Skip to main content

hauzahh qomSelain ‘kesayyidan’ dan WF, masalah ‘Qomiyin’ merupakan salah satu hot issue sepanjang sejarah komunitas AB di Indonesia. Entah, bagaimana asal muasalnya, yang jelas, seorang yang ketiban predikat ‘alumni Qom’ berada di antara dua sisi ekstrem, dipuja-puja secara berlebihan dan dicemooh dan dibenci secara habis-habisan. Ini benar-benar menyesakkan dada. Kadang malah saya menyesali masa lalu bila membandingkan untung dan ruginya. Salah satu penyebab situasi ini, lagi-lagi adalah generalisasi dari suatu peristiwa negatif atau komunikasi yang buntu (bahasa halusnya) dan tidak tersedianya waktu untuk klarifikasi dan silaturahmi.

Paragraf-paragraf di bawah ini hanyalah analisa yang subjektif dari salah seorang yang ‘ketiban’ predikat ini. Mohon dimaklumi dan dimaafkan bila kurang ‘ilmiah’ atau kurang santun.

Meski belum ada pansus yang bertugas memperjelas pengertian ‘qommi’ dan kriteria-kriterianya, qommi dapat didefisinikan secara sederhana sebagai predikat oleh orang yang, menurut urf (opini umum), pernah menjadi pelajar resmi di Qom.

Sejauh pengamatan saya, banyak masalah yang bisa dijelentrehkan dalam tema ini, antara lain: 1) hubungan antara qomiyin senior dan yunior di Qom saat ini; 2) hubungan antara qumiyin aktif (terutama yang ter-mahasiswa-kan atau generasi Madrasah Imam Khomeini) dan alumnus Qom (generasi pra universitas atau Madrasah Hojjatiyeh); 3) hubungan antara qomiyin yang memiliki kiprah luas dan qomiyin yang belum memiliki kiprah luas; 4) hubungan antar sesama qumiyyin yang memiliki kiprah luas; 5) hubungan antara qummiyin dengan para alumnus non Qom, seperti Syria, Mesir, Arab Saudi dan lainnya maupun yang non-luar negeri.

Masing-masing relasi menyimpan persoalan-persoalan yang sebagian besar merupakan efek tak terhindarkan dari rendahnya kualitas komunikasi, kompetisi yang tidak disikapi secara dewasa, karakter sosial-budaya masyarakat Iran yang menjadi habit secara perlahan namun pasti. Tentu banyak persoalan lain yang terkait dengannya.

Perubahan iklim dan peta politik Iran dan Timur Tengah, terutama seusai perang Irak-Iran, Perang teluk II dan 11 September yang berujung dengan invasi AS di Irak telah menuntut Hawzah untuk melakukan perubahan demi perubahan terhadap sistem penyelenggaraan pendidikan yang semula lebih mengutamakan teks dan konten dan mengabaikan forma dan metodologi untuk menjadi komprehensif, terutama bagi para pelajar asing.

Sebagai salah satu anggota kloter pertama yang masuk ke hawzah, pada 1982, saya cukup bisa merasakan tingkat keberuntungan para pelajar era 2000 tahun. Tanpa bermaksud menceritakan duka seorang ‘kelinci percobaan’, situasi yang saya rasakan saat pertama kali menjejakkan kaki di kota Qom, benar-benar membuat saya yang saat itu berusia 15 tahun, geleng-geleng kepala. Tak ada persiapan yang wajar, apalagi di atasnya. Bangunan madrasah yang kita masuki masih penuh debu. Hari-hari itu bangsa Iran sedang sibuk dengan mobilisasi militer guna menghadang agresi Saddam. Di sana sini terdengar dentuman bom yang dikentutkan oleh MIG 2000 dan Mirage di tengah kota. Warga Qom nampak sibuk antri mengambil jatah minyak goreng dan sembako. Kelas sering diliburkan secara mendadak karena ada upacara pemakaman puluhan jazanah pahalawan yang gugur di medan tempur. Kurikulum selalu berubah. Nampaknya para pejabat Shura-ye Sarparasti Tholab-e Ghare Irani memang sedang kebingungan untuk mencari format pendidikan yang sesuai dengan para pelajar asing yang berbeda kemampuan, dari Indonesia, negara-negara Arab non Syiah, Afrika, dan bahkan Eropa. Soal fasilitas, jangan ditanya karena akan mengembalikan kenangan buruk. Dengan bekal pendidikan yang semrawut dan sisitem yang ‘megelin’, para alumnus yang lahir dari situasi demikian, mesti harus diterima dan diapresiasi. Apalagi dengan bekal pendidikan dan fasilitas yang serba kurang (nir-ijazah lagi!!), mereka masih harus memulai tugas yang sunggu berat, membabat hutan dan memperkenalkan mazhab AB dengan segala risiko, terutama risiko politik Orde Baru yang mencurigai Iran sebagai pengekspor revolusi. Mungkin suatu saat bisa dinovelkan, asalkan ada yang rela merekam tuturannya lebih dulu, he he…

Kini para qumiyin memilih ‘nasib’nya sendiri-sendiri. Ada yang sukses secara material, banyak pula yang belum beranjak dari tahta kemiskinan. Ada yang menjadi pembina lembaga-lembaga dakwah dan merawat umat dengan segala persoalannya. Ada yang hpnya tidak pernah dihinggapi undangan ceramah di majelis taklim ibu-ibu. Ada yang memang sudah tidak akrab dengan mike dan podium bahkan dalamn majelis taklim non ibu-ibu. Ada pula yang melenggang sendiri sebagai ‘ustadz swasta’, tanpa yayasan dan miskin umat. Ada pula yang banting setir dan menyandang aneka profesi, mulai dari makelar sampai penerjemah.

Beberapa tahun lalu saat diminta mengisi sebuah lokakarya di yayasan Al-Jawad Bandung, saya secara gurau membagi pra ustzadz dalam beberapa kategori, 1) ‘Ustadz afwan’, yaitu dai yang bukan hanya tidak dapat amplop, malah diminta untuk mengganti ongkos angkutan para peserta pengajian. Satu-satunya penghargaan yang dia peroleh adalah ucapan ‘ahsantum’ tanpa sedikitpun embel-embel. Ia juga kerap menjadi sasaran serbuan proposal dan surat keluhan. Biasanya, semua uangnya sudah habis karena lenyap dalam ajakan kerjasama bisnis yang sangat abstrak, dan dipinjam oleh seseorang yang, tiba-tiba, menjadi anggota ormas yang berafiliasi lain, sehingga hampir tidak pernah bertemu lagi dalam even-even khas AB. 2) ‘Ustadz syukran’, yaitu dai yang meski tidak dirugikan secara finansial, tidak mendapatkan reward dari pengabdiannya. Semoga Allah melipatgandakan pahala mereka. 3) ‘Ustadz tafadhdhal’. Wah kalau yang ini memang punya pesona spesial yang sulit ditandingi bahkan oleh para profesor dan doktor lulusan luar negeri. Tapi, setahu saya, para ustadz kelompok ketiga ini punya kepedulian sosial yang luar biasa. Ada beberapa keluarga miskin di kalangan AB yang dibiayayinya. Ia juga mendanai beberapa yayasan AB di Jakarta dan lainnya. Mereka menjadi tempat parkir aneka keluhan dan curhak ekonomi. Semoga Allah membalas kebaikan mereka.

Sepatutnya para senior jangan terlalu larut dalam posisi itu, namun juga merentangkan jalan bagi para yunior untuk melanjutkan proyek dakwah yang tentu lebih berat dan menantang. Harus ada penghormatan mutual agar tidak menyuguhkan hiburan gratis ‘adu jotos’ di hadapan para pembenci mazhab AB di Indonesia.

Sebetulnya secara natural, para ustadz dan dai AB terdistribusi ke lahan-lahan dakwah sesusai kemampuan dan bidang utamanya. Sekelompok ustadz memfokuskan dakwahnya di kalangan ekternal non AB baik di majelis-majelis taklim rutin maupun pengajian even seperti maulid dan sebagainya. Sebagian dari mereka sukses menembus media elektronik televisi dan radio FM. Tentu, pola dakwahnya cenderung menampilkan kesamaan dan menghindari penggunaan simbol-simbol eksplisit AB (soft ustadz). Sekelompok lain mengabdikan waktunya untuk membina komunitas internal AB. Sebagian dari mereka membina secara struktural dan permanen lembaga yayasan atau sekolah diniyah. Sebagian lain membina dan mengisi acara-acara dakwah di berbagai lembaga AB sebagaimana diatur dengan regulasi dan rotasi IMAN. Para ustadz internal adalah dai-dai yang paling layak untuk dihormati karena merekalah yang rela membina dan duduk bersama dengan kelompok miskin AB. Kelompok ketiga cenderung ‘berjalan’ sendiri, kadang aktif di kalangan internal dan sering pula aktif di luar, terutama seminar dan sarasehan serta bedah buku. Semuanya memberikan kontribusi yang layak dihargai, dengan segala kekurangannya. Tentu ini semua dapat lebih optimal bila teman-teman yunior yang lebih segar dan terdidik dengan sistem yang lebih rapi bisa ‘turun gurung’ kelak.

Senior kalah pandai? La iya lah.. Sistem pendidikan yang lebih maju dan terbukanya akses informasi dan komunikai modern dan lainnya adalah faktor-faktir yang menunjang melebarnya jarak prestasi kedua generasi ini. Generasi yunior atau para mahasiswa Indonesia lebih cerdas, kritis dan komunikatif, dan semoga lebih teduh dan lebih matang. Para senior dengan hati yang lapang mesti merentangkan jalan bagi generasi fresh untuk melanjutkan misi dakwah dengan paradigma yang lebih strong.