SAYYID DAN KETURUNAN ARAB

Pernah masuk toilet umum dan menemukan jejak orang biadab sebelumnya? Karena tak ingin dituduh meninggalkan jejak oleh pengantri berikutnya terpaksa melenyapkannya?

Situasi seperti inilah yang dhadapi sebagian habib terkait ulah seorang habib yang membuat banyak orang tak hanya tak menghormati dan tak memperlakuan habib sejajar dengan selain habib namun menghujat semua habib. Saya lupa berapa banyak artikel seputar habib yang telah saya tulis dan sebarkan.

Efek Pilkada DKI

Kontroversi dan polarisasi politik di tengah masyarakat sejak pilkada DKI yang berlanjut ke pemilu atau pilpres antara kelompok pemuja seorang habib yang identik dengan pernyataan keras yang selalu mengatasnamakan umat Islam, dan kelompok penentangnya yang menganggapnya sebagai biang kegaduhan dan intoleransi.

Kedatangannya dari Arab Saudi setelah beragam kasus yang menerpanya ke Tanah Air menimbulkan gejolak karena dijadikan oleh pihak-pihak penentang Pemerintah, termasuk kelompok gerakan terlarang yang mengusung khilafah sebagai mobilisator masa dan pernyataannya yang memuat ujaran kebencian dan kata tak senonoh dalam acara Maulid telah menimbulkan reaksi keras yang sebagian lepas kontrol karena beraroma sentimen rasial. Ini seolah melengkapi kekesalan sebagian masyarakat penentang politik identitas terhadap kemenangan Gubernur DKI saat ini yang tidak lepas dari perannya.

Otokritik

Memperhatikan kualitas dan kuantitas ujaran kebencian yang disebarkan, secara eksesif di media sosial akhir-akhir ini sulit membantah adanya pihak ketiga yang menitipkah agenda adu domba yang bertujuan menciptakan kekacauan dalam skala besar.

Kini keturunan Arab dan habib menjadi bulan-bulan karena ulah satu habib. Perannya dipertanyakan bahkan mulai dinafikan. Status warga keturunan Arab sebagai pribumi diotak-atik dan komitmen nasionalisme diragukan. Ini mulai meresahkan keturunan Arab karena diduga oleh sebagian influencer sebagai pendukung manuver politik si habib tersebut. Karena itu sejumlah tokoh dari kalangan habib yang selama ini aktif menunjukkan penentangan terhadapnya teriak lebih lantang seraya memberikan klarifikasi dan bantahan. Patut disyukuri kehadiran beberapa figur habib terkemuka yang toleran telah menyelamatkan citra baik dzuriyah, seperti Habib Lutfi bin Yahya dan Prof. Quraish Shihab yang disegani oleh umat di Indonesia, juga Abdillah Toha Asseggaf, Alwi Shihab dan beberapa tokoh habib yang dipanggil habib dan tak dikenal habib yang aktif memberikan bantahan secara langsung melalui tulisan dan video.

Karena derasnya arus disinformasi seputar habib, klarifikasi masih terus diperlukan. Salah satu yang perlu diklarifikasi adalah status geneologis para habib atau alawi sebagai bagian dari keturunan Arab ini sekaligus bisa dianggap sebagai autokritik yang edukatif meski mungkin ditentang oleh beberapa anasir konservarif dan mempertahankan pola hidup eksklusif di kalangan mereka.

Bukan Yaman Asli

Akibat tekanan dinasti Umayyah, Abasiyah dan Otoman, alawiyin selalu berpindah-pindah. Setelah tragedi Karbala dan intimidasi-intimidasi lanjutannya, mereka berpencar. Sebagian menetap di Basrah Irak dan hidup temurun di sana. Kemudian salah satu cucu mereka, yaitu Ahmad bin Isa, memutuskan untuk berpindah ke Hadramaut Yaman demi mencari suaka dari kejaran para petugas rezim yang menganggap Ahmad sebagai ikon perlawanan.

Salah satu cucu Ahmad Al-Muhajir adalah Muhammad bin Ali Ba’Alawi yang dikenal dengan Al-Faqih. Ia dilahirkan pada tahun 574 H di Tarim sebuah kota di lembah Hadramaut, Yaman. Ia adalah putera satu-satunya dari Ali bin Muhammad Shahib Mirbath yang menurunkan 75 leluhur kaum Alawiyyin dan sesepuh semua kaum Alawiyyin yang berada di Asia Tenggara. Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, wafat di kota Tarim tahun 653 hijriah (1232 Masehi).

Gelar al-Faqih diberikan karena ia adalah seorang guru besar yang menguasai banyak sekali ilmu-ilmu agama, diantaranya adalah ilmu fiqih. Sedangkan gelar al-Muqaddam berasal dari kata Qadam yang berarti lebih diutamakan. Dalam hal ini, Muhammad bin Ali sewaktu hidupnya selalu diutamakan sampai setelah ia wafat, dan maqamnya yang berada di Zanbal, Tarim sering diziarahi kaum muslimin sebelum menziarahi makam lainnya.

Para alawiyin (sebutan lain para sayyid dan habib) adalah cucu keturunan Al-Faqih Al-Muqaddam yang sebenarnya bukan warga asli Yaman namun pendatang dari Basrah Irak. Artinya, secara historis kedatangan kaum habib ke Nusantara adalah kelanjutan dari hijrah demi hijrah sebelumnya yang berawal dari hijrah kakek mereka dari Mekah ke Madinah. Artinya, keturunan alawiyin (habib) bukanlah penduduk asli Yaman seperti non alawiyin lainnya yang memang Arab dan Yamani asli.

Mestinya para alawiyin tidak menganggap diri mereka sebagai keturunan Arab. Mestinya pula alawiyin tidak diidentikkan dengan etnis Arab. Faktanya yang secara etnis Arab adalah keturunan Arab non Alawiyin.

Di Malaysia setiap warga yang dikenal sayyid ditetapkan secara kultural dan formal sebagian dari etnis Melayu. Nampaknya ini juga berlaku di Aceh. Di Iran juga di India, di daerah-daerah Kurdi dan negara-negara non Arab sayyid tidak dianggap Arab tapi sayid di Irak dan negara-negara Arab dianggap bagian dari Arab. Intinya, status kesayyidan tidak diperlakukan sebagai bagian dari Arab.

Bukan Arab Asli

Nabi SAW disebut “سيد العرب و العجم” (Pemimpin Arab dan non Arab) dalam banyak buku, termasuk dalam kumpulan syair pujian untuk Nabi SAW, Al-Burdah karya Al-Bushiri boleh jadi bukan slogan simbolik semata tapi memiliki dasar yang yang layak ditelusuri.

Secara geneologis garis nasab Nabi SAW berasal dari pasangan suami non Arab dan istri Arab. Faktanya, dia lahir dalam keluarga besar Abdul-Mutthalib, ayah Abdullah dan Abu Talib. Fakta kedua, Bani Abdul-Mutthalib adalah salah cabang Bani Hasyim yang merupakan klan terbesar dalam suku Quraisy bersama Bani Umayyah. Faktanya ketiga, Quraisy adalah suku yang diarabkan (musts’rib) karena pernikahan kedua Nabi Ibrahim AS yang datang dari Babilonia, dengan Hajar, wanita Arab penduduk asli Mekah yang melahirkan Nabi Ismail AS.

Atas dasar itulah, bila ditelusuri nasabnya berasal dari Nabi Ibrahim yang bukan dari ras Arab, Nabi Muhammad bukan dari Arab asli alias musta’rib. Bila dilihat dari Hajar, neneknya yang menjadi ibu Nabi Ismail dianggap Arab karena neneknya adalah wanita Arab, maka Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab.

“Muhammad adalah pemimpin kaum Arab dan Ajam” adalah pernyataan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed