RI Tak Penuhi 3 Kriteria Negara Lolos Krisis Minyak

Indonesia terancam tidak bisa lulus melewati krisis harga minyak. Dari tiga kriteria negara yang sukses melewati krisis harga minyak, Indonesia tidak memenuhi satu kriteriapun.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menjelaskan tiga kriteria tersebut dalam jumpa pers di departemen ESDM, Jakarta, Senin (22/10/2007).

Pertama adalah negara yang sudah menerapkan kebijakan mekanisme pasar untuk penjualan BBM-nya. Artinya, tidak ada lagi mekanisme subsidi BBM yang membebani pemerintah.

“Lihat saja Jepang yang tidak pernah mengeluh dengan harga minyak. Karena dia pakai mekanisme pasar,” katanya.

Kedua adalah negara yang sudah menerapkan efisiensi energi. Salah satu bentuk nyatanya adalah tidak adanya subsidi listrik.

Saat ini, subsidi listrik pun masih dinikmati masyarakat Indonesia baik yang kaya ataupun yang miskin. Masyarakat mampu cenderung boros menggunakan listrik karena merasa mampu membayar. Sama sekali tidak terjadi efisiensi. Bahkan pertumbuhan penjualan listrik sama sekali tak bisa ditahan.

Ketiga adalah negara yang sudah menerapkan energi alternatif seperti biofuel. Misalkan adalah Brasil yang sudah menggunakan biofuel untuk berbagai macam keperluan.

Indonesia juga masih jauh dari kesuksesan mengembangkan energi alternatif. Indonesia bahkan bisa dikatakan masih ‘bayi’ dalam hal ini.

Karena target Indonesia sampai 2010 masih di tataran luas wilayah yang digunakan untuk penanaman biofuel, yaitu 5,25 juta hektar.

“Itu baru sektor hulu. Belum hilir, butuh waktu untuk hasil di hilir bisa dirasakan,” kata Wakil Ketua TimNas BBN Evita Legowo di kesempatan yang sama.

Purnomo hanya menegaskan, kondisi ini bisa berubah jika Indonesia berani menerapkan kebijakan di sisi permintaan.

“Namun ini akan sulit, karena harga BBM subsidi tidak akan berubah sampai 2009. Itu janjinya,” tegasnya.

Krisis harga minyak pernah terjadi pada tahun 1970-an saat terjadi perang Irak dan Israel. Lalu terjadi lagi pada 1980-an saat terjadi perang Irak dan Iran. Terakhir terjadi pada 2004 setelah kejadian runtuhnya WTC pada 11 September yang diikuti invasi AS ke Irak. Dan pada tahun 2005, krisis minyak kembali terjadi seiring terjadinya badai Katrina.

Dan pada krisis kali ini, bisakah Indonesia lolos? (Detikfinance)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Indonesia sebenarnya punya potensi energi alternatif yang besar. Pilihan bagi kita adalah antara lain:
    1. Geothermal. Sbg negara yg beradai di wilayah “ring of fire”, Indonesia punya banyak potensi untuk memanfaatkan panas bumi. Untuk pulau Jawa saja ada potensi sekitar 23000 MW, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan puncak listrik Jawa Bali (15000 MW).
    2. Energi Surya. Sebagai negara yang terletak di khatulistiwa, Indonesia punya keunggulan berlimpahnya energi surya sepanjang tahun yang tidak dipengaruhi musim. Untuk mencukupi kebutuhan listrik nasional (sekitar 20000 MW) bisa dipenuhi dengan sel surya seluas 1/2 Jawa Barat atau kurang.
    3. Energi angin dan gelombang laut. Dengan ciri negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat besar. Belum ada yang menghitung berapa potensi dari energi angin dan gelombang laut yg dimiliki Indonesia, tapi pastinya potensinya sangat besar.
    Teknologi untuk mengambil energi2 alternatif ini sudah sangat mapan dan terhandalkan, kita tinggal menggunakan teknologi yang telah ada. Kendalanya hanyalah, seperti biasa, mahal. Tapi mahal sebenarnya bukanlah kendala yang riil, hanya batas psikologis.
    Jadi, hanya perlu sedikit kekompakan dan kemauan bersama, nanti Indonesia bisa menjadi negara yang independen dari minyak bumi. Kekompakan dan kemauan, suatu yang asing bagi warga Indonesia yang hidup di generasi ini.

News Feed