PRILAKU SUCI MUHAMMAD

Bila dipanggil seseorang, dia tak menoleh tapi membalikkan seutuh tubuh menghadapnya.

Bila berbincang dengan seseorang, dia menanggapinya sepenuh hati hingga setiap orang merasa mendapat perlakuan khusus.

Bila dihampiri sesesorang, dia tidak duduk tapi bangkit dan menyambut.

Bila menghadiri sebuah acara atau undangan, dia tidak meminta tempat khusus, tapi duduk di barisan yang kosong.

Bila menjamu sebagai tuan rumah, dia tak berhenti makan sebelum tamu berhenti atau merasa kenyang.

Bila tamunya hendak pulang, dia mengantarkannya hingga ujung lorong kampung.

Bila sedang duduk bersama seseorang, dia tidak bangkit lebih dulu.

Bila diundang dalam jamuan, dia mengambil makanan yang terjangkau oleh tangannya.

Bila berjalan, dia tak pernah menyeret alas kakinya.

Bila makan sendirian dan bersama orang lain, dia tak bersendawa dan tak berdecak saat mengunyah.

Bila berjalan tengah khalayak, melangkah pelan seakan mengendap dan tak mengisyaratkan kehadirannya.

Bila memanggil seseorang, tak menyingkat namanya dan tak menyebut gelar yang tak disukainya.

Bila tiba waktu makan, dia selalu berusaha mengajak makan siapapun yang melintas depan rumahnya.

Bila terhibur, dia senyum. Bila tertawa, tak berbahak.

Bila berbicara depan khalayak, mengedarkan mata.

Bila memuji seseorang, tak berbasa-basi. Bila menegur, tak mempermalukannya.

Bila disapa orang buta, menyahutinya dengan sopan (tak cemberut).

Bila usai tempur, dia meminta maaf bila ada sahabat sepasukan terkena tangan atau sikutnya dan menawarkan pembalasan.

Bila wanita tak dikenal melintas di hadapannya, dia menunduk. Bila putrinya datang, dia bangkit menyambut.

Bila mengantuk, tidur secukupnya seraya meletakkan telapak tangan di bawah pipi.

Bila hendak pergi menghalau musuh, dia berpamit kepada orang-orang papah dan anak-anak yatim seraya meminta doa mereka.

Melintasi jalan lain bila menemukan kawanan semut berbaris agar tak terinjak kakinya.

Menyangga perutnya dengan batu bila lapar dan tak menemukan sesuatu untuk dimakan.

Memperlakukan murid, umat dan rakyatnya sebagai sahabat.

Tak pernah menyuruh istri melakukan hal yang dapat dilakukannya. Ia menjahit sandal dan pakaiannya sendiri.

Menyebut kaum Nasrani dan Yahudi dengan “pengiman Kitab suci” (Ahlul Kitab).

Berbantal batu bila terkantuk di tengah perjalanan.

Berbuka dengan tiga butir korma, sekerat roti gandum dan segelas susu.

Bersemedi dalam gua menempa diri dalam kesenyapan.

Keluar masuk pasar berdagang.

Mencium tangan kuli.

Jelang wafat, suara paraunya meminta secarik kertas dan sebatang pena ditelan bising.

Kotanya diduduki. Mimbarnya dirampas. Sabdanya disensor. Wekasannya diganti. Rumahnya disegel. Keluarganya dijagal.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed