"SADISME ISLAMI"

"SADISME ISLAMI"

Satu atau beberapa orang meriuhkan hari-hari jelang Idul Qurban secara terbuka dalam sebuah konten video di media sosial dengan menggunakan frasa sembelih.

Kata sembelih punya makna yang lebih khusus dari membunuh. Bila pembunuhan bisa dilakukan secara spontan, maka penyembelihan dilakukan secara terencana

Penyembelihan berbeda dengan pemancungan yang biasanya dilakukan sebagai salah satu metode pelaksanaan hukuman mati terhadap manusia, tentunya. Dengan kata lain, penyembelihan bukanlah salah satu pilihan cara penegakan hukum dan tidak diterima oleh peradaban manusia waras.

Sebagian penggemar sadisme menikmati sensasi derita objek yang disembelih dalam durasi waktu yang cukup selama proses pemutusan urat-urat leher memuncak pada adegan gelepar-gelepar.

Rupanya kini berkat dominasi rezim algoritma kata sembelih tak lagi dipersepsi sebagai sesuatu yang buruk tapi justru dianggap wajar, menyenangkan dan perlu. Sadisme verbal dan visual secara medsos telah diterima sebagai bagian dari industri hiburan di layar lebar sebelum tik tok dan lainnya menyuguhkan video pertarungan resmi ala UFC. Tayangan yang menyediakan adegan darah di muka petarung dan cipratannya di lantai arena, ataupun perkelahian di jalan dan ruang publik.

Kata ini tidak ditujukan kepada hewan sebagaimana dianjurkan dalam ritus haji tapi ditujukan kepada manusia, bukan satu atau beberapa orang namun lebih dari 1 juta jiwa manusia secara total.

Meski dilontarkan sebagai ancaman dan teror serta provokasi juga agitasi oleh figur yang punya sejarah panjang dalam omong kosong yang menjadi modal tunggal mencari receh dan popularitas, kata sembelih yang meluncur dari liang mulutnya menyasar satu komunitas secara menyeluruh mencakup bayi, remaja, pemuda, dewasa, tua hingga manula, laki dan wanita.

Yang luar biasa, kata "sembelih" ini disambut comment-comment yang mendukung. Ajakan ethnic cleansing ini terdengar wajar di telinga para hater setelah dibius oleh sistem algoritma yang memudahkan sebaran luas ujaran kebencian masif dan intensif dengan aneka umpatan dan hujatan.

Aksi terpadu lebih dari satu tahun yang dimulai dengan pembatalan nasab dan memuncak dengan ancaman sweeping, usir dan sembelih ini diharapkan oleh para pelakunya cukup ampuh mengisolasi dan membunuh karakter satu komunitas, termasuk nenek moyang mereka, meski sasaran utamanya adalah segelintir individu tak kapabel dari komunitas itu yang menguasai panggung even-even keagamaan, apalagi dibumbui dengan klaim membela NKRI, menjaga Pancasila, melindungi Nusantara.

Memang media mainstream dan Pemerintah takkan sudi menanggapi rengekan dan tuntutan komplotan abskrurantis rasis ini sebagai aspirasi yang beradab, tapi publik awam yang tersandera oleh candu engagement bisa mengalami dekadensi moral serta degradasi intelektual. Meski tak boleh baper tapi antisipasi dan prevensi demi menjaga eksistensi mozaik indah bernama Indonesia perlu dilakukan.

Read more