Resensi “Lost Butterfly”: Pergulatan Filsafat Transeksual dalam Novel

Orang-orang yang terjebak dalam raga tak sesuai dengan jiwa mereka mestinya dibantu dengan solusi. Bukan dikucilkan, apalagi tidak diperbolehkan memenuhi hasrat seksualnya dengan cara yang benar.


Perdebatan filosofis dan religius tentang transeksual dibahas dalam novel ini. Tentu saja dibalut cerita tentang mantan pria yang diperankan oleh Fitriyana Maria Lucci (Maria). Ia gamang terhadap cinta pada seorang lelaki atau melayani nafsu perempuan. Maria juga gamang pada status dirinya, karena masyarakat masih memandang miring terhadap kaum ganti kelamin (transeksual).
Penulis sejak awal sudah tak sepakat dengan istilah waria. Menurut dia, istilah waria kurang tepat, karena melestarikan ketidakjelasan, wanita sekaligus pria. Padahal waria, pada umumnya, memperlakukan diri sebagai perempuan dan memandang laki-laki sebagai lawan jenis. Istilah yang lebih tepat adalah mantan pria—maria. Karena mereka sudah meyakini dan menegaskan diri sebagai wanita.
Keberadaan transeksual nyata ada dan tak bisa dinafikan. Pembelaan terhadap kaum transeksual dalam novel ini melalui perdebatan antara Arman, seorang dosen di sebuah universitas Islam, dengan kawannya Siswoyo, yang memahami transeksual seperti orang pada umumnya.
Apakah mengubah kelamin merusak ciptaan Tuhan atau menyalahi kodrat? Karena dilahirkan sebagai laki-laki malah mengubah diri menjadi perempuan. Istilah Siswoyo, yang pemikirannya lateral, sama saja mengubah cetakan Allah. “Bukannya bersyukur dilimpahi kesempurnaan, malah sesukanya sendiri menyunting ciptaan Tuhan.”
Sebaliknya Amran. Sebagai tokoh pembela kaum transeksual dia berpendapat dalam sebagian kasus mungkin benar, mereka melanggar kodrat dan mengacaukan tatanan alam. Tapi pada sebagian lainnya, alih-alih melawan kodrat, mereka malah layak disebut mengikuti kodrat atau lebih tepatnya kembali kepada kodrat penciptaan.
Lho, kok, orang yang ganti kelamin bisa disebut kembali ke kodrat? Jelas-jelas mereka mengubah ciptaan Tuhan. Ditakdirkan Tuhan menjadi cowok malah berubah menjadi cewek? Kembali kepada kodrat penciptaan bagaimana?
Klaim merusak penciptaan Tuhan di alam ini adalah salah. Sebagai sesama orang beragama seharusnya tahu manusia tak bisa dan tak akan pernah bisa mengubah ciptaan Tuhan. Manusia hanya bisa menyusun ulang, mengubah komposisi, dan membentuk lagi yang baru dari bahan-bahan yang diciptakan Tuhan. Itu pun dengan izin-Nya, yang disebut sunnatullah, hukum alam atau sistem penciptaan.
Menuduh operasi ganti kelamin atau transeksual sebagai merusak ciptaan Tuhan atau melanggar kodrat, menurut penulis novel ini, adalah mengerdilkan Tuhan itu sendiri. Menempatkan Tuhan bukan lagi Maha Pencipta dan Maha Kuasa, sehingga ciptaan-Nya bisa diubah makhluknya yang bernama manusia.
Penulis, lewat Amran, menyangkal. Kalau operasi ganti kelamin dianggap merusak ciptaan Tuhan hanya karena mengubah komposisi dan menyusun ulang pemberian Tuhan, maka memotong kuku, mencukur rambut, dan jenggot, sunatan, memasang tangan dan kaki palsu, atau bahkan mengamputasi anggota tubuh yang terkena penyakit bisa juga disebut mengubah ciptaan Tuhan. Bedanya hanya pada obyek yang direkonstruksi, yang satu kuku, satunya lagi alat kelamin.
Kita tidak boleh memvonis mereka begitu saja hanya karena dilahirkan berbeda dengan manusia normal lainnya. Banci juga manusia, punya hak pula untuk hidup damai. Jangan dicibir karena dilahirkan berbeda dari yang lain.
Penulis ini membagi dua jenis banci: khuntsa dan waria. Khuntsa sejak lahir fisik dan genetisnya terkemas dalam raga yang tidak sesuai dengan kecenderungan jiwanya. Statusnya masih belum jelas, pria atau perempuan?
Sedangkan waria, seperti namanya, adalah pria normal yang lebih suka berperilaku seperti wanita dalam kehidupan sehari-hari. Jelas seorang pria, cuma berperilaku seperti wanita. Ini yang perlu dipertanyakan motivasinya, biasanya, persoalan ekonomi atau mata pencarian.
Tapi, kalau tipe khuntsa berbeda. Tak boleh disalahkan karena dia dilahirkan dalam kondisi yang berbeda dengan orang kebanyakan. Nah, tipe inilah menurut penulis yang juga doktor filsafat, yang harus diarahkan untuk mempertegas identitasnya. Seperti juga mereka yang lahir dengan kelamin ganda, ambigous genitalia, “Zalim kalau kita ikut memusuhinya.” (Koran Tempo, Minggu, 20 Maret 2011, , ditulis  oleh Ahmad Taufik, jurnalis pemerhati transeksual).

Judul buku: Lost Butterfly: Dilema Cinta Mantan Pria
Penulis: Yanda Sadra
Penerbit: Tinta Publisher, Jakarta
Terbitan: Januari, 2011
Tebal: 330 halaman ++

 

http://tempointeraktif.com/hg/buku/2011/03/20/brk,20110320-321453,id.html

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed