SADAR GIZI

“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa : 24).

Ayat ini sekilas terbaca ringan dan bermakna sederhana. Makanan dalam pengertian sempit adalah benda yang dikonsumsi demi menghindari kerusakan fisikal dan mencapai kesempurnaan fisikal. Manusia dianjurkan untuk mengenali makanannya, memastikan hukum halalnya dan lainnya serta menelusuri sumber sah dan cara legal perolehannya. Kata para etikawan, itulah yang mempengaruhi kecenderungan, karakter dan perilakunya.

Jelaslah bahwa setiap orang harus peduli terhadap makanan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya, unsur-unsur dan kandungannya. Perhatian ini bisa membuatnya sadar gizi dan sehat serta kuat. Namun bila menjadikan makanan yang di hadapannya sebagai garis start untuk menelusuri proses transformasi atomik, mineral, botani dan biologis hingga garis finish kesadaran kosmologis dan teologis, ia bisa menyingkap cakrawala eksistensi dan sistem penciptaan iluminatif yang transenden dan sistem perfeksi yang immanen. Inilah kelana quantum jiwa yang meluncur sebuah benda di atas meja lalu menembus buana dan jagad raya.

Dalam pengertian luas, makanan adalah sesuatu yang dikonsumsi demi menghindari kehancuran dan mencapai kesempurnaan fisikal dan metafisikal.

Kata singkat ini menggedor nalar manusia dan mendorongnya untuk mengenali apa pikiran-pikiran yang didownloadnya, validitas dan kebenarannya, efek-efek moral terhadap dirinya dan diri lainnya dan menelusuri sumber dan cara memperolehnya.

Imam Al-Baqir dan Imam Al-Shadiq AS, menjelaskan bahwa makanan dalam ayat ini berarti pengetahuan, “dari mana dia mengambil pengetahuannya .” (Wasa’il, vol. 18, hal. 43, bab 7).

Demi mencapai kebahagiaannya dan kesempurnaan holistiknya, bagi jiwa dan raganya, manusia memerlukan makanan material lengkap dan makanan immaterial yang sempurna yang bisa menjaga stamina raga dan jiwa agar kebal dari virus dan bakteri intelektual dan material.

Penolakan dan penerimaan terhadap kebenaran atau kepalsuan juga kebaikan atau keburukan dan semua nilai bermula dari pikiran. Gizi dan kualitas kehalalan serta cara mendapatkan makanan yang menjadi bahan bakar otak (organ fisikal yang terdekat dengan akal) mempengaruhi gerak pikirannya. Flukltuasi watak dan prilaku serta perubahan menjadi buruk atau baik adalah output makanan fisikal dan metafisikalnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed