Poster Raksasa Majelis Taklim: ‘Pamer Tato Agama’?

Mas, mulai sore sampai tengah malam, jalan kampung ditutup,” kata salah satu orang yang sering terlihat nongkrong di pos RW.
“Emangnya, ada apa Mas?” tanya seorang warga penasaran sesaat sebelum masuk ke dalam rumah.
“Kan akan ada pengajian akbar di masjid kampung.,” jawabnya dengan mimik serius.
“Ooo…” gumamnya menyimpan rasa ‘sebel’.
Sepanjang jalan raya hingga kampung teman saya mengontrak rumah terlihat puluhan atau ratusan spanduk dan ratusan bendera besar bertuliskan kaligrafi yang belakangan diketahui itu adalah nama sebuah majelis taklim baru.
Selian itu, foto si mubalig juga terpampang di sekitar masjid kampung yang akan menjadi tempat pengajiannya. Orang-orang yang mengenakan seragam dengan nama majelis taklim dan gambar sang mubalig terlihat sibuk mempersiapkan menara raksasa sound system, dekorasi yang kolosal dan lainnya tampak sudah sibuk di area masjid sehari sebelum acara dimulai.
Nampak para pejabat teras kampung dan sang mubaligh mengingkan agar acara ‘show dakwah’ ini menyedot perhatian warga. Karena itulah, mungkin diperlukan aksi pemacetan dan pemblokiran. Sebelum maghrib, dari beberapa arah muncul konvoi ratusan sepeda motor dan puluhan mobil sewaan dengan bendera majelis taklim sang mubalig berkibar-kibar dan melakukan berbagai atraksi jalanan berisiko tinggi. Para pengguna jalan pun nampak ‘memaklumi’. Nampaknya rombongan suporter sang mubalig telah mendapatkan instruksi untuk memberi kesan ‘heboh’, apalagi semua jalan ke arah masjid ditutup untuk selain pengunjung pengajian.
Biasanya ceramah seorang muballig tidak lebih dari satu jam. Namun, pengajian di kampung itu berjalan lebih dari itu bahkan baru berakhir tengah malam, karena diawali dengan sejumlah acara yang menjadi semacam ‘partai tambahan’ seperti pembacaan naskah tradisional maulid yang diselingi beberapa konser kasidah yang dinyanyikan secara massal.
Entah karena khawatir dianggap sebagai anti pengajian, anti maulid Nabi atau karena takut dianggap anti Islam, sebagian warga kampung pun yang tidak hadir dalam acara itu –karena kebetulan punya agenda lain atau memang non muslim- tidak menunjukkan sedikit pun protes, meski suara sang mubalig dan hiruk pikuk yang disebarkan dari puluhan pengeras suara itu cukup mengganggu ketentraman mereka.
Meski mungkin tema ceramah sang mubalig besar ini tidak aktual dan metode retorikanya juga amburadul, kefasihannya dalam mengutip ayat atau riwayat sangat memukau. Pakaian kebesarannya dan wajahnya yang ‘bersinar’ (akibat sorotan cahaya lampu yang cukup besar, tentunya) cukup menyita para tamu yang sebagian besar memang anggota tetap majelis taklim sang mubalig.
Yang jelas, ini adalah sebuah kegiatan agama, syiar, dakwah, ibadah dan sebagainya. Demi alasan kesehatan dan keamanan siapapun tidak disarankan untuk mempertanyakan dan mengkritisnya.
Setiap aktivitas keagamaan tidak hanya mengandalkan tujuan baik, tapi harus memenuhi sejumlah syarat, seperti subjek yang baik, objek yang baik, tujuan yang baik, cara yang baik, materi yang baik, sarana yang baik, waktu yang baik dan tempat yang baik.
Subjek dakwah atau juru dakwah atau da’i mestilah orang yang memenuhi kualifikasi intelektual, moral dan spiritual dan memiliki serangkaian keterampilan dan wawasan umum sebagai penunjang sehingga ia tidak hanya menjadi alat (sarana) dakwah, karena da’i adalah penerjemah ajaran-ajaran Islam dalam bentuk solusi-solusi praktis. Menggelikan, bila kriteria dan kualifikasi seseorang sebagai da’i ditentukan melalui banyakya penggemar yang mengirimkan sms dukungan atau seleksi dan penjurian yang terkesan ‘main-main’, apalagi calon da’i yang ikut lomba di telivisi kita adalah anak-anak yang terlalu lucu untuk dijadikan sebagai da’i.
Objek dakwah, yaitu umat, mestilah orang-orang yang menunjukkan kesungguhan dan motivasi tinggi untuk mendapatkan bimbingan. Karena itulah, semestinya sasaran dan bidikan dakwah harus diklasifikasikan secara cermat berdasarkan tolok ukur yang ajeg. Misalnya, sasaran dakwah mesti berakal sehat agar mampu menyerap isi dakwah secara utuh dan benar. Ia juga secara psikologis dan mental sehat agar tidak menimbulkan gangguan sosial yang diakibatkan oleh kecenderungan ekstrimitas yang mungkin diidap. Akan lebih baik bila sasaran dakwah memiliki kemandirian finansial agar tidak meninggalkan tanggungjawabnya sebagai kepala rumahtangga dan warga negara. Bila tidak, maka dapat dipastikan sasaran dakwah akan menjadi beban bagi umat dan juru dakwah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 comments

