Skip to main content

SBY: Sikap Abstain RI Soal Sanksi atas Iran Independen

By March 5, 2008No Comments

united-nations-security-council-3.jpg

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, abstainnya RI dalam pengambilan voting resolusi DK PBB mengenai program nuklir Iran adalah keputusan yang berdiri sendiri dan dilakukan secara independen dan tidak ada kaitannya dengan tekanan siapa pun atau kepentingan apa pun.


Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, keputusan itu (voting) telah dipertimbangkan sebelumnya dengan baik. Dia menegaskan,voting yang di-ambil pemerintah sematamata bukan untuk menghindari terjadinya kembali interpelasi Iran (oleh DPR) seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.


“Kita sejak awal memandang bahwa ini adalah masalah teknis, bukan masalah politis. Kita selama ini tidak mau agar masalah ini dipolitisasi karena memang masalah ini sarat dengan potensi untuk dipolitisasi,” ujar Dino dalam keterangan persnya di kantor Kepresidenan Jakarta.


Menurut Dino, penilaian pemerintah RI sejak resolusi sebelumnya sudah memiliki kemajuan. Hal itu tercermin dalam laporan Badan Atom Internasional (IAEA). Meski ada satu poin yang masih dikhawatirkan DK PBB bahwa Iran masih terus melakukan pengayaan uranium, dalam berbagai poin lain masih ada lima dari enam program yang dicanangkan IAEA sudah dapat tercapai resolusinya.

Sebagian bear anggota DPR memuji langkah RI. “Kami melihat ada kemajuan dari sikap pemerintah, dimana hanya Indonesia sendiri yang mengambil keputusan abstain,” ujar anggota Komisi I DPR, Abdillah Toha saat ditemui di Gedung DPR, Jalan Gathot Soebroto, Jakarta, Selasa (4/3/2008).

Meski dari sisi komisi I meminta agar Indonesia bukan sekedar abstain melainkan menolak, tetapi sikap ini sudah bisa dikatakan sebagai prestasi tersendiri. Sebab, lanjut Toha, tidak ada alasan apapun atas sanksi baru yang akan diberikan untuk Iran.

“Ini bisa dikatakan sebuah prestasi juga,” katanya.

Selain Indonesia, tiga Negara seperti Vietnam, Afrika Selatan dan Libya juga mendapat tekanan keras dari luar negeri agar turut memberikan dukungan atas sanksi yang akan diberikan kepada Iran. Namun, ketiga negara itu akhirnya luluh dan terpaksa mendukung pemberian sanksi itu.

“Karena memang tekanan-tekanan dari negara luar sangat besar. Sedangkan Indonesia tetap memilih abstain. Saya rasa itu prestasi tersendiri bagi kita,” tukasnya lagi.

Sementara sebagian anggota DPR masih menyesalkannya. Anggota Komisi I DPR Effendy Choirie menyesalkan sikap abstain pemerintah Indonesia atas Resolusi DK 1803 PBB. Resolusi tersebut menjatuhkan sanksi tambahan untuk program nuklir Iran.

“Diplomasi kita ini banci. Kita tahu Iran adalah negara yang tidak salah, butuh dukungan. Sebagai negara yang berdaulat, mestinya kita punya sikap untuk tanggapi hal ini, Itulah kalau namanya diplomasi letoi, kelaminnya tidak jelas. Diplomasi ini cerminan menteri luar negeri kita (Hassan Wirajuda) dan presiden (SBY),” ujar Effendy Choirie, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa. (4/3/2008). (okezone)