Skip to main content

Saya, Marjane Satrapi, Nurul Arifin dan Rieke ‘Oneng’

By December 16, 200711 Comments

sama-oneng2.jpg

Saya termasuk ‘dai swasta’ yang ga laku, apalagi tampil bersama artis. Tapi, saya pernah punya sedikit pengalaman berkenalan dan berbincang dengan artis wanita.

persepolis.jpg

Karena itu saya sangat terkejut ketika Penerbit Gramedia meminta saya menjadi pembicara dalam diskusi sastra dan bedah buku novel grafis ‘Persepolis’ karya Marjane Satrapi. Alasannya ialah grogi. Bayangkan saya disandingkan dengan artis plus aktivis perempuan, Nurul Arifin, dan Radar Panca Dhahana (semoga tidak salah sepllingnya). Wah, saat pertama kali didaulat untuk duduk di sofa di hadapan para peserta diskusi, saya bingung apakah saya harus menjabat tangannya saat si artis menjulurkannya ataukah saya mesti mengangguk saja sebagaimana layaknya seorang usatdz. Karena diundang sebagai budawayan atau pengamat sastra, bukan ustadz, saya pun harus mengambil sikap yang agak elastis. Untungnya, gak ada teman sesama korp yang hadir saat itu, he he…

4marjane-satrapi.jpg

Alhamdulillah, diskusi dan bedah buku itu berjalan lancar. Rupanya si artis yang selalu memakai kacamata ini tidak terlalu pede, karena ia diundang sebagai aktivis perempuan, bukan sebagai artis. Nurul yang ceria dan ramah lebih memberikan kesempatan kepada mas Radar, sastrawan lulusan sorbone dan saya untuk adu jotoh argumen soal perlu tidaknya batasan untuk sastra. Mungkin karena tidak ingin tekesan sebagai ‘pemanis’, Nurul sesekali berbicara tentang pentingnya penghargaan terhadap karya perempuan.

Selanjutnya adalah duel seru antara saya dan Radhar. Dia, sebagaimana sastrawan liberal lainnya, bersikeras bahwa sastra tidak bisa dibatasi, termasuk karya Marjane Satrapi, yang diakuinya vulgar menggambarkan prilaku perempuan Iran yang anti Republik Islam Iran. Saya menganggap pendapatnya sebagai sesuatu yang paradoksal. Ketika menyatakan bahwa sasatra tidak perlu dibatasi, maka dia secara tidak sadar telah melakukan suatu pembatasan. Saya katakan, bila sastra tidak bisa dibatasi oelh rezim metode dan definisi serta etika, maka sebaiknya kritik sastra dan metodologi sastra dibuang, dan fakultas sastra di perguruan tinggi dibubarkan. Diskusi berjalan seru meski tetap diselingi dengan guyonan-guyonan.

Sedikit info tentang Marjane Satrapi, dia adalah penulis kelahiran Iran yang secara formal beragama Kristen. Barat sangat memuji karya-karyanya dan menggapnya sebagai terobosan baru dalam penulisan, disebut novel grafis. Ia tidak hanya menuturkan cerita dengan ilustrasi verbal, namun juga mengungkapkannya secara visual. Secara singkat, karyanya adalah paduan novel konvensional dan komik modern. ‘Persepolis’ telah menjadi novel best seller di Amerika dan hollywood beberapa waktu yang lalu telah meluncurkan film animasinya. Isi novel-novel Satrapi tentu bertentangan dengan sebagian fakta objektif di Iran. ‘sebuah sketsa kecil dalam kanvas yang luas.” Itulah kesimpulan saya pada akhir bedah buku. Dukungan Amerika dan Barat terhadap karya ini lebih didasarkan pada tendensi politik, ketimbang seni dan sastra, menurut saya. Itulah pengalaman pertama saya berbincang dan berkenalan dengan artis.

Pengalaman kedua saya akan terjadi pada besok (Senin). Jumat lalu seseorang yang mengaku sebagai staf Trans tv menghubungi saya. Ia meminta saya tampil di acara GOOD MORNING pada pukul 009.00 pagi Senin (17 Desember 2007) yang dipandu oleh Rieke Diah Pitaloka, artis yang juga istri teman saya, Donny Gahral, si filosof muda UI. Karena sedikit terkejut dan tidak menduga, saya tidak sempat menanyakan dari mana tahu nama saya dan alasan mengundang saya. Dugaan saya, mungkin saya jadi cadangan karena ustadz-ustadz langganan tivi pada naik haji sebagai pembimbing. Saya tidak langsung mengiayakan sambil memintanya menghubungi saya dua jam lagi. Saya tawarkan job ini kepada adiknya, Ibrahim yang menurut saya lebih layak tampil depan kamera, apalagi saya terikat kerja pada senin sampai jumatTapi dia menolak dan bahkan mengatakan bahwa saatnya saya untuk mau tampil di teve.

Yang jelas, saat tulisan ini dibuat (Minggu 16 Desember), saya sedang mempersiapkan beberapa bahan dari buku-buku agama tentang hukum dan hikmah berkurban pada hari Idul Adha. Karena diundang sebagai dai dan ustadz, pihak Trans TV meminta saya mengenakan busana yang jarang saya pakai, yaitu baju koko dan peci. Mudahn-mudahan saja saya tidak kedodoran dan demam kamera. Yang lucu ialah lokasi shooting acara live ini adalah kandang kambing di sebuah tempat di Jakarta.