  1. 🙂 xi xi xi …

    Mungkin tindakan itu diambil biar tokohnya kelihatan penting dan alim …
    Atau, mungkin juga karena dia mau coba-coba ikutan sebagai calon independen pilkada 🙂
    Dan meskipun nantinya gagal terpilih, paling tidak, dia sudah dianggap sebagai "tokoh masyarakat" … yang akhirnya disorot oleh si KADA baru … 🙂
    Ujung-ujungnya, ada fulus, semua mulus … atau seperti kata pepatah kaum materialis:

    "money talks, bulshit walks" (afwan kalau pepatah ini kurang sopan Sayyid)

    Kini, dakwah Islam sudah dijadikan komoditi dunia hiburan, ketimbang seruan ikhlas ke jalan Tuhan …

    Mereka menyeru tanpa hikmah…Mengajak tanpa pelajaran…Berdebat adalah buah bibir mereka…Na'uzubillah…

    (Maafkan kami Yaa Allah…)

    "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
    (QS. An-Nahl: 125)

  2. Sebaiknya kita juga harus sadar, bahwa perkembangan politik di Indonesia sudah mengarah pada massa yang banyak menjadi rebutan partai-partai politik, boleh jadi bentuk-bentuk pengumpulan massa seperti itu sangat diminati oleh para pelaku politik. Jadi kadang pandangan kitalah yang harus kita ubah bahwa acara majlis taklim tidak selalu berarti syiar Islam karena potensi muatan politik , ekonomis dan bisnis suadah bercampur baur, jangan terlalu berharap seperti dulu lagi karena jaman sudah berubah, nanti bisa kecewa. Atau memang sdh dari dulu begini ya?????????

  3. salam broer.

    menurut saya kegiatan seperti ini tidak ada masalahnya,dimana salahnya ketika puluhan spanduk majelis bertebaran di jalan-jalan,poster sang dai terpampang dimana-mana,ajakan seruan menuju kedekatan spiritual,bukankah ini salah satu kontribusi ulama ke masyarakat (semua orang punya cara berbeda), dimana salahnya?

    kalau dibilang menganggu ketentraman itu relatif,kenapa juga ngurusin remeh temeh yang kaya beginian, jika sebagian dari anda terganggu belum tentu sebahagiaan yang lain merasakannya pula,bukankah seharusnya dilihat sebagai keinginan sebagian dari masyarakat untuk mendekatkan diri secara spiritual,bergegap gempita mencintai Nabinya Muhammad sambil mengharap keberkahan dariNya?masalah apakah nantinya kegiatan ini akan berbekas di sosial religius mereka sehari2 bukan masalah ya cuma soal teknis aja,well at least they try

    lalu bagaimana dengan kegiatan ngumpul2 selain ini mungkin panggung dangdut (terlepas dari itu musik rakyat whatsoever deh) diikuti kegiatan mabuk bla..bla…lalu kriminalitas,or maybe poster d el el yang selain dari pada ini,iklan sabun misalnya dimana modelnya menampakkan auratnya,semuanya bungkam…oohh mungkin karena diam-diam kita juga menikmatinya (mungkin ini tema klise tapi faktanya demikian) tapi ini contoh lho,yang suka dangdut jangan marah y,gw ngirim commentnya sambil dengerin dangdut juga koq hehe

    bagaimana jika poster dan bendera majelis ini seperti tidak mencerminkan toleransi antar agama, kalau yang satu ini menurut saya silahkan saja agama lain juga berbuat demikian,..toh semua yang melakukan itu juga mempunyai perizinan d el el nya

    kalaupun ada skenario dibalik ceramah sang dai promosi partai,well its none of our bussiness,saya rasa masing2 dari kita punya logika dan hati yang sehat untuk menyikapinya

    peace broer

  4. SIMBOLISASI AGAMA…??????????

    Ojo Mentang2 di tempat/daerah yang Mayoritas Muslim…Jor Jor an SIMBOL2 AGAMA…COBA BIKIN DI PAPUA, Bisa Rame deh atau di Kutub Utara…kemungkinan besar acaranya tidak sampai tengah malam karena DINGIN yang menusuk….

  5. Iyaaa saya jg pernah ngalamin yg kamu alamin waktu itu saya mau ke antasari lg da urusan yg super pnting ,saya dah was2 wkt itu karena saya dah janji ma pacar saya karena pacar saya ultah saat itu , saya jg dah kesel bgt ma macet yg lama , sampe akhirnya saya tau smber macetnya ga taunya da pengajian dan bnyak tukang dagang sama yg ky kamu certain dan di situ saya liat , dah gtu pacar saya dah nelfonin saya trus saya makin panik eh ga taunya pacar saya Cuma ksh tau kalo ortunya kena serangn jantung jadi harus batalin janjinya ma saya dan dia jg minta di doain biar ortunya selamat,nah paz saya lewat majlis itu saya dengar jamahnya di suruh minta doa masing2 dan spontan saya langsung ikut aja doain ortu pacar saya biar selamat dan cpt sembuh padahal saya ada di dalam mobil saat itu , paz dah sampe rumah sakit saya liat ortu pacar saya lagi sekarat trus saya cerita ma pacar saya kalo td dijalan saya ngelewatin pengajian yg lg berdoa truz saya crta jg kalo td saya doain ortunya dia ……………..eh paz bsk paginya ortunya pacar saya sadar dan langsung bisa di ajak bicara seperi org sehat aja malah bisa bercanda2 ma saya dan pacar saya……..mgkn doa saya di terima x ya pas saya lg ikut doa pengajian tersebut, thnx God ternyata acara ky gtu gk semuanya ngerugiin ya tp bisa jadi bikin lancar semua urusan saya.

  6. pelajari hidup mu,kenapa begini?dan kenapa begitu?maka kamu akan tau untuk apa kamu hidup?karena semua itu sudah diatur oleh yang maha kuasa ALLAH jalla jalalu,maka kamu terasa terganggu,karena kamu tidak mau tau dan hanya keinginanmu yang mesti didahulukan,perbedaan adalah rahmat bila disikapi dengan bijak,jangan membuat kita tercerai beray!karena itu perbuatan sia sia&banyak mudorotnya…..amin!

  7. Pimpinan majelis itu berpikir dia adakan tabligh itu di daerah padang pasir kalee! Ngga kepikiran kalo tempat tabligh penuh dengan manusia, penuh dengan kehidupan, penuh dengan mobilitas, Ngga kepikiran di kepala manager atau Co-nya orang lain yang bejibun itu punya keperluan masing2 setiap saat. Bikin tabligh di kota besar, tapi manajemennya ada padang pasir!

News Feed