RISIKO MENGANUT SEBUAH KEYAKINAN

 
Aasiya : Aku Pilih Islam, Saya Tidak yakin Dengan Hindu ...
Yang sering diabaikan oleh banyak orang saat menentukan sebuah agama, mazhab dan ideologi sebagai anutan pilihan adalah memahami konsekuensi prakris dan risiko sosial dalam aneka aspeknya. Bila tidak, penganut mengalami guncangan berat, terutama bila yang dianutnya adalah keyakinan yang dianut minoritas dan menjadi objek diskriminasi.
Banyak faktor yang menciptakan guncangan teologis.
 
Antara lain sebagai berikut:
  1. Menganutnya karena ikut-ikutan figur yang terlanjur diagungkan dan dianggap sebagai representasi kebenaran. Saat figurnya juga mengalami guncangan teologis karena miss-epistemik, para pengikutnya pun “menari” bersamanya.
  2. Menganutnya karena salah ekspektasi. Karena mengira akan mendapatkan posisi sosial yang diincarnya, ia pun guncang dan lompat. Fenomena ini kerap terjadi dalam kancah politik.
  3. Menganutnya karena hubungan sosial atau kedekatan personal dalam interaksi bisnis atau ikatan kemitraan. Ketika hubungannya memburuk atau putus, keyakinan atau ideologi yang dipilih karena kepercayaan dan kekaguman kepada mitranya pun putus.
  4. Menganutnya karena beratnya tekanan dan kegagalan dalam beradaptasi dengan lingkungan keyakinan atau ideologi yang mengakibatkan kecanggungan dan miskomunikasi. Ketika adaptasi gagal, semangat dan antusiasme teologis dan ideologisnya pun menguap.
  5. Menganutnya karena tertolak oleh komunitas keyakinan atau ideologi sebelumnya karena divonis cacat moral akibat perilaku buruk atau fitnah yang menimpanya sehingga mendorongnya mencoba memasuki atmosfer baru dalam sebuah komunitas dengan keyakinan baru. Ketika mengalami penolakan dari komunitas keyakinan yang baru dianutnya, karena perilaku buruknya diketahui, dia hengkang.
  6. Menganutnya karena mengira keyakinan yang baru dianutnya akan direspon oleh komunitas dengan jaminan sosial dan finansial sebagai ganti rugi atau semacan garansi atas keputusannya bergabung di dalamnya.
  7. Menganutnya karena mengira keyakinan yang baru dianutnya tak menuntutnya berpikir serius (hanya cukup menyatakan diri sebagai penganu) dan bertanggungjawab atas kehidupan sosialnya sendiri. Ketika sadar ketakmampuan menjadi penganut sesuai standar baku dalam keyaninan baru, dia mengalami turbulensi dan mulai menunjukkan perubahan pandangan dan sikap dalam celoteh-celoteh.
  8. Menganutnya karena pendekatan emosional dan historikal tanpa memulainya dari konsep kewenangan yang meniscayakan kepatuhan hierarkis dalam sikap dan tindakan. Ketika tak sanggup mengubur egonya menghadapi konsekuensi berat itu, ia pun mencari pembenaran apologetik melalui pernyataan-pernyataan yang mengindikasikan penolakan teologis.
  9. Bila keguncangan teologis dialami oleh seseorang yang dikenal bahkan mungkin orang yang memperkenalkan keyakinan itu kepadanya, mungkin situasi itu menularinya. Itulah mengapa perlu menjadikan akal sehat dengan logika dijadikan sebagai juri dalam menganut keyakinan dalam teologi, ideologi dan visi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed