PROSA PENANTI FAJAR

Malam hening memasang tirai nirwarna menyembunyikan semua, hingga tampak sama, sepi dan bisu, kecuali cicitan makhluk malam yang mencubitnya lirih, mencubit kisi jiwa untuk memutar ulang piringan dalam layar benak. Saat itu ia terunduk galau, menahan napas dlm sesak sesal. Namun, bila gemintang berpamit, ia pun berpamit dari altar kejujuran, melenggang menuju kebisingan tipu dan kasak kusuk.

Saat orkestra satwa2 di kebun berlangsung, jiwa tanpa rencana masuki alam bawah sadar lalu temukan penggalan2 cerita masalalu yg tercecer, potret2 buram tentang ceria dan derita, tentang lelap dan lelah. Detik itu ia merasa telah jauh berkelana dan menghitung kerugian.Tapi bila ayam berkokok dan klakson mobil2 menghadirkan konser bingar, terlemparlah dia ke alam tanpa sadar.

Di malam yang sepi saat sendiri, sering manusia menjadi bijak dan fitri merenungi dan menyesali sikap dan prilakunya. Namun saat bundar surya menyeruak, gemerincing harta terdengar dan gemerlap kuasa berkilau, ia jadi makhluk lain.

Desiran napas malam menghembuskan kesadaran tentang “dari” dan ke” ayunan langkah dan melejitkan semangat untuk mempertegasnya. Namun saat sejuk pergi beriring tiupan pluit “strugle for life”, kesadaran itu pun lenyap bagai embun yang menguap diusir mentari..

Saat debu dan asap tak lagi menari di angkasa kota, dan teriakan para kenek metro mini tak lagi berpadu dengan lomba klakson mobil-mobil manusia yang menganggap diri VVIP, dan hening menjadi penguasa tunggal, lamunan bak terpedo melesat menembus dinding waktu menerbitkan kesadaran akan nistanya rakus dan individualisme… Namun, bila tirai bundar surya disingkap, kesadaran itu mengalir bak butiran hangat yang membuat parit kecil di ujung kelopak hingga muara dagu.

News Feed