Samakah “Beda” dengan “Sesat”?

 anarki.jpg

Beberapa hari lalu pada tengah malam sekitar pukul 12.00 (Ahad) – 00.30 (Senin dini hari) waga kota Bangil yang lelap dalam tidur dikejutkan oleh sebuah peristiwa mencekam.

Sekawanan orang dalam konvoi sepeda motor yang meraung-raung dan truk berisikan sejumlah orang melakukan aksi-aksi anarkis.

Mereka menodai sebuah masjid kuno dengan menjebol pintunya dan meneror rumah sejumlah tokoh agama dengan melemparkan batu-batu dan memadamkan pusat listrik. Tidak sampai di situ. Mereka juga berteriak dengan mengancam, memaki dan melontarkan kata-kata tak senonoh di depan gerbang sebuah pesantren putri yang telah lama berdiri di kota tesebut.

Ternyata aksi itu dipicu oleh isi pidato seorang penceramah dalam pengajian yang diselenggarakan oleh sebuah majelis taklim. Rupanya sang penceramah yang berlabel ‘habib’ telah menjejali para peserta pengajian dengan sejumlah ucapan yang mengarah kepada ajakan untuk melakukan tindakan anarkis terhadap sebuah pesantren dengan dalih mengajarkan ‘aliran sesat’.

Akhir-akhir ini isu dan stigma ‘aliran sesat’, sejak kasus kelompok al-Qiyadah mecuat ke permukaan, mulai dimanipulasi dan disalahgunakan oleh beberapa gelintir manusia yang mengenakan topeng mubalig, secara tidak sadar atau sadar, untuk menitipkan dendam pribadi dan kelompok tertentu melalui hasutan dan propaganda atas nama pemberantasan aliran sesat.

Orang-orang yang mengais rezeki ceramah provokatif ini bisa menempuh segala cara demi mencapai tujuan dan kepentingan, meski kadang mencederai bahkan mengakibatkan pembunuhan. Oknum-oknum predator demikian merasa mampu melepaskan diri dari jerat hukum dengan berkelit dan bersembunyi di balik massa yang digerakkan.

Sudah diketahui oleh umum, aparat penegak hukum selalu kesulitan, nyaris tak berdaya, dan bahkan terkesan tidak peduli mana kala kasus penganiayaan dilakukan oleh massa. Selalu saja yang dikeluhkan adalah kesulitan untuk mengidentifikasi dan menemukan alat bukti. Padahal, tidak perlu menjadi sarjana hukum untuk memahami bahwa rekaman ceramah yang berisikan hasutan bisa diproses dalam BAP dan dijadikan alat bukti yang cukup untuk diajukan dalam persidangan.

Aparat hukum tampak kurang bersemangat menangani kasus-kasus anarkis terutama yang digerakkan oleh tokoh yang dikenal sebagai dai. Akibatnya, banyak kasus penghancuran rumah ibadah, kuburan dan penganiayaan terhadap orang-orang yang diduga sebagai penganut aliran sesat dan tukang santet menjadi ex-file. Lalu mana manifestasi dari semangat penegakan hukum yang menjadi salah satu agenda reformasi? Bila setiap orang dengan dalih ‘memberantas aliran sesat dan kemakistan’ main hakim sendiri di setiap tempat, dan aparat tampak ogah-ogahan mencegahnya, maka berarti demokrasi dan HAM belum pernah tegak di negara ini.

Memang, aparat keamanan semestinya tidak ikut campur dalam soal agama dan aliran berkenaan dengan sesat atau tidaknya, karena keyakinan bukanlah sesuatu yang bisa diadili. Namun aksi main hakim sendiri, meskipun dilakukan oleh labih dari seribu orang dan meski mengusung jargon ‘menentang aliran sesat, harus ditindak tegas. Bukankah tugas dan kewajiban aparat keamanan memberikan jaminan keselamatan dan keamanaan kepada setiap warga, apapun agama dan alirannya? Apakah karena yang dianggap sebagai penganut aliran sesat hanya kelompok kecil dalam mayoritas masyarakat sehingga aparat menganggap harta dan nyawa mereka diberi harga discount?

Di sisi lain, para intelektual Muslim dan orang-orang yang menyandang predikat ulama semestinya menjadi teladan dan pnyejuk yang tak lelah menyadarkan masyarakat tentang penting menerima keragaman sebagai dasar bermasyarakat dalam himpunan yang majmuk dan sebagai realitas natural.

Ironisnya, ada saja penulis buku picisan dan penceramah yang menyemburkan api permusuhan dan kebencian antar sesama manusia, sesama muslim dan sesama umat beragama. Yang lebih memprihatinkan lagi, fakta bahwa kebenaran adalah sesuatu yang abstrak sehingga terbuka bai multi interpretasi tidak juga dipahami oleh orang-orang yang sepantasnya memahami kompleksitas kehidupan yang serba dinamis.

Anehnya, sejumlah aliran yang jelas-jelas berbeda dengan pandangan mainstream masyarakat Muslim di Tanah Air, seperti LDII, lembaga yang membungkus kelompok Islam Jamaah, tidak terusik dan terkena badai stigma aliran sesat. Ada apa di balik ini semua? Apakah karena deal politik tertentu? Tebang pilih?

Apa yang terjadi di kota Bangil adalah potret buram kelalaian ulama, aparat dan intelektual Muslim di negara ini. Apa yang akan dihadapi oleh bangsa ini di kemudian hari bila ‘beda’ dianggap sama dengan ‘sesat’? Neraka jenis apa yang akan kita masuki bila kreasi dan kebebasan berpikir diberangus dan dibalas dengan vonis sesat, kafir, murtad dan akhirnya halal untuk dibunuh!!!!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 comments

  1. Adanya perbedaan dalam setiap pandangan adalah seni dalam menjalani hidup ini. Kalau di tanggapi dengan hati yang lapang tentu akan menjadi hikmah yang sangat dalam, tetapi bagi masyarakat awam tentu hal ini tidaklah mudah mencernanya. Tinggal bagaimana dai-dai atau pemuka-pemuka agama mempunyai kemampuan untuk melakukan kajian mendalam terhadap perbedaan itu.
    Sayang…., kebanyakan para dai dan pemuka agama wawasan nya hanya terbatas pada lingkup informasi yang sempit atau memang malas membuka cakrawala berfikir.
    Makanya…., sering sering join di blog ini, biar ngga seenaknya memaknai perbedaan = sesat.

  2. Siapa yang mengkafirkan orang yang telah mengucapkan La Ilaha illallah Muhammad Rasulullah, berarti ia sendiri yang telah kafir. Gak peduli nasab-nya, mau mengklaim sebagai habib kek, mau ngaku keturunan kaisar Tokugawa kek. Gak peduli jubah yang dipake, mau pake jubah ulama, mau pake baju perlindungan senjata kimia, pokoknya kafir, kafir dan kafir orang yang telah mengkafirkan dan menghalalkan darah orang muslim, apa pun mahzab-nya!!
    Dan laknat Allah bagi orang-orang kafir sejati!!
    Terus seingat saya ada kategori terakhir menurut MUI satu dari 10 ciri-ciri aliran sesat: Mengkafirkan sesama Muslim karena perbedaan.

  3. saya warga kota bangil.dan peristiwa mencekam tersebut adalah awal dari rusaknya ketenangan kota kami.
    saya bersama segenap warga bangil akan mengajukan gugatan terhadap pemerintah daerah kabupaten pasuruan untuk menutup dan menghentikan aktivitas majlis ta’lim yg memprovokasi umat untuk menghancurkan umat.
    kami melakukan ini bukan demi syiah atau sunni..kammi kebanyakan bermadzab sunni tapi demi ketenangan warga dan kota kami.
    ulama yg memprovokasi warga tidak akan pernah di izinkan beraktivitas di kota bangil.mohon dukungan,karena sampai saat ini kami masih mengumpulkan tanda tangan warga.hanya yahudi yg berkepentingan memecah belah islam jadi ulama ini adalah yahudi.dan yahudi adalah musuh islam..mohon doa..terima kasih.

  4. Bila mendengar musibah seperti ini, rasanya hidup di negara non-muslim, terutama yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia, menjadi yang paling ideal. Sifat anarkis sangatlah menganggu, terlepas dari apa yang memicunya. Ana hanya bisa berdoa, mudah-mudahan negeri tercinta ini bisa mengambil contoh dari negara-negara yang begitu menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan hak asasi, tentunya tanpa meninggalkan akidah Islam-nya.

  5. WADUH KOTA KECIL NAN SEJUK DENGAN ALUN ALUN
    DIDEPAN MASJIDNYA MILIK NU KALAU AGAK KEBAWAH DEKAT
    JEMBATAN ADA MASJID MUHAMADIYAH
    AKU PERNAH 2 X DIKOTA SANTRI INI ASYIK BETUL
    TAPI WAKTU ITU AKU MASIH BERFAHAM SUNNI
    SAUDARA FAMILIKU ADA DI PERCETAKAN AL MUSLIMUN
    SAYA TERMASUK MASIH BOLEH DIKATAKAN FAMILI DAN SAUDARA
    DARI HASAN BANDUNG YANG CUCUNYA ADA DIBANGIL
    MENDIANG MAMU TAJUDIN,MAMU HUD DAN SEKARANG MAMU SADID
    SAYA KENAL BETUL
    NAMUN MENGAPA YAA SENSITIF SEKALI KALAU DARI
    KOTA SANTRI SEJUK SEPERTI BANGIL MENJADI TEMPAT
    BARA API
    TANKS DENGAN BERITA NYA

  6. Kriteria Ulama (sebenearnya sih ngaku-ngaku) yang laris di Indonesia
    1. Sedikit Pemikirannya
    2. Ahli ‘fiqh’ penghasutan
    3. Ahli ‘fiqh’ penuduhan
    4. Ahli ‘fiqh’ pengkafiran
    5. Ahli Matematika ( 100 X Undangan Ceramah = Sugih)
    6. Ahli Ngelawak
    7. Ahli Mengkilat Jidat (Plesetan dari Bersilat Lidah)
    8. Ahli Gengsi
    Jika semua sudah ada dalam diri ‘Pengaku’ Ulama maka sukseslah penghancuran akhlak umat. SELAMAT

  7. KENAPA YA KOMUNITAS DI JAWA TIMUR SELALU MENGALAMI HAL TERSEBUT? APAKAH ADA YANG SALAH DALAM HUBUNGAN DENGAN MASYARAKAT UMUM DAN KHUSUS ATAU MEMANG ADANYA PROVOKATOR DARI LUAR…TAPI YANG AGAK MENGELITIK PIKIRAN,KENAPA ORANG LUAR BERHASIL MEMPROVOKASI MASYARAKAT DISANA UNTUK MELAKUKAN TINDAKAN ANARKIS , PADAHAL YANG DI INTIMIDASI ADALAH WARGA ASLI atau WARGA YANG SUDAH MUKIM LAMA….KENAPA?…….KENAPA?…..KENAPA……
    APAKAH KELOMPOK MINORITAS JUGA SUDAH INTROSPEKSI KEDALAM….

News Feed