SEKULARITAS YANG BERADAB

Saya datang ke Hongkong atas undangan para mukminat WNI yang menganut mazhab Ahlulbait untuk menjadi narsum dalam peringatan Asyura yang dilaksanakan pada 23 September karena mereka yang bekerja sebagai PRT hanya bisa berkumpul pada hari Ahad.

Karena jamaah yang mengundang adalah emak-emak, dan demi melancarkan komunikasi dengan mereka, saya mengajak Nyonya Labib untuk mendampingi saya selama menjadi tamu di negara “aseng” ini.

Puji Tuhan. Tak ada sedikitpun masalah dalam perjalanan ini. Semuanya berjalan lancar meski suara saya serak akibat lelah dan terkuras saat ceramah pada malam-malam Muharam dan orasi di Asyura di GBK Jakarta Kamis. Penjemput kami adalah Mr. sayed Reza, warga Pakistan, seorang akuntan profesional yang menjadi donatur dan pengelola Husainiyah “Madrasah Madinatul Ilmi”, pusat kegiatan keagamaan Ahlul Bait di Hongkong. Beliau didampingi oleh Mba Atika dan Mba Mardiah, wakil para mukminat WNI yang mengundang saya.

Pada hari Minggu peringatan Asyura dilaksanakan. Sekitar pukul 9 pagi para mukminat yang berbusana serba hitam, sebagian mengenakan bando bertuliskan Ya Husain, mulai berdatangan. Saat Husainiyah di lantai 7 apartemen ini mulai padat, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Quran lalu dilanjutkan dengan ma’tam dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Para mukminat tampak larut dalam duka. Mereka menangis seraya menepuk dada. Pukul 10 saya memberikan ceramah hingga kira-kira pukul 11.20 dilanjutkan hingga pukul 12.00 dengan ma’tam. Usai makan siang dan shalat dhuhur dan asar, saya dipersilakan membaca narasi tragedi Karbala (maqtal) selama kira-kira 1 jam. Para mukminat sangat larut dalam tangisan panjang hingga pembacaan doa ziarah sebagai penutup acara oleh Sayyed Reza petang jelang magrib.

Usai melaksanakan shalat magrib dan makan malam bersama, acara tanya jawab dan perbincangan santai dimulai. Dari perbincangan santai dengan para mukminat WNI usai melaksanakan Asyura di Husainiyah Madinatul Ilmi di distrik Yaomatei Kowloon, saya dapat disimpulkan bahwa masyarakat Hongkong sangat toleran, dermawan dan beradab.

Hongkong yang sangat modern dan tak relijius membuat para pembantu RT dari Indonesia yang beragama Islam merasa sangat dihargai oleh Pemerintah Hongkong yang menegakkan hukum secara adil. Cerita-cerita mereka tentang majikan di rumah tempat bekerja terdengar menyenangkan. Tak jarang para pembantu diperlakukan sebagai anggota keluarga dengan hak setara.

Imej saya tentang etnik Cina yang sudah mulai berubah positif sejak Ahok menjadi gubernur DKI kini makin positif. Saya yakin imej negatif ini terbentuk karena mindset intoleransi yang menjangkiti banyak orang secara temurun karena kebencian dianggap sebagai doktrin agama.

Pengalaman ini dan lainnya telah menciptakan transformasi perspektif dalam pandangan saya terutama tentang sekularitas dan relijiusitas. Saya berpandangan bahwa sekularitas di negara tertentu justru membuat masyarakat toleran, ramah dan beradab.

Saya masih punya tugas keagamaan pada Selasa besok yang kebetulan menjadi tanggal merah di HK. Itu artinya, saya dan isteri punya waktu cukup pada Senin untuk menjadi pelancong di negeri Jacky Chan ini. Beberapa kaos T-Shirt bertuliskan Hongkong dan cokelat kami beli sebagai oleh-oleh untuk anak-anak.

Bersambung…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed