SAMAKAH BIDEN DENGAN TRUMP?

Melihat AS bisa dengan perspektif. Bila dilihat dengan perspektif ideologi resistensi, siapapun pemenang dalam pilpres negara adidaya tetaplah imperialis yang memperlakukan negara dan bangsa lain sebagai hambanya. Tapi bila dilihat dengan perspektif pragmatisme politik, Biden tidaklah sama dengan Triump.
 
Yang pasti, Biden menang bukan karena kekayaan dan jurus jitunya kampanye tapi karena dia menghadirkan diri sebagai rival Trump dan sebagai pihak yang ingin mengambil alih posisinya sebagai orang nomer satu. Ini lebih pantas dilukiskan sebagai kekalahan Trump ketimbang kemenangan Biden.
 
Karena ingin menggantikan Trump, maka dia -mau tidak nau- harus mengkritik langkah-langkah dan sebagian besar police-nya terkait dengan luar negeri terutama Iran dan dunia Islam sebagai tema dan konten kampanye. Absurd bila dia terpilih karena mendukung kebijakan-kebijakan Trump.
 
Selain itu, karena ingin mengalahkan Trump dan karena fakfa kekuatan dan pengaruh politik dua partai kontestan relatif berimbang, Biden sebagai kandidat Republikaj harus memantapkan hati rakyat pendukung Demokrat dan mengambil hati sebagian pendukung Republik sebelum pemungutan suara dengan memberikan janji perubahan.
 
Sikap terhadap Iran
 
Meski tetap mempertahankan sikap waspada dan curiga serta bersikap pasif bahkan menganggap sejak dua kandidat tersebur tak jauh berbeda dalam menghadapinya, Iran sebagai negara yang paling dirugikan oleh langkah-langkah arogan Trump, tentu lebih lega dengan tersingkirnya Trump tanpa perlu mengeskpresikan kegembiraan atas kemenangan Biden. Setidaknya pernyataan salah satu wakil Hasan Rouhani tentang hasil akhir pilpres AS yang berisikan himbauan dan harapan perubahan sikap dan kebijakan terhadap Iran mengindisikan gaya dan intonasi yang lebih kalem.
 
Bila nyatanya Biden menganulir sikap terhadap perjanjian nuklir yang sebelumnya telah disetujui oleh Obama dan dibatalkan secara sepihak oleh Trump dengan membuka kembali peluang dialog dan perundingan tak langsung. Iran yang mengalami krisis ekonomi akibat embargo global dan multidimensional, Iran mungkin akan berpandangan realistis bahkan mungkin pragmatis selama tidak keluar dari koridor konstitusinya.
 
Sikap terhadap Saudi dan Yaman
 
Sejak mengumumkan pencalonan, Joe Biden telah berulang kali mengecam Muhammad bin Salman, penguasa aktual Arab Saudi yang ditudingnya sebagai otak pembunuhan sadis terhadap Khasogi seraya berjanji bila terpilih akan menjatuhkan sanksi berat. Biden juga berulang kali mengungkapkan keprihatinan atas tragedi kemanusiaan di Yaman terutama yang dialami bayi dan anak-anak sebagai korban agresi militer Saudi.
 
Sikap tegas Biden tentang Khasogi dan Yaman membuat rezim Saudi canggung merespon kemengannya. Dilaporkan bahwa Saudi yang dianggap negara paling setia dan patuh kepada AS belum menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Biden.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed