SEKELUMIT SEJARAH PERJUANGAN DAN KESYAHIDAN IMAM MUSA KAZHIM

Imam Al-Kadhim AS sejak sebelum menjadi imam mengalami ragam penindasan yang dilakukan oleh otoritas Abbasiyah terhadap Bani Hashem, terutama Ahlulbait di antara mereka. Dia menyaksikan bagaimana Al-Mansour memperlakukan sepupunya, anak-anak Al-Hasan dan Al-Husain, dan bagaimana mereka menjadi sasaran penyiksaan fisik di tangannya.

Al-Mansur adalah salah satu khalifah yang dikenal bengis dan dan sadis terhadap para penentangnya. Al-Suyuti menyebutkan dalam bukunya “Tarikh Al-Khulafa” bahwa dia kerajaannya berdiri di atas jasad-jasad korban pembantaiannya.

Dan salah satu seni penyiksaannya adalah memasukkan setiap penentangnya ke dalam bangunan tertutup tanpa setitkpun lubang cahaya dab udara hingga mati perlahan akibat kehabisan oksigen di dalamya.

Kekejian demi kekejian Almansur berpuncak pada pembunuhan ayahnya, Imam al-Sadiq, dengan racun pada tahun 148 H. Imam Kazhim menghadapi semua peristiwa ini dengan kesabaran, keteguhan dan ketenangan.

Imam Musa mengambil alih kendali imamah setelah ayahnya, yang menjadi martir pada tahun 148 A.H., di bagian terakhir hidup Al-Mansour, yang meninggal pada tahun 158 A.H. Dia juga hidup sezaman dengan khalifah yang menggantikan Mansur, yaitu Al-Mahdi, Al-Hadi, dan Al-Rasyid.

Al-Mansur, setelah membunuh Imam al-Sadiq AS memperlihatkan sikap lunak sambil terus memantau, Imam al-Kazim dan mengikutinya.

Imam Kazim menginvestasikan kesempatan tersebut untuk mengabdikan dirinya di Madinah dalam menyebarkan ilmu dan ajaran Islam dari sumber Ahlulbait.

Khalifah Al-Mahdi setelah menggantikan Al-Mansur pada tahun 158 A.H memenjarakan Imam Kazhim namun tak lama kemudian membebaskannya karena mimpi yang dialaminya.

Banyak sejarawan melaporkan bahwa suatu hari dia bangun dengan ngeri dari tidurnya, dan dia mengirim ke menterinya Al-Rabee ‘dan memerintahkan dia untuk membawa Musa bin Jaafar [SAW], sebagaimana dikutip Assuyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa bahwa ketika Imam Kazhim datang, Mahdi berdiri dan memeluknya lalu mempersilakannya duduk. Kepada Al-Kazhin dia menceritakan mimpinya. Dia berkata bahwa dia melihat Imam Ali bin Abi Thalib AS, membacakan ayat ini kepadanya “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS. Muhammad: 22). Selanjutnya Al-Hadi meminta imam Kazhim berjanji tidak melakukan penentangan terhadap dia dan anak-anaknya. Setelah meyakinkannya bahwa politik saat ini bukan fokus perhatiannya dan dia tak memikirkan penentangan, Imam Kazhim dibebaskan dan dikembalikan ke keluarganya di Madinah.

Era Mahdi berlalu dan putranya Al-Hadi mengambil alih kekhalifahan, yang, seperti ayahnya, mengadopsi metode kekejaman dan metode pembunuhan. Meskipun ada seruan untuk memimpin revolusi dan aksi pemberontakan, Imam Musa bin Jaafar menolak karena tahu bahwa ajakan adalah rekayasa jebakan rezim yang akan menyebabkan lebih banyak penganiayaan atas pengikutnya bukan untuk merobohkan rezim Abbasiyah.

Salah satu konsekuensi dari kegagalan aksi ini adalah isu dan tuduhan rezim Abbasiyah terhadap imam Kazhim sebagai dalang provokasi dan aksi pemberontakan. Karena inilah imam Kazhim dipenjarakan beberapa kali, kemudian diancam dengan hukuman mati meski tak dilaksanakan.

Pemerintahan Al Hadi tidak berlangsung lama. Saudaranya Harun al-Rashid mengambil alih. Era Al-Rasyid adalah masa yang sangat sulit bagi Imam Kazhim dan para pengikut Ahlulbair.

Para sejarawan melaporkan bahwa masa berkuasanya al-Rasyid adalah hari-hari terburuk bagi Imam Kazhim. Dia berulang kali dipenjarakan dan dibebaskan sebelum penyekapan terakhir yang dialamibya di sel bawah tanah tanpa setitik cahaya dan lubang hingga beliau gugur sebagai syahid secara perlahan dalam kondisi yang mengenaskan akibat racun yang telah menjalari seluruh aliran darah dalam tubuhnya. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Kisah ini telah dilaporkan dalam Al-Kafi, Al-Manqab, dan Bihar Al-Anwar.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed