

Cinta vertikal tumbuh dari kesadaran tentang kebergantungan eksistensial. Cinta horisontal tumbuh karena asas timbal balik.

Cinta vertikal bermacam dua; cinta primer yaitu cinta eksistensial pada dirinya, dan cinta eksistensial sebagai turunan dari cinta primer yaitu cinta kepada tajalli Tuhan. Sedangkan cinta horisontal cinta makhluk kepada sesama karena dorongan pemenuhan kebutuhan seksual, emosional, sosial dan sebagainya.

Seorang figur pengelola negara dicintai dan dipuja-puja, karena pada harapan bermanfaat. Tapi ketika pada faktanya tak berguna bagi dirinya dan komunitasnya, mestinya tak lagi mencintainya.

Bila tetap mencintainya, mungkin dasarnya bukan lagi harapan bermanfaat bagi komunitasnya tapi karena memperlakukan figur itu sebagai suci dan menganggap cinta kepadanya sebagai cinta verikal, bukan cinta horisontal. Ia mencintainya bukan karena bermanfaat bagi kepentingan dirinya dan komunitasnya sebagai bagian dari rakyat dan bangsa, tapi karena mitos atau demi mempertahankan adrelanie konfrontasi atau karena kecanduan polarisasi.

Dengan kata lain, cinta tanpa memperhatikan asas manfaat yang diperoleh dirinya adalah cinta hamba kepada Tuhannya. Cinta kepada Tuhan dan rangkaian tajalli-Nya adalah cinta eksistensial. Ia berbeda dengan cinta mutual kepada istri, suami, ibu, ayah, anak, atasan, guru dan lainnya. Cinta vertikal meniscayakan kepatuhan. Cinta horisontal membuahkan komitmen dan kesetiaan.

Singkatnya, menempatkan cinta vertikal pada posisi horisontal adalah penghambaan Tuhan. Menempatkan cinta horisontal pada posisi vertikal adalah penuhanan hamba. Inilah cinta buta sekaligus tuli dan bisu.

Dalam konteks cinta horisontal, mencintai dan memuja pemimpin “bila” melindungi hak anda sebagai warga adalah bagian dari moralitas. Yang ada ‘bila’-nya!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed