Rencana Baru Serang Libanon

Minggu lalu, saya bertanya kepada seorang figur puncak Israel, seorang bekas perwira unit khusus IDF (Israel Defense Forces) dan orang dekat perdana menteri, apakah mungkin pembunuhan Imad Mughniyah dari Hizbullah telah dilakukan oleh satu kelompok Lebanon. Dia menolak ide yang menurutnya absurd tersebut.

Cara ini “terlalu canggih,’ katanya. “(Bom mobil) ini jelas dilakukan oleh sebuah operasi internasional,” dan ini merupakan “kali yang ketiga atau keempat atau kelima dalam satu tahun Israel melakukan operasi militer di Suriah.”

Ketika saya bertanya kepadanya untuk mengulangi bagian terakhir (dari pernyataannya tadi), ia menammbahkan kata “diduga”.

Namun pesannya, atau setidaknya rasa bangganya, adalah jelas. Lalu, mengapa Israel melakukan hal ini?

Pria itu berkata tentang para koleganya, “Terdapat banyak personil militer dan kabinet Israel yang sangat mendambakan (perang) putaran kedua dengan Lebanon. Jika diberikan kesempatan, mereka akan mengambilnya,” yakni menyerang Lebanon lagi, bukan meskipun “tetapi karena” persepsi bahwa serangan mereka pada 2006 mengalami kegagalan.

Meskipun IDF menghujani blok-blok dan desa-desa (Lebanon) dengan 4 juta bom kluster (beberapa di antaranya kini masih meledak), dan membunuh sekitar 200 pejuang Hizbullah dan 1000 warga sipil Lebanon (kira-kira 40 warga sipil Israel tewas akibat serangan balasan Hizbullah), mereka tampaknya meninggalkan Lebanon dengan perasaan politis yang tidak memuaskan.

Perasaan resmi (Israel) adalah bahwa mereka tidak cukup menghancurkan, atau tidak cukup menghancurkan orang-orang dan item-item yang tepat, untuk menghindari persepsi memalukan bahwa mereka telah kalah melawan Hizbullah.

Sebagai opsi untuk menyelesaikan problem ini, mereka tampaknya mengambil sebuah pembunuhan provokatif sebagai langkah untuk mengarahkan Hizbullah untuk melakukan pembalasan dan menyediakan bagi mereka dalih bagi penghancuran yang baru–sekaligus lebih baik–yang kali ini akan “berhasil”, yakni demi mengobati sakit hati Israel.

Terdapat upaya-upaya untuk meletakkan hal ini dalam term-term strategis, sebagaimana yang disukai para pembunuh terdidik (atau orang-orang yang mempelajari mereka). ‘Israel harus membuktikan nilai strategisnya kepada Amerika Serikat’ (Apa? Washington hendak menyingkirkan Israel? “Kemenangan” Hizbullah memperkuat orang-orang Palestina, atau Lebanon, atau menempatkan eksistensi Israel dalam bahaya?) Atau, alternatifnya: ‘Hizbullah harus dilenyapkan’ (dimana setiap orang tahu ini tidak mungkin).

Pada kenyataanya, semakin dekat anda melihat, maka semakin tampak bahwa ini seperti psikoterapi darah para pemimpin (Israel). Dan hal yang sama berlaku bagi publik yang mengikuti mereka. Olmert berada dalam kesulitan politis. Jika dia tidak segera membunuh beberapa orang Arab (siapa dan di mana adalah hal sekunder), maka pemerintahan koalisinya mungkin akan bubar. Dan publik juga harus merasa senang.

Problemnya adalah bahwa institusi politik Israel kini menetapkan cara ini: bukan hanya menuntut pembunuhan rutin orang-orang Palestina, tetapi sebuah serangan periodik yang dramatis sehingga membiarkan mereka tampil sebagai pahlawan/korban.

Adalah satu hal bagi sebuah negara untuk membunuh dan/atau menindas yang lain ketika publik lokalnya tidak mengetahui hal tersebut (seperti kasus ketika Washington menghancurkan sebagian besar Amerika Tengah pada 1980-an), tetapi adalah hal yang berbeda ketika publik tahu dan bahkan mendukung ketidakadilan dan kejahatan (seperti kasus perbudakan kaum kulit putih AS, dan fase pertama dari perang Irak).

Dalam situasi yang pertama, kebijakan pembunuhan jelas lemah. Jika kata-kata muncul, maka publik akan marah. Namun dalam situasi yang kedua, ia lebih stabil, mematikan karena publik tahu dan bahkan meminta lebih.

Namun publik dan negara-negara tidak seluruhnya menulis sejarah mereka sendiri. Mereka biasanya berinteraksi dengan yang lain.

Dalam kasus Israel, interaksi kunci adalah dengan AS, penjamin militer/pendukung massa mereka, dan juga dengan Yahudi-Amerika.

Di sisi lain, orang-orang Palestina dan kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Hamas harus berhenti membiarkan diri mereka digunakan sebagai sebuah tombol “provokasi-respon” yang bisa Israel tekan kapan pun ia menghendaki sebuah kejutan.

Alan Nairn adalah jurnalis investigatif AS yang memenangi beberapa penghargaan. Dia terkenal ketika dipenjarakan militer Indonesia ketika meliput Timor Timur.

(Ditulis Oleh Allan Nairn. Sumber : www.icc-jakarta.com  Jumat, 22 Pebruari 2008).

Tulisan ini diterjemahkan dan disarikan dari buletin politik CounterPunch.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed