Skip to main content

Poster Raksasa Majelis Taklim: ‘Pamer Tato Agama’?

By December 19, 200711 Comments

Mas, mulai sore sampai tengah malam, jalan kampung ditutup,” kata salah satu orang yang sering terlihat nongkrong di pos RW.
“Emangnya, ada apa Mas?” tanya seorang warga penasaran sesaat sebelum masuk ke dalam rumah.
“Kan akan ada pengajian akbar di masjid kampung.,” jawabnya dengan mimik serius.
“Ooo…” gumamnya menyimpan rasa ‘sebel’.
Sepanjang jalan raya hingga kampung teman saya mengontrak rumah terlihat puluhan atau ratusan spanduk dan ratusan bendera besar bertuliskan kaligrafi yang belakangan diketahui itu adalah nama sebuah majelis taklim baru.
Selian itu, foto si mubalig juga terpampang di sekitar masjid kampung yang akan menjadi tempat pengajiannya. Orang-orang yang mengenakan seragam dengan nama majelis taklim dan gambar sang mubalig terlihat sibuk mempersiapkan menara raksasa sound system, dekorasi yang kolosal dan lainnya tampak sudah sibuk di area masjid sehari sebelum acara dimulai.
Nampak para pejabat teras kampung dan sang mubaligh mengingkan agar acara ‘show dakwah’ ini menyedot perhatian warga. Karena itulah, mungkin diperlukan aksi pemacetan dan pemblokiran. Sebelum maghrib, dari beberapa arah muncul konvoi ratusan sepeda motor dan puluhan mobil sewaan dengan bendera majelis taklim sang mubalig berkibar-kibar dan melakukan berbagai atraksi jalanan berisiko tinggi. Para pengguna jalan pun nampak ‘memaklumi’. Nampaknya rombongan suporter sang mubalig telah mendapatkan instruksi untuk memberi kesan ‘heboh’, apalagi semua jalan ke arah masjid ditutup untuk selain pengunjung pengajian.
Biasanya ceramah seorang muballig tidak lebih dari satu jam. Namun, pengajian di kampung itu berjalan lebih dari itu bahkan baru berakhir tengah malam, karena diawali dengan sejumlah acara yang menjadi semacam ‘partai tambahan’ seperti pembacaan naskah tradisional maulid yang diselingi beberapa konser kasidah yang dinyanyikan secara massal.
Entah karena khawatir dianggap sebagai anti pengajian, anti maulid Nabi atau karena takut dianggap anti Islam, sebagian warga kampung pun yang tidak hadir dalam acara itu –karena kebetulan punya agenda lain atau memang non muslim- tidak menunjukkan sedikit pun protes, meski suara sang mubalig dan hiruk pikuk yang disebarkan dari puluhan pengeras suara itu cukup mengganggu ketentraman mereka.
Meski mungkin tema ceramah sang mubalig besar ini tidak aktual dan metode retorikanya juga amburadul, kefasihannya dalam mengutip ayat atau riwayat sangat memukau. Pakaian kebesarannya dan wajahnya yang ‘bersinar’ (akibat sorotan cahaya lampu yang cukup besar, tentunya) cukup menyita para tamu yang sebagian besar memang anggota tetap majelis taklim sang mubalig.
Yang jelas, ini adalah sebuah kegiatan agama, syiar, dakwah, ibadah dan sebagainya. Demi alasan kesehatan dan keamanan siapapun tidak disarankan untuk mempertanyakan dan mengkritisnya.
Setiap aktivitas keagamaan tidak hanya mengandalkan tujuan baik, tapi harus memenuhi sejumlah syarat, seperti subjek yang baik, objek yang baik, tujuan yang baik, cara yang baik, materi yang baik, sarana yang baik, waktu yang baik dan tempat yang baik.
Subjek dakwah atau juru dakwah atau da’i mestilah orang yang memenuhi kualifikasi intelektual, moral dan spiritual dan memiliki serangkaian keterampilan dan wawasan umum sebagai penunjang sehingga ia tidak hanya menjadi alat (sarana) dakwah, karena da’i adalah penerjemah ajaran-ajaran Islam dalam bentuk solusi-solusi praktis. Menggelikan, bila kriteria dan kualifikasi seseorang sebagai da’i ditentukan melalui banyakya penggemar yang mengirimkan sms dukungan atau seleksi dan penjurian yang terkesan ‘main-main’, apalagi calon da’i yang ikut lomba di telivisi kita adalah anak-anak yang terlalu lucu untuk dijadikan sebagai da’i.
Objek dakwah, yaitu umat, mestilah orang-orang yang menunjukkan kesungguhan dan motivasi tinggi untuk mendapatkan bimbingan. Karena itulah, semestinya sasaran dan bidikan dakwah harus diklasifikasikan secara cermat berdasarkan tolok ukur yang ajeg. Misalnya, sasaran dakwah mesti berakal sehat agar mampu menyerap isi dakwah secara utuh dan benar. Ia juga secara psikologis dan mental sehat agar tidak menimbulkan gangguan sosial yang diakibatkan oleh kecenderungan ekstrimitas yang mungkin diidap. Akan lebih baik bila sasaran dakwah memiliki kemandirian finansial agar tidak meninggalkan tanggungjawabnya sebagai kepala rumahtangga dan warga negara. Bila tidak, maka dapat dipastikan sasaran dakwah akan menjadi beban bagi umat dan juru dakwah.