Skip to main content

Gugurnya tiga ruhaniawan sebagai korban aksi kebencian di lingkungan pusara Imam Ridha yang secara umum dianggap sebagai tempat paling aman mestinya menyadarkan kita bahwa derajat setiap orang di “Jalan Kesucian” yang terjal dan berliku ini ditentukan oleh besarnya risiko yang dihadapinya kapan dan di mana pun.

Dalam konteks umum, risiko (bukan “resiko” menurut kaidah EYD) adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Kerugiam dalam pengertian mencakup kematian, kebangkrutan dan sebagainya. Dalam konteks perusahaan, risiko diartikan sebagai semua kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang bisa membuat perusahaan merugi. Dalam konteks agama dan ideologi agama, risiko adalah konsekuensi sebuah pilihan.

Berempati kepada para martir seharusnya bukan ekspresi iba yang terkesan seolah retorik dan simbolik semata karena mereka tak memerlukannya tapi ikrar kesiapan menerima risiko itu.

Siap menerima risiko berarti proaktif berpartisipasi dan berkontribusi dengan komitmen, milintansi dan konsistensi yang diejawantahkan dalam kerja kolektif,, integral dan terwadahi.

Jalan Kesucian ini sepi karena kebanyakan orang mencari jalan nyaman dan posisi paling aman dengan risiko terkecil. Jalan Kesucian ini lengang karena sebagian pelintasnya tak tahan derita lalu meninggalkannya. Jalan Kesucian ini sunyi karena satu demi satu pelintasnya berguguran.