SEGITIGA IBRAHIMISME : SEBUAH PANDANGAN REKONSILIATIF

“Setiap penganut agama apapun takkan rela kepadamu sampai kamu yang menganut selain agamanya mengikuti agamanya.” (Al-Baqarah : 120)

Bila direnungkan dengan adil, jujur dan tenang, mestinya memperkenalkan dan menawarkan keyakinan yang dianggap benar kepada penganut keyakinan lain adalah sesuatu yang lumrah. Dengan kata lain, motivasi mengajak orang lain menganut sesuatu yang diyakini baik dan benar adalah sesuatu yang manusia bahkan positif bila didasakan niat baik dan tulus dengan cara yang elegan dan jujur. Pemaksaan dan agresi atas nama simbol agama apapun pada umumnya bermotif meraih atau mempertahankan kekuasaan dan kekayaan. Konon, pemerintah Hindia Belanda pernah mendukung kristenisasi di Indonesia demi menguatkan penjajahan.

Banyak orang menganggap teks ayat di atas sebagai dasar dan alasan untuk mengeneralisasi permusuhan teologis kepada para penganut agama lain, Yahudi dan Nasrani. Banyak pula orang mengutip ayat ini sebagai dasar anggapan bahwa agama orang Kristen lebih dekat dengan Islam daripada agama orang Yahudi. Anggapan ini tidak logis karena, sebelum distorsi sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat suci lain, Yahudi dan Nasrani sama-sama ajaran Tuhan dan para nabi-Nya adalah sama dalam kepercayaan dan prinsip-prinsipnya. Ayat 19 dalam surah Ali Imran menegaskan hal itu, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.”

Dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang mengundang kontroversi penafsiran antara yang toleransi tanpa logika dan intoleransi tanpa logika “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.

Syekh Jawad Mughniah dalam kitab tafsir Al-Kasyif karyanya, berpendapat, fenomena ketimpangan sosial akibat monopoli ekonomi warga Mekah oleh kaum elit musyrikin dan konglomerat Yahudi di Madinah merupakan latar belakang historis (sabab nuzul) ayat 82 dalam surah Al-Maidah ‘

Permusuhan orang-orang Yahudi dan kaum musyrik terkait erat dengan bentrokan antara karakteristik dakwah Islam dan sistem yang berlaku di Semenanjung Arab. Sistem ini didasarkan pada perlombaan untuk mendapatkan uang dan budak melalui penjarahan, riba dan penipuan, dan alasan lain untuk penindasan dan penipuan. Karakter sistem sosial kapitalistik ini tercermin pada kelompok politeis Mekah yang mengendalikan perdagangan luar negeri, sebagaimana tercermin pula pada para pemimpin Yahudi di Madinah yang Mereka mengendalikan industri dan perdagangan domestik.

Dakwah Nabi Muhammad SAW yang menyerukan keadilan, dan menolak ketidakadilan dan eksploitasi dalam semua bentuknya merugikan kelompk bojruis Yahudi yang menguasai perekonomian Madinah.

Dengan kata lain, permusuhan orang-orang Yahudi dan kaum musyrik terhadap kaum Muslim bermotif duniawi, bukan keagamaan, namun dibungkus dengan klaim agama. Karena itu dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Ayat di atas memuat peringatan bersifat kepada kaum beriman agar waspada berdasarkan sebuah fakta khusus permusuhan orang-orang Yahudi di Madinah dan kaum Musyrikin di Mekah karena motivasi oligarki.
2. Ayat di atas tidak bisa dijadikan sebagai dasar justifikasi keagamaan untuk memusuhi orang-orang Yahudi dan kaum musyrik karena agama dan keyakinan yang dianutnya.
3. Ayat di atas tidak bisa dijadikan sebagai dasar mengunggulkan sebuah ajaran suci atas ajaran suci lainnya;
4. Ayat di atas tidak bisa dijadikan dasar menilai negatif sebuah agama karena perilaku negatif penganutnya atau orang yang mengklaim sebagai penganutnya.

Sambungan ayat tersebut berbunyi “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga.) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Ayat di atas juga diturunkan dengan sebuah fakta partikular yang menjadi latar belakangnya. Ketika sekelompok orang-orang musyrik Mekah dan orang-orang Yahudi Madinah menguasai ekonomi masyarakat dengan monopoli dan oligarki, justru orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Nasrani di bawah bimbingan para pendeta justru bersikap rendah hati. Karena itu, mereka lebih dekat dari orang-orang Yahudi dan musyrikn sebagaiman disebutkan dalam ayat tersebut.

Tentu, sebagaimana orang-orang Muslim menolak generalisasi negatif terhadap Islam dan seluruh umat Muslim karena ulah negatif sejumlah Muslim, sikap toleran orang-orang Kristen dalam peristiwa yang dikutip oleh ayat tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dasar generalisasi penilaian positif terhadap semua orang Kristen karena itu tidak adil.

Tanpa melakukan generalisasi penilaian subjektif terhadap agama dan ras Yahudi juga para penganut Kristen, di zaman modern ini ada fakta dua entitas negara yang membawa-bawa nama agama. Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa dipimpin oleh orang-orang yang mengklaim beragama Kristen dan menjadikannya sebagai dasar justifikasi tindakan-tindakan hegemoniknya. Sekelompok pelancong Yahudi mendirikan sebuah rezim rasis yang mendirikan sebuah negara dengan klaim superioritas agama dan ras Yahudi di atas tanah Palestina yang dihuni oleh mayoritas pemeluk Islam dan Kristen.

Orang-orang rasional dari umat Islam, karena menghindari generalisasi penilaian negatif membedakan Yahudi sebagai agama, ras dan negara penjajah Palestina bernama Israel dalam pemaknaan dan penyikapan.

Dengan kata lain, sebagai Muslim rasional mungkin kita perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Memperlakukan agama Yahudi sama dengan Kristen sebagai ibrahimik yang merupakan suci Allah sebelum Nabi Muhammad SAW diutus dan meskipun umat Islam menganggapnya mengalami distorsi. Tentu saja umat Yahudi dan Kristen menolak anggapan distorsi ini.
2. Mengakui hak manusiawi ras Yahudi sebagaimana ras lainnya tanpa diskriminasi.
3. Mengecam perampasan tanah Palestina oleh siapapun. Kecaman ini tidak didasarkan kepada kebencian terhadap agama dan ras Yahudi tapi didasarkan pada prinsip anti penjajahan dan rasisme yang menjadi esensi Zionisme.
4. Mengecam pencatutan nama agama dan ras Yahudi bagi sebuah rezim penjajah dan negara fiktif.
5. Mengakui hak kewargaan orang-orang penganut agama Yahudi dan ras Yahudi di Palestina sebelum okupasi.
6. Mengecam politik standar ganda Pemerintah AS yang kerap mengeksploitasi simbol Kristen demi kepentingan imperialistiknya.

https://t.me/ArsipChannel_Tulisan_ML

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed