Skip to main content

Jaringan intoleransi telah mendistribusikan agen-agennya ke semua instansi resmi, termasuk Kedutaan-kedutaan, perusahaan negara, swasta, domestik dan asing untuk menguasai masjid-masjid di dalamya.

Takfirisasi dengan ragam jenjang dilakukan secara intensif dengan doktrin kebencian lalu dirawat suhu panasnya melalui aksi-aksi terbuka panggung juga turun ke jalan.

Tak ada celah ruang yang tak terisi, offline melalui aneka acara berlabel agama dan online dalam ratusan web, ribuan akun di pelbagai sosmed dan aplikasi.

Sekilas fikih gerombolan ini sama dengan fikih umat, padahal akar teologinya beda sama sekali. Ciri khas teologi kebencian tak terlihat. Karena itulah ia mudah mendarat di benak orang-orang yang cinta agama tapi tak kritis bernalar.

Radikalisasi dimulai dari penanaman doktrin “agama tak bisa diukur dengan akal”. Selanjutnya semua ajaran tak manusiawi dicangkok.

Program radikalisasi dimulai dengan ajakan memurnikan agama dari syirik, lalu dilanjutkan dengan anjuran menegakkan hukum Allah dan diakhiri dengan instruksi memusnahkan “musuh-musuh”.

Karena sasaran utama radikalisasi adalah generasi millennial, para juragan takfirisme menjadikan beberapa idol sebagai umpan.

Anak-anak muda mulai dari yang canggung, suka ngaji sampai yang urakan semua jadi sasaran misi ini dan digarap dengan metode yang sesuai.

Moljamisme / radikalisme punya banyak cara untuk menciptakan zombie-zombie takfiri, termasuk memakai istilah-istilah gaul dan ngepop di balik program radikalisasi.

Moljamisme / radikalisme punya banyak rencana pemurnian agama dan pemusnahan umat yang tercemari bid’ah, syirik dan majusiyah dengan prioritas target yang terakhir disebut.

Tawaran belajar cepat hapal kitab suci adalah sesuatu yang sulit ditolak ibu-ibu yang cemas terhadap pengaruh narkoba terhadap anak-anak mereka. Tapi bila dijadikan pemikat misi radikalisasi generasi muda, itu sangat berbahaya.

Lolos dari narkoba obat bius dan semacamnya, terjerumus ke dalam narkoba lain yang lebih berbahaya; ekstremisme, intoleransi dan radikalisme.

Moljamisme / radikalisme cukup kreatif mengatribusi target dengan mencomot istilah-istilah yang tertera dalam teks suci, seperti thoghut untuk pemerintah dan institusi-institusinya.

Moljamisme telah mengalami mutasi dan mengupgrade diri untuk beradaptasi dengan situasi kontemporer, misalnya tak menyuruh jelatanya keluar dari instansi “toghut” seraya menjadikannya sebagai basis penularan teologi kesangaran.

loading…