SANTRI ANTARA TRADISI DAN MODERNITAS

Saya mungkin bisa dicap sebagai “natural born santri” karena sejak usia 7 tahun sudah dijebloskan ke pondok pesantren. Dalam lingkungan kecil itulah masa kanak dan remaja saya diganti dengan aturan-aturan yang sangat ketat.

Santri adalah sebutan Indonesia untuk pelajar agama. Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang mendidik para siswa agama yang semula hanya diajarkan ilmu-ilmu agama seperti fiqh dan ushul fiqh serta ilmu-ilmu penunjangnya seperti nahwu, sharf dan i’lal.

Kini santri bukan lagi pelajar agama yang hanya mengerti ilmu-ilmu agama, tapi dibekali dengan “ilmu-ilmu dunia” yang terhimpun dalam positivisme, bahkan mengikuti pola formal dan modern.

Ia juga dulu adalah sebutan untuk komunitas relijius dalam masyarakat Jawa yang berpasangan dengan abangan dan priyai sebagaimana dijelaskan oleh beberapa sosiolog terkemuka, Clifford Geertz, dalam The Religion of Java. Tentu pandangan ini tak menjadi basis analisa yang final. Ada banyak ahli yang menggugat teori Greetz, seperti Harry J Benda dan Deliar Noer. Hingga saat ini polemik seputar santri dan kontruksi sosiohistoris umat Islam di Jawa dan Nusantara masih berlangsung.

Santri tak lagi identik dengan keluguan, kultus, sketisme dan ortodoksi tapi telah mengalami transformasi multidimensi dengan efek positif dan negatifnya. Gus Dur adalah santri yang berhasil menduduki posisi tertinggi di Republik ini. Ia adalah perintis modernisasi santri.

Santri sangat menentukan dalam masyarakat. Ketika menjadi penghilang dahaga umat kepada ajaran agama yang menyejukkan, ia adalah oase. Saat menjadi penganjur intoleransi, ia adalah napalm.

Selamat Hari Santri…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed