SAS

Dia adalah salah satu doktor alumnus perguruan tinggi Saudi yang sakti alias kebal dari wahabisasi. Masyarakat umum mengenalnya sebagai agamawan pelanjut pemikiran Gus Dur. Selama beberapa tahun dia memimpin sebuah ormas besar yang telah menetapkan jargon ‘kembali ke khittoh’ dan mundur dari gelanggang politik praktis.

Saya cukup mengenalnya karena sempat menjadi mahasiswanya 10 tahun silam di program doktoral UIN Syahid Ciputat. Meski bicara tentang zuhud dan asketisme, penampilannya necis. Mungkin karena itu, dia kerap mengklarifikasi makna zuhud yang dipahami salah sebagai pola hidup ‘kumus-kumus’. Gaya komunikasinya bercitarasa ndeso, egaliter, tak pelit senyum dan santai bahkan cenderung melawan aturan formal. Secara umum, dia adalah pribadi yang cukup menyenangkan. Sebagai pemikir, namanya layak masuk Hall of Fame di Nusantara.

Pengetahuannya yang mendalam tentang sufisme dan latarbelakang kesantrian serta interaksi sosialnya yang luas membentuk sikapnya yang inklusif dan toleran. Dia tak hanya toleran dalam standar umum. Dia cukup ekspresif menjelaskan argumen-argumen keagamaan dan rasional sembari menggelar aneka referensi klasik di balik sikap tolerannya di hadapan pihak-pihak internal ormasnya yang sebagian tertular intoleransi. Akibat pandangan dan sikapnya itu, dia selalu jadi gawang tuduhan. Beruntung, ada sosok legendaris tanpa tanding, Gus Dur, yang selalu membelanya. Berkat pembelaan itu, dia bisa bertahan dan pada akhirnya bisa menjadi orang nomer satu di ormasnya.

Belakangan ini namanya kembali mencuat dan menjadi buah bibir terutama di kampung medsos, bukan karena pernyataan-pernyataannya yang toleran tapi karena disangkutkan dengan isu politik super sensitif, gonjang ganjing jelang pengumuman nama cawapres Jokowi.

Manusia punya satu jiwa dengan aneka fakultas. Itulah yang memproduksi pikiran dan memanage prilaku serta sikapnya. Manusia secara umum punya diri personal dan diri impersonal.

Personalitas manusia kadang beragam yang masing-masing menganut sistem otonom dalam bertindak. Paling tidak, manusia modern punya dua kepribadian; real dan virtual, dalam kesendirian dan dalam arena publik. Bila menyadari kompleksitas kepribadian dalam diri sesorang, kita bisa mengambil sikap yang berbeda terhadap seseorang sesuai dengan kepribadiannya.

Entah apa yang membuat agamawan Gusdurian ini, tiba-tiba masuk ke dalam arena politik yang bisa menmbulkan kontroversi dengan mendukung sosok cawapres yang secara fenomenal tak selaras dengan pandangannya yang toleran.

Terlepas dari itu semua, meski mungkin tak mendukung atau bahkan kecewa terhadap diri seseorang sebagai politikus, tak berarti tak mengagumi dan menghormatinya sebagai pemikir Muslim yang toleran dan agamawan inklusif serta pemimpin sebuah ormas besar di Indonesia.

Saya tetap respek kepadanya karena keberaniannya menolak penyesatan Syiah sejak sebelum menjadi pemimpin ormasnya. Semoga tetap konsisten dalam sikap tolerannya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed