SEBELUM MEREMEHKAN KEYAKINAN LAIN

Beberapa bulan lalu seorang agamawan mencoba memperkuat keyakinan umat penggemarnya dengan meremehkan agama lain di atas panggung dalam lontaran kritik serampangan terhadap teologi Kristen.

Tentu teologi Kristen dan teologi Islam berbeda, namun itu tak berarti tak ada benang merah teologis yang menghubungkannya.

Tapi sebelum menilai keyakinan orang lain, ada baiknya membekali diri dengan pengetahuan agar tak mempermalukan diri sendiri dan mempertajam kebencian sektarian.

Sebagian besar penganut agama lain menganggap Kristen meyakini adanya banyak Tuhan. Tapi mungkin kita perlu memperhatikan teks-teks sebagai berikut:
1. “bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Markus 12:32)
2. “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4 :8)
3. “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4: 8 ).
4. Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4 :8)
5. “…bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Markus 12:32)
6. “Benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Markus 12:32)
7. “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (Markus 12:28-30)
8. Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. (Lukas 1: 46-47)

Bunyi teks Bible diatas mungkin bagi sebagian orang terbaca aneh, karena sebagian besar penganut agama lain menganggap Kristen meyakini Jesus sebagai salah oknum dalam pribadi Tuhan. Tapi ada baiknya memperhatikan teks-teks sebagai berikut:
1. “Jesus berseru kata-Nya:”Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya.kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku. (Yohanes 12: 44).
2. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17: 3).
3. “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” (Yohanes 7:28-29)

Tentu teologi Islam menolak ilustrasi apapun bagi Tuhan ternasuk posisi “Bapa” dan anak dalam teologi Kristen. Islam juga meyakini Jesus atau Isa sebagai sebagai utusan utama Tuhan yang digelari “Ruh Allah”, bukan anak dalam makna sejati maupun kiasan. Tapi perlu diketahui bahwa Kristen membedakan arti “bapak” yang berlaku inklusif dan “Bapa” yang berlaku eksklusif dengan makna “penghormatan simbolik” dalam doktrin dan sabda-sabda yang dinisbatkan kepada Isa, bukan Bapak biologis dan genetik. Sedangkan “anak” dan “putera” digunakan untuk memaknai kekasih, penolong dan beriman kepada-Nya. Inilah titik pebedaan antara teologi Kristen dan teologi Islam.

Selain kesamaan-kesamaan fundamental diatas, yang perlu diketahui ialah bahwa dalam teologi Kristen terdapat aneka mazhab. Semuanya bermuara kepada unitarianisme dan tritarianisme.

Unitarianisme adalah salah satu sub-denominasi Protestan dalam teologi kekristenan. Unitarian adalah suatu ajaran yang menekankan ketunggalan Allah. Ajaran Unitarianisme menolak doktrin Trinitas yang mengatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi (Bapa, Ruh Kudus dan Jesus) yang menjadi satu.

Bagi Unitarianisme, Yesus adalah manusia agung dan seorang nabi Allah dengan mujizat yang luar biasa. Mazhab ini juga menganggap Maryam adalah makhluk dan hamba yang suci, bukan oknum ketuhanan.

Penganut agama lain, termasuk saya yang beragama Islam, tentu menolak pandangan-pandangan dalam teologi Kristen yang dianggap irrasional. Tapi itu juga bisa ditemukan berserakan dalam literatur teologi yang ditulis para teolog Muslim.

Berangan-angan mengugurkan sebuah teologi yang dibangun sejak Aquinas, Anselmus dan para filsuf Skolastik hanya dengan argumen asal-asalan, bisa sangat memalukan, juga menambah kegaduhan.

Tulisan sederhana ini hanyalah isyarat kecil bahwa sibuk dengan keyakinan sendiri lebih baik dari sibuk dengan keyakinan lain, apalagi tidak cukup bekal untuk membicarakannya, lebih-lebih mengggugat atau mengkritiknya.

Tiba satnya mensyukuri karunia akal sehat dan menyudahi kebodohan, kebencian dan intoleransi seraya merawat Indonesia yang dihuni oleh semua penganut agama. Enjoy your faith.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed