Skip to main content

‘Percaya pada’ dan ‘Percaya bahwa’

By October 22, 2011One Comment

platon_aristoteles-small.jpg

Kita sering mendengar pesan orang, ‘jangan gampang percaya’. Sebenarnya mempercayai sesuatu, secara prinsipal, tidak berkaitan dengan sikap kita mempersulit atau mempermudahnya. Yang terpenting adalah mengetahui prosedurnya.

Kepercayaan adalah keniscayaan sikap dari koherensi subjek pengetahuan dengan konsep yang ada dalam benaknya. Ia dapat berdiri tegak bila telah memuat tiga elemen.

Elemen pertama dan faktor penentu dalam pengetahuan adalah kepercayaan. (The Theory of Knowledge, ed: L.P. Pojman PP, 499-555 and Hospers). Pengetahuan, realitas dan justifikasi berada dalam poros kepercayaan. Pengetahuan tanpa kepercayaan (keyakinan) tidaklah mungkin. Kepercayaan, yang merupakan faktor penentu dan tolok ukur justifikasi, adalah faktor penentu dan poros pengetahuan partikular. Kepercayaan, yang disebut pula dengan subjective component of knowlegde, ini meniscayakan penangkalan terhadap ketidaktahuan kompleks (al-jahl al-murakkab). (Ma’refat Shenasi dini va Mu’aser, 81-86, The Theory of Knowlegde, ed: L.P. Pojman, P. 130, Commitment to Truth, 21).

Esensi ‘kepercayaan’

Manusia, di hadapan setiap premis atau pernyataan, adalah manusia sebagai berikut:

· Menerima dan menjadi ‘manusia berkeyakinan’. Sikap ini disebut dengan acceptance atau belief.

· Menolak atau menentang dan menjadi ‘manusia penolak’ atau ‘manusia penentang’. Sikap ini disebut dengan disacceptance.

· Tidak menerima sekaligus tidak menolak atau abstein. Sikap ini disebut dengan withold.

Setiap premis mempunyai dua macam hubungan dan relasi; relasi dengan subjek dan relasi dengan objek. Premis “bunga ini berwarna merah’, misalnya, mempunyai hubungan dengan realitas objektif karena ia benar atau salah. Ia juga berhubungan subjek atau pengetahu sedemikian rupa sehingga bila hubungan subjektif ini tidak diperhatikan dan dilibatkan, maka pengetahuan tidak akan pernah muncul. (Ma’refat Shenasi Dini va Moasher, M.T. Fa’ali, 160, An Introduction to Philosophical Analysis, PP, 10 – 18 and Chisholm, R.M. Theory of Knowledge, P. 6 A Companion to Epistemology, PP. 35, 48, 70).

‘Percaya padamu’ dan ‘percaya pada perkataanmu’

Samakah arti “saya percaya padamu” dengan “saya percaya bahwa perkataanmu benar dan sesuai dengan kenyataan” sehingga bisa diubah dan dipindah sesuka hati?

‘Percaya bahwa’ adalah sikap percaya yang secara orisinal (semula, bil-ashalah) mengacu pada premis dan secara tidak orisinal (bil-taba’) mengacu pada sesuatu yang diungkapkan oleh premis, bukan premis itu sendiri. Premis “saya percaya bahwa Tuhan ada” mengacu secara orisinal dan primer pada premis “Tuhan ada” dan secara sekunder mengacu pada “ke-ada-an Tuhan”. Namun kepercayaan tidak selalu berkonotasi arti demikian. Bila suatu saat kita ucapkan “saya percaya pada anda’, maka ‘kepercayaan’ dalam premis terakhir ini bebrarti “saya mempercayai anda’ atau ‘saya mengandalkan anda’ atau ‘saya mantap dengan anda’ yang bukanlah bagian dari pengetahuan. Yang menjadi bagian dari pengetahuan adalah ‘kepercayaan proposisional’ bukan ‘kepercayaan psikologis’. (Ma’rifat Shenashi Dini va Muashe, 160).

Elemen kedua

Elemen kedua adalah kebenaran. Pengetahuan yang benar juga memiliki dimensi hubungan antara subjek dengan objek yang di’wakili’ oleh konsep yang tertayang dalam benak subjek. Adanya kebenaran atau realitas faktual meniscayakan penangkalan terhadap ‘ketidatahuan sederhana’. Inilah yang dimaksud dengan ‘hubungan objektif’ atau objective component of knowledge,

Sebelum bertanya manakah yang real atau keyakinan manakah yang benar, kita harus lebih dahulu bertanya, apakah kebenaran itu? Apakah kebenaran itu? Bagaimana memilah pengetahuan yang benar dari yang salah?

Dua pertanyaan ini secara substansial berbeda. Pertanyaan pertama bertalian dengan kebenaran, sementara kedua berkaitan dengan norma (criterion) kebenaran.

Elemen ketiga

Elemen ketiga dalam pengetahuan assentual adalah ‘justifikasi’ (At-Tawjih). Justifikasi, menangkal tebakan atau ramalan yang mujur (lucky guess). Jadi, andaikan saya meramal atau menebak bahwa “Ali ada di balik dinding”, dan memang ternyata demikian, maka berarti ucapan ini memenuhi dua syarat; kepercayaan dan kebenaran, namun ia tidak memenuhi syarat ketiga. Karenanya, ia tidak bisa dianggap sebagai pengetahuan. Tiga elemen, kepercayaan, kebenaran dan justifikasi inilah yang dijadikan sebagai definsi tradisional pengetahuan assentual atau pengetahuan yang benar, bahkan pengetahuan secara umum, oleh Plato. tradisional. (Ma’refat Shenasi dini va Mu’aser, 81-86, The Theory of Knowlegde, ed: L.P. Pojman, P. 130). (bersambung)