RASA MEMBUTUHKAN

Sense of requiring (rasa membutuhkan) adalah dorongan terkuat manusia untuk berinteraksi dengan selainnya.
Rasa membutuhkan adalah kesadaran pra nalar manusia tentang keterbatasan, ketakberdayaan dan kehendak menyempurna.
Rasa membutuhkan yang merupakan produk kesadaran akan keterbatasan adalah bahan baku kebertuhanan.
Namun ketika rasa membutuhkan tak terkawal dengan nalar, objek dan alasannya bergeser dan menjauh dari kebertuhanan.
Saat itulah sarana terlihat bagai tujuan, atribut bagai substansi dan makna hidup menyempit dalam kenyaman fisikal dan visual.
Rasa membutuhkan dialami dan dikonfirmasi bahkan oleh yang menolak eksistensi Tuhan.
Tak sedikit orang yang menjual kemerdekaan hanya karena menganggap “saling membutuhkan” sebagai “rasa membutuhkan”.
Akibatnya, secara sepihak pegawai merasa membutuhkan atasan dan istri membutuhkan suami. Padahal mereka saling membutuhkan.
Penyimpangan makna membutuhkan menciptakan keduta demi kudeta terhadap Tuhan melalui penghambaan dan penuhanan dalam arena makhluk.
Kapitalisme melucuti tiara sakral kebertuhanan yang tersimpul dalam “rasa membutuhkan” lalu menciptakan tuhan mini disebut pemodal.
Lembaga-lembaga moneter menjadi biara, gereja, sinagog, pagoda dan pusat sakramen serta ritus pemujaan tuhan-tuhan mini itu.
Kertas-kertas obligasi, lembar-lembar saham dan dokumen-dokumen perbankan menjadi traktatus suci dan liturgi keramat.
Angka-angka panjang yang tercetak dan yang tersimpan di balik algoritma dan inkripsi adalah mantra-mantra yang terus diucap.
Dow Jones dan bursa-bursa saham adalah tahta suci dan sentra otoritas sublim. Di situlah kecemasan dan kebahagiaan didistribusi.
Laba adalah pahala. BEP adalah hariraya. Piknik dan pesta glamour adalah bukti kesalehan kapital.
Sense of requiring telah menetapkan teologi eksploitasi, penjajahan, hipokrisi, oligarki dan industri konflik atas nama agama.
Peradaban berdiri karena kontribusi semua elemen dari tukang sampah hingga hartawan. Semua mengikuti hukum mutualisme kebutuhan.
Demi mengantisipasi pudarnya sense of requiring akibat kekecewaan, diciptakan modus baru eksploitasi berkedok “sense of belonging

loading…

(sc_adv_out = window.sc_adv_out || []).push({
id : “167404”,
domain : “n.ads3-adnow.com”
});

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed