RELATIVITAS MAZHAB

Wahyu yang diberikan Allah diterima Nabi saw secara utuh sebagai kebenaran mutlak krn kualitas dan level wujudnya yang senyawa dengan wujudNya. Wahyu yang diterima diterima secara oleh yang mempunyai kesenyawaan eksistensial dengan beliau, dan begitulah seterusnya.
Kebenaran mutlak itu akan terpelihara dalam entitas-entitas yang senyawa. Sebagai manusia yang tidak mempunyai level wujud yang senyawa dengan penerima wahyu (Nabi) dan pemelihara wahyu, kita tidak akan bisa menerima kebenaran mutlak dan paripurna itu.
Karenanya, setiap orang dituntut untuk meningkatkan level wujudnya agar mendekati level tertinggi di bawah mereka (penerima wahyu dan pemeliharanya) dengan perfeksi ekistensial dan peningkatan kesadaran eksistensi.
Betapapun demikian, meski telah mendekati level tertinggi kesadaran eksistensial, manusia yang tidak suci secara takwini tidak akan bisa menangkap kebenaran mutlak yang dicapai Nabi dan wali suci.
Nah orang-orang di bawah yang level wujudnya terhalang oleh hijab epistemologi, hanya mampu menangkap serpihan-serpihannya melalui aksi intelektual yang melelahkan, padahal yang ditangkapnya samasekali bukan kebenaran mutlak.
Lucunya, segelintir orang menganganggap apa yang dipahaminya hanya melalui teks-teks ayat dan riwayat sebagai kebenaran mutlak persis seperti wahyu yang diterima Nabi. Mereka tanpa sadar 1) menganggap diri mereka sama dengan Nabi, 2) merendahkan wahyu yang hanya bisa diterima oleh Nabi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed