“RELIJIUS”

“Orangnya sih baik. Sayang, terlalu relijius.”

Mungkin pernyataan diatas terbaca dan terdengar membingungkan bagi orang yang melihat agama dari kitab dan klaim.

Pola keberagamaan tanpa aksioma logis mendorong terbentuknya sejumlah doktrin utopis yang merupakan biang intoleransi, ekstremisme dan radikalisme sebagai berikut:
1. Relijiusitas adalah paramater dan kriteria baik bagi setiap orang. Kebaikan tanpa keyakinan relijiusitas sesuai dengan doktrin yang diterima kelompoknya adalah sia-sia.
2. Relijiusitas alias kesalehan adalah pengamalan agama dalam praktik ibadah yang tertera dalam teks suci semata
3. Relijiusitas (keyakinan dan praktik ibadah yang tak sesuai doktrin intoleran) bukan hanya salah tapi sebuah bid’ah dan perusakan agama (sesuai doktrin pandangan khusus kelompoknya).

Bagi yang melihat agama dari arena praktik penganut dan dari aspek fenomena sosial yang aktual, pernyataan di atas bisa diartikan sebagai berikut:
1. Orang tak rajin ibadah formal lebih mungkin toleran terhadap orang rajin beribadah formal, apalagi terhadap orang tak rajin ibadah formal.
2. Orang yang rajin ibadah formal lebih mungkin intoleran terhadap orang yang tak rajin beribadah formal , apalagi berbeda cara ibadah, ketimbang orang tak rajin ibadah formal.

Bila harus memilih sahabat, agaknya toleran tak relijius bahkan agnostik lebih aman dan lebih menjamin kesehatan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed