PREDIKSI, RAMALAN DAN TEBAKAN

Semalam dalam obrolan santai di beranda rumah teman beberapa orang melontarkan info yang konon viral tentang pernyataan atau ramalan bencana alam yang akan melanda Jakarta dan Jawa Barat dalam dua bulan mendatang oleh seseorang yang dikenal punya kemampuan supranatural dan diyakini sudah membuktikan ketepatan semua ucapan-ucapan tebakannya.

Konon tebakan seram ini mengundang aneka reaksi dan respon. Dilaporkan sejumlah keluarga meninggalkan Ibukota karena memastikan bencana dalam pernyataan itu akan terjadi.

Mungkin ada baiknya kita menyoroti pernyataan sebelum mempercayai dan menolaknya. Sebuah pernyataan bisa dianggap benar karena beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama adalah koherensi atau kesesuaian subjek dan predikat dalam struktur pikiran seperti pernyataan matematik. Ini disebut premis aksiomatik atau premis analitik.

Kedua adalah alasan keterjadiannya dalam fakta yang terverifikasi setelah pernyataan dibuat seperti “air mendidih bila suhunya mencapai 100 derajat celcius”. Ini disebut premis empiris.

Ketiga adalah alasan pengetahuan penyampai kompeten tentang relasi kausal dalam fakta yang tak diketahui oleh banyak orang, seperti pernyataan BMKG “hujan lebat akan mengguyur sebagian wilayah di Jakarta pada malam hari karena dalam fakta angin kencang sedang bergerak membawa awan tebal dari selat sunda ke pesisir Jakarta.” Ini adalah premis saintis yang kerap disebut prediksi ilmiah.

Keempat adalah alasan penyampainya adalah orang yang diyakini oleh sebagian orang sebagai orang yang punya akses metafisik di balik alam fisik, misalnya “kamu akan kawin dan akan melahirkan seorang bayi pada tanggal sekian, jam sekian, menit sekian dan pada detik ke sekian.” Karena bukan aksiomatik, bukan empiris dan bukan teoritis dan saintis, premis keempat hanya bisa dianggap benar setelah kelahiran bayi itu terjadi sesuai dengan pernyataannya.

Sebelum peristiwa itu terjadi, satu-satunya alasan menganggapnya sebagai pernyataan benar adalah susunan bahasanya bila memuat subjek dan predikat.

Sebelum peristiwa dalam pernyataan terjadi secara faktual, premis keempat hanya bisa dianggap sebagai ramalan supranatural atau tebakan atau dugaan.

Ada pula yang keburu menganggap sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh seseorang yang dikenal punya kemampuan menembus alam gaib sebagai ramalan, padahal hanyalah kekhawatiran atau doa dan anjuran waspada.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